CANTUMKAN SUMBERNYA JIKA MENGGUNAKAN GAMBAR ATAU ARTIKEL DARI BLOG INI - HORMATI HAK CIPTA ORANG LAIN.

Sabtu, 02 Agustus 2008

Persilat (Persekutuan Pencak Silat Antara bangsa)

Image result for persilat
Dengan kerja keras PB IPSI di bawah kepemimpinan Mayjen TNI Eddie Marzuki Nalapraya serta dukungan pemerintah dan Presiden Soeharto sebagai Pembina Utama saat itu, IPSI dengan cepat menyebar luas ke dalam maupun ke luar negeri. Kehadiran IPSI sudah menjadi bagian dari Pemerintah Daerah. Pada tanggal 7-11 Maret 1980 di Jakarta telah berlangsung pertemuan antar negara, yaitu Indonesia, Malaysia dan Singapura serta peninjau dari Brunei Darussalam untuk pembentukan federasi internasional pencak silat. Musyawarah dilakukan di Anjungan Jawa Barat, Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta. Hasil musyawarah ini adalah peresmian berdirinya Persilat (Persekutuan Pencak Silat Antarabangsa). Sebagai Ketua Presidium Persilat ditunjuk Mayjen TNI Eddie Marzuki Nalapraya yang saat itu juga menjabat sebagai Ketua Umum PB IPSI. Dan untuk membantu dia, sebagai Sekretaris Jenderal ditunjuk Oyong Karmayuda, SH.
Image result for persilat

Disepakati pula untuk menetapkan keempat negara pendiri sebagai sumber pencak silat, yaitu :
1.   Indonesia : IPSI (Ikatan Pencak Silat Indonesia)
2.   Singapura : Persisi (Persekutuan Silat Singapura)
3.   Malaysia : Pesaka (Persekutuan Silat Kebangsaan Malaysia)
4.   Brunei Darussalam : Persib (Persekutuan Silat Kebangsaan Brunei Darussalam)
Selain Anggota Pendiri, Persilat memiliki Anggota Berserikat (organisasinya telah diakui oleh instansi pemerintah negara yang bersangkutan) dan Anggota Gabungan (bertaraf perguruan dan belum diakui oleh instansi pemerintah negara yang bersangkutan).
Sampai pertengahan tahun 2006, pencak silat telah menyebar di 28 negara dan telah diwadahi dalam organisasi-organisasi pencak silat sebagai berikut :
1.   Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI)
2.   Persekutuan Silat Singapura (Persisi)
3.   Persekutuan Silat Kebangsaan Malaysia (Pesaka)
4.   Persekutuan Silat Kebangsaan Brunei Darussalan (Persib)
5.   Pencak Silat Association of Thailand (PSAT)
6.   Ikatan Pencak Silat Vietnam (Isavie)
7.   Philippines Pencak Silat Association (Philsilat)
8.   Myanmar Pencak Silat Association (MPSA)
9.   Pencak Silat of Laos (PSL)
10. Western Australia Pencak Silat Association (WAPSA)
11. Nederlandse Pencak Silat Bond (NPSB)
12. Japan Pencak Silat Association (Japsa)
13. Federation Espanola Pencak Silat (FEPS)
14. Pencak Silat Verband Oesterreichs (PSVO)
15. Suriname Pencak Silat Association (SPSA)
16. Pencak Silat Federation of The United Kingdom (PSFUK)
17. Pencak Silat Union of Belgium (PSUB)
18. Pencak Silat Union Deutschland (PSUD)
19. Association France Pencak Silat (AFPS)
20. Pencak Silat Switzerland (PSS)
21. Turkish National Pencak Silat Association (TNPSA)
22. Persekutuan Kanada Silat (Perkasa)
23. Palestine Association of Seni Silat (PASS)
24. Yemen Pencak Silat Federation (YPSF)
25. Nepal Silat Association (NSA)
26. Russian Pencak Silat Federation (RPSF)
27. Indian Pencak Silat Association (IPSA)
28. Federazione Italiana Pencak Silat (FIPS)
Tahun 1982 pencak silat mulai dipertandingkan pada tingkat internasional dengan Invitasi Pencak Silat Internasional ke-I di Stadion Senayan, Jakarta. Yang ke-II diadakan tahun 1984 di Jakarta dan yang ke-III tahun 1986 di Wina, Austria. Nama ini kemudian diganti menjadi Kejuaraan Dunia dan diselenggarakan di Kuala Lumpur, Malaysia, tahun 1987. Berikutnya diadakan tahun 1989 di Den Haag, Belanda. Pada tahun 1992 kembali diadakan di Jakarta dan tahun 1995 diadakan di Thailand. Selain Kejuaraan Dunia, pencak silat juga dipertandingkan pada SEA Games.
Sebagai usaha memasukkan pencak silat ke Asian Games, IPSI dan anggota Persilat lainnya telah membentuk organisasi pencak silat Asia Pasific pada bulan Oktober 1999. Pada Asian Games 2002 di Korea Selatan, pencak silat masuk dalam agenda Sport Cultural Event. Sasaran selanjutnya adalah upaya memasukkan pencak silat resmi menjadi cabang olahraga yang dipertandingkan di Asian Games mendatang.

sumber : https://id.wikipedia.org/

Jumat, 01 Agustus 2008

Sejarah Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI)

IPSI.gif

Ikatan Pencak Silat Indonesia
Jenis
Organisasi Pencak Silat
Kantor pusat
Jumlah anggota
Seluruh Indonesia
Ketua Umum
Situs web

Ikatan Pencak Silat Indonesia (disingkat IPSI) adalah induk organisasi resmi pencak silat di Indonesia di bawah naungan KONI(Komite Olahraga Nasional Indonesia). Pencak silat merupakan olahraga seni beladiri yang berasal dari bangsa Melayu, termasuk Indonesia. Jumlah perguruan pencak silat sangat banyak, berdasarkan catatan PB IPSI sampai dengan tahun 1993 telah mencapai 840 perguruan pencak silat di Indonesia. Induk organisasi pencak silat di Indonesia adalah IPSI (Ikatan Pencak Silat Indonesia). IPSI didirikan pada tanggal 18 Mei 1948 di Surakarta, Jawa Tengah.

Sejarah IPSI
Upaya untuk mempersatukan pencak silat sebetulnya sudah dimulai pada masa penjajahan Belanda. Pada tahun 1922 di Segalaherang, Subang, Jawa Barat, didirikan Perhimpunan Pencak Silat Indonesia untuk menggabungkan aliran pencak Jawa Barat yang tersebar di seluruh kepulauan nusantara. Pada masa pendudukan Jepang, Presiden Soekarno pernah menjadi pelindungnya. Upaya serupa juga diadakan di Yogyakarta. Pada tahun 1943, beberapa pendekar pencak silat, yaitu R Brotosoetarjo dari Budaya Indonesia Mataram, Mohamad Djoemali dari Taman Siswa, RM Harimurti dari Krisnamurti, Abdullah dari Pencak Kesehatan, R Soekirman dari Rukun Kasarasaning Badan, Alip Purwowarso dari Setia Hati Organisasi, Suwarno dari Setia Hati Terate, R Mangkupujono dari Persatuan Hati dan RM Sunardi Suryodiprojo dari Reti Ati, mendirikan organisasi yang bernama Gapema (Gabungan Pencak Mataram) untuk bersama-sama menggalang pencak silat yang tumbuh di Kesultanan Yogyakarta. Gapema ini merupakan sebuah batalyon yang seluruh anggotanya adalah pesilat dan turut berjuang dalam perang kemerdekaan Republik Indonesia.

Setelah beberapa tahun, tepatnya pada tahun 1947, di Yogyakarta juga berdiri satu organisasi bernama Gapensi (Gabungan Pentjak Seluruh Indonesia) yang bertujuan mempersatukan aliran pencak silat di seluruh Indonesia. Gapensi didirikan oleh Mohamad Djoemali dari Taman Siswa bersama beberapa tokoh pencak silat, yaitu RM Soebandiman Dirdjoatmodjo dari Perisai Diri, Ki Widji Hartani dari Prisai Sakti Mataram, R Brotosoetarjo dari Budaya Indonesia Mataram dan Widjaja. Meskipun organisasi di Jawa Barat dan Yogyakarta ini bercita-cita nasional, keanggotaannya masih berskala lokal. Untuk itu PORI (Persatuan Olahraga Republik Indonesia), yang kemudian berganti nama menjadi KONI (Komite Olahraga Nasional Indonesia), mengadakan sebuah Konperensi Bagian Pentjak di Solo pada tanggal 2 Juni 1948. Pertemuan tersebut sebelumnya telah diawali dengan rapat pembentukan Panitia Persiapan Persatuan Pencak Silat Indonesia di Solo pada awal tahun 1947 yang diprakarsai oleh Mr Wongsonegoro, yang menjabat sebagai Menteri Pendidikan, Pengajaran dan Kebudayaan. Dari hasil rapat ini dibentuklah panitia IPSI (Ikatan Pentjak Seloeroeh Indonesia) pada bulan Mei 1947 yang diketuai oleh Mr Wongsonegoro. IPSI bernaung di bawah Kementerian Pembangunan dan Pemuda.

Tokoh Pendiri IPSI
Para pendiri IPSI pada tanggal 18 Mei 1948 di Surakarta adalah :
·         Mr Wongsonegoro, Ketua Pusat Kebudayaan Kedu
·         Soeratno Sastroamidjojo, Sekretaris Pusat Kebudayaan Kedu
·         Marjoen Soedirohadiprodjo dari Setia Hati Organisasi
·         Dr Sahar dari Silat Sumatera
·         Soeria Atmadja dari Pencak Jawa Barat
·         Soeljohadikoesoemo dari Setia Hati Madiun
·         Rachmad Soeronegoro dari Setia Hati Madiun
·         Moenadji dari Setia Hati Solo
·         Roeslan dari Setia Hati Kediri
·         Roesdi Imam Soedjono dari Setia Hati Kediri
·         S Prodjosoemitro, Ketua PORI Bagian Pencak
·         Mohamad Djoemali dari Yogyakarta
·         Margono dari Setia Hati Yogyakarta
·         Soemali Prawiro Soedirdjo dari Ketua Harian Persatuan Olahraga Republik Indonesia
·         Karnandi dari Kementerian Pembangunan dan Pemuda
·         Ali Marsaban dari Kementerian Pendidikan, Pengajaran dan Kebudayaan

Dengan didirikannya organisasi ini diharapkan bahwa pencak silat dapat digerakkan dan disebarluaskan sampai ke berbagai pelosok di tanah air sebagai suatu ekspresi kebudayaan nasional. Masyarakat juga mengharapkan bahwa pencak silat distandarisasi agar dapat diajarkan sebagai pendidikan jasmani di sekolah-sekolah dan dapat dipertandingkan dalam even-even olahraga nasional. Sesuai dengan keinginan tersebut, langkah pertama yang diusahakan oleh IPSI adalah terbentuknya suatu sistem pencak silat nasional yang dapat diterima oleh seluruh perguruan pencak silat yang ada di tanah air. Untuk sementara waktu, diadopsikan sebagai standaard system pelajaran pencak silat dasar yang sudah disusun oleh RM S Prodjosoemitro dan diajarkan di sekolah-sekolah di wilayah Solo dengan dukungan Kementerian Pendidikan, Pengajaran dan Kebudayaan Balai Kota Surakarta. Hasil dari usaha standarisasi awal pencak silat ini dipertunjukkan oleh kurang lebih 1.000 pesilat anak-anak dalam demonstrasi senam pencak silat massal pada Pembukaan PON I tanggal 8-12 September 1948 di Solo. Sejak PON I tersebut, pencak silat dilombakan sebagai demonstrasi dalam kategori solo dan ganda, baik tangan kosong maupun senjata. Tidak semua aliran dan perguruan pencak silat sepakat mengenai perlunya organisasi nasional. Ada yang khawatir bahwa dengan penyusunan sistem pencak silat nasional maka persatuan aliran-aliran pencak silat tidak akan terlaksana, bahkan akan terdapat perpecahan karena tiap aliran atau perguruan pencak silat akan mengklaim dirinya yang terbaik. Pada awalnya Gapensi ikut menolak karena anggota panitia IPSI dianggap didominasi oleh anggota perguruan pencak silat Setia Hati. Selain itu, beberapa perguruan pencak silat di daerah Kauman, yang saat ini dikenal dengan nama Tapak Suci, ikut menolak karena Mr Wongsonegoro yang dijadikan Ketua IPSI dikenal sebagai salah seorang tokoh aliran kebatinan. Salah satu anggota Gapensi, yaitu Sukowinadi, kemudian mendirikan organisasi yang bernama Perpi (Persatuan Pencak Indonesia) yang menaungi perguruan pencak silat Benteng Mataram, Mustika, Bayu Manunggal, Bima Sakti dan Trisno Murti. Organisasi baru ini didukung oleh Phasadja Mataram dan Tapak Suci. Persatuan dan kesatuan jajaran pencak silat di Indonesia masih belum benar-benar terwujud dengan adanya berbagai organisasi pencak silat tersendiri di luar IPSI seperti Gapensi, Perpi, Putra Betawi, dan lainnya. Ditambah lagi pada tahun 1950 ketika terjadi pergolakan pemberontakan terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia yang dilakukan oleh kelompok gerakan separatis DI/TII. Panglima Teritorium III, Kolonel RA Kosasih, dibantu oleh Kolonel Hidayat dan Kolonel Harun, pada bulan Agustus 1957 mendirikan PPSI (Persatuan Pencak Silat Indonesia) di Bandung yang bertujuan menggalang kekuatan jajaran pencak silat untuk menghadapi DI/TII yang berkembang di wilayah Lampung, Jawa Barat, Jakarta, Jawa Tengah bagian barat dan DI Yogyakarta. Sesuai dengan wilayah pembinaannya, yang masuk dalam PPSI adalah perguruan pencak silat aliran Pasundan.

Akibat dibentuknya PPSI menimbulkan dualisme pembinaan dan pengendalian pencak silat di Indonesia. Pendekar-pendekar Jawa Barat merasa bahwa kegiatan yang diprakarsai IPSI didominasi Jawa Tengah dan Jawa Timur, tidak mencapai Jawa Barat. Menurut pendekar Jawa Barat tetap diperlukan suatu organisasi khusus untuk mengayomi dan mengembangkan perguruan-perguruan pencak silat yang beraliran Jawa Barat. Pada tahun 1950-an IPSI dan PPSI bersaing berebut pengaruh di dunia persilatan dengan saling banyak mendirikan cabang di seluruh provinsi di Indonesia. PPSI berkembang di daerah Jawa Barat, Lampung dan Jawa Timur bagian timur. Pada tanggal 21-23 Desember 1950 di Yogyakarta diadakan Kongres IPSI II yang memutuskan untuk mengukuhkan organisasi dan menyusun Pengurus Besar IPSI di mana Mr Wongsonegoro diangkat sebagai Ketua Umum, Sri Paduka Paku Alam sebagai Wakil Ketua Umum dan Rachmad sebagai Penulis I. Gapensi dan Perpi ikut bergabung dengan IPSI. Tokoh-tokoh Gapensi dan Perpi menduduki jabatan penting dalam keorganisasian IPSI. RM Soebandiman Dirdjoatmodjo kemudian diangkat sebagai Kepala Seksi Pencak di Inspeksi Pendidikan Jasmani yang berada di bawah Kementerian Pendidikan, Pengajaran dan Kebudayaan Jawa Timur. Pada tahun 1952 dibentuk Lembaga Pencak Silat di bawah Kementerian Pendidikan, Pengajaran dan Kebudayaan. Pada tahun 1953 aktivitas pencak silat dipindahkan dari Jawatan Pendidikan Masyarakat ke Jawatan Kebudayaan. Pada tahun tersebut juga diadakan Kongres IPSI III di Bandung. Demonstrasi pencak silat yang bersifat internasional dalam misi kebudayaan Indonesia dilakukan pada tahun 1955 di Praha, Leningrad, Budapest dan Kairo. Sistem pencak silat nasional yang telah distandarisasi oleh IPSI ternyata belum dapat memenuhi harapan masyarakat, sehingga peralihan pencak silat dari sarana beladiri menjadi sejenis senam jasmani memakan waktu yang cukup lama. Tim ahli teknik IPSI yang terdiri dari pakar-pakar dari berbagai aliran dan perguruan pencak silat mempelajari ratusan kaidah dan gerak kemudian mencoba menyatukan mereka tanpa menghilangkan warna-warni yang khas. Mereka juga harus menyesuaikan sistem pelajaran tradisional pencak silat yang berpatokan kepada jurus (seri atau kumpulan gerakan) dengan prinsip olahraga modern.

Pada tahun 1960, PB IPSI membentuk Laboratorium Pencak Silat yang bertujuan untuk menyusun peraturan pertandingan pencak silat yang baku dan memenuhi kriteria suatu pertandingan olahraga yang dapat dipertandingkan di tingkat nasional. Anggota laborat tersebut terdiri dari Arnowo Adji HKP dari Perisai Diri, Januarno dan Imam Suyitno dari Setia Hati Terate, Mochamad Hadimulyo dibantu Dr Rachmadi Djoko Suwignjo dan Dr Mohamad Djoko Waspodo dari Nusantara. Selain mengalami kesulitan teknis dalam mengembangkan metode dan sistematika olahraga yang dapat diterima oleh semua pihak, IPSI juga mendapat resistensi dari kalangan pendekar tradisional yang enggan menerima pemikiran-pemikiran baru karena tidak menginginkan reduksi pencak silat hanya kepada satu bentuknya, yaitu olahraga. Mereka khawatir bahwa aspek integral yang lain, khususnya aspek seni dan aspek spiritual, akan diabaikan dan tidak dapat dirasakan lagi sebagai unsur-unsur yang saling terkait dalam satu totalitas sosiokosmik. Kesulitan juga datang dari luar dunia pencak silat, karena persaingan yang ketat dari beladiri impor. Antara tahun 1960 - 1966, pada waktu terjadi kemerosotan ekonomi dan politik negara yang turut berdampak terhadap IPSI, beladiri karate dari Jepang secara resmi masuk Indonesia dan dengan tangkasnya memasuki kalangan pelajar dan militer. Pada awalnya, karate dan judo dipraktikkan sebagai olahraga dan dipertandingkan di depan umum. Penerimaan yang positif terhadap beladiri asing, memaksa kalangan pencak silat untuk berpikir dan berbuat lebih baik dalam usaha mengembangkan pencak silat olahraga. Kehadiran karate di Indonesia merupakan cambuk yang benar-benar efektif untuk membangunkan kalangan pencak silat dari tidurnya. Penggeseran konseptual akhirnya terjadi, meskipun beberapa pendekar pencak silat keberatan apabila makna pencak silat sebagai unsur kebudayaan dalam arti luas dipersempit agar aspek olahraga dapat diutamakan. Pada bulan Januari 1961 IPSI dipindahkan dari Jawatan Kebudayaan ke Jawatan Pendidikan Jasmani, kemudian pada tanggal 31 Desember 1967 IPSI turut aktif dalam mendirikan KONI. Jawatan Pendidikan Jasmani menyelenggarakan Seminar Pencak Silat Seluruh Indonesia yang membahas masalah penyusunan cara pertandingan pencak silat nasional. Kemudian dilakukan uji coba pertandingan bebas full body contact di Solo dan Madiun. Pada tahun yang sama berlangsung PON V di Bandung yang juga mempertandingkan pencak silat. Pada tahun 1970-an muncul kerangka konseptual di mana induk-induk olahraga beladiri dianggap sebagai alat pertahanan nasional. Sebagai akibatnya cabang-cabang ilmu beladiri mulai ditempatkan di bawah pimpinan tokoh-tokoh militer. Pada Kongres IPSI IV tahun 1973 di Jakarta, Ketua Umum PB IPSI Mr Wongsonegoro yang saat itu usianya sudah sangat tua diganti oleh Brigjen TNI Tjokropranolo, Gubernur DKI Jakarta. Pada tanggal 20-24 Nopember 1973 diadakan Seminar Pencak Silat III di Bogor, nama Ikatan Pentjak Seloeroeh Indonesia diubah menjadi Ikatan Pencak Silat Indonesia. Dia dengan dibantu oleh beberapa perguruan pencak silat melakukan pendekatan kepada pimpinan PPSI yang akhirnya dalam keputusan Kongres IPSI IV ini PPSI bergabung ke dalam IPSI walaupun masih ada beberapa anggotanya yang tetap bertahan. Kebetulan ketiga pimpinan PPSI satu corps dengan dia di Corps Polisi Militer. Perguruan-perguruan tersebut dianggap telah berhasil mempersatukan kembali seluruh jajaran pencak silat ke dalam organisasi IPSI.

Pada masa kepemimpinan Mayjen TNI Eddie Marzuki Nalapraya, perguruan-perguruan yang ikut aktif dalam memperjuangkan keutuhan IPSI tersebut diberi istilah Perguruan Historis dan dijadikan Anggota Khusus IPSI. Mereka dipandang mempengaruhi sejarah dan perkembangan IPSI serta pencak silat pada umumnya antara tahun 1948 dan 1973 dengan memberikan kontribusi kepada kesatuan pemikiran dalam pembentukan organisasi nasional tunggal pencak silat Indonesia yang diberi nama IPSI, kesatuan tekad untuk mempertahankan IPSI sebagai satu-satunya organisasi nasional pencak silat di Indonesia, kesatuan dukungan untuk menjadikan IPSI sebagai anggota KONI dan kesatuan dukungan untuk memasukkan pencak silat dalam PON sebagai cabang olahraga yang dipertandingkan. Sepuluh Perguruan Historis tersebut adalah :
·         Persaudaraan Setia Hati
·         Persaudaraan Setia Hati Terate
·         Kelatnas Indonesia Perisai Diri
·         PSN Perisai Putih
·         Tapak Suci Putera Muhammadiyah
·         Phasadja Mataram
·         Perpi Harimurti
·         Persatuan Pencak Silat Indonesia (PPSI)
·         PPS Putra Betawi
·         KPS Nusantara

Keputusan Kongres IPSI IV ini juga mengesahkan peraturan pertandingan pencak silat untuk dipergunakan dalam PON VIII tahun 1973 di Jakarta. Pada PON itu cabang pencak silat diikuti oleh 15 daerah dengan 106 atlet putra dan 22 atlet putri. Pada tanggal 27 April sampai 1 Mei 1975 dilangsungkan Kejuaraan Nasional Pencak Silat I di Semarang yang diikuti oleh 18 provinsi. Pada Munas IPSI tahun 2003, Ketua Umum PB IPSI yang dijabat oleh Mayjen TNI Eddie Marzuki Nalapraya digantikan oleh Letjen TNI Prabowo Subianto.

Rabu, 09 Juli 2008

Perguruan Pencak Silat Lebah Sakti


Sejarah Singkat
Propinsi Sumatera Selatan memiliki banyak perguruan-perguruan pencak silat yang tersebar di Kabupaten / Kota di Sumatera Selatan. Salah satunya adalah Persaudaraan Pencak Silat Lebah Sakti (PPSLS). Persaudaraan Pencak Silat Lebah Sakti ini sendiri berasal dari Dusun Kayu Ara, Kecamatan Sekayu, Kabupaten Musi Banyuasin, yang mulai diajarkan sejak tahun 1954-1974. Pada tahun 1982 berkembang di Palembang dengan nama Palembang Kayu Ara (PALKAR) dan tahun 1984 berubah nama menjadi Persaudaraan Pencak Silat Lebah Sakti dengan filosofi "Lebah Takkan Mengganggu Manusia Kecuali Manusia Mengganggunya, Madunya Bermanfaat Bagi Manusia" serta terus berkembang hingga saat ini.

Dari dua belas tarian yang diajarkan dapat dikembangkan berbagai jurus sesuai dengan kemampuan murid yang meliputi : sambung buang makan, makan buang sambut, jurus kuncian dan pembukaan kuncian, bantingan serta bergulung di tanah.

Alm.Husein bin Achmad(Nek Usin) Sialang Agung Persaudaraan Pencak Silat Lebah Sakti (Kuntau Aliran si Usin) sumber foto : @dedyhendra
Terkait dengan perkembangan dan tuntunan dewasa atas insiatif dari Drs. Azhari Usman SMIA, pencak silat dimodifikasi sehingga menghasilkan satu varian tari lagi yang diberi nama GARAPUA (Gabungan Ramuan Purba Asli) sehingga jumlah tarian menjadi 13 macam tari yang diberi nama "Aliran Si Usin" dan diperkaya juga dengan dimasukkan jurus tenaga dalam non fisik bagi murid yang dianggap telah siap fisik maupun bathin.


Pada bulan Maret tahun 2005 telah diciptakan tujuh gerakan Pencak Silat Lebah Sakti oleh Bapak Drs. Azhari Usman SMIA dibantu oleh pelatih yaitu Fauzi M. Haris dan Farid Wajdy S.P., M.Si. dan akan diajarkan kepada asisten pelatih serta murid yang disiapkan, yang akhirnya dijadikan gerakan wajib di Persaudaraan Pencak Silat Lebah Sakti.

Tingkatan latihan di Persaudaraan Pencak Silat Lebah Sakti ini adalah sebagai berikut :
  1. Pemula / Tat Idang (List Putih I)
  2. Tingkat Dua / Idang (List Putih II)
  3. Tingkat Tiga / Tat Madu (List Hijau I)
  4. Tingkat Empat / Madu (List Hijau II)
  5. Tingkat Lima / Tat Tawon (List Kuning I)
  6. Tingkat Enam / Tawon (List Kuning II)
  7. Tingkat Tujuh / Tat Lebah (List Merah I)
  8. Tingkat Delapan / Lebah (List Merah II)
  9. Tingkat Lebah Hitam, Sialang dan Sialang Agung
Peningkatan dari List Kuning II (Tawon) ke List Merah (Lebah) dan seterusnya disyaratkan setiap anggota persaudaraaan menciptakan sekurang-kurangnya lima jurus baru ciptaan sendiri di mana Guru Besar Sialang akan menciptakan jurus tandingannya sehingga akan menambah hasanah serta ciri khas tersendiri yang hal ini menunjukkan bahwa Persaudaraan Pencak Silat Lebah Sakti ini tidak mengenal istilah tamat belajar silat.

Persaudaraan Pencak Silat Lebah Sakti ini telah masuk sebagai anggota Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI) Cabang Palembang dengan nomor 01/XI/1997 tanggal 3 November 1997 berdasarkan pendaftaran ulang Surat Keputusan Nomor 114/KPTS/IPSI CAB/1987 tentang Pengesahan Persaudaraan Pencak Silat Lebah Sakti sebagai anggota IPSI Kotamadya Palembang serta terdaftar juga di Dinas Sosial Politik pada masa tersebut.

Bertitik tolak dari pemikiran sejarah Lebah Sakti dan pengembangan beladiri pencak silat di tanah air khususnya di Propinsi Sumatera Selatan Kota Palembang, serta dalam upaya mendukung program pemerintah Indonesia Bangkit dan Sumatera Selatan Bangkit serta melestarikan salah satu budaya asli bangsa Indonesia, tidaklah berlebihan jika kita melestarikan seni beladiri dari leluhur kita untuk menciptakan pesilat-pesilat handal dan tangguh yang dapat mengharumkan Propinsi Sumatera Selatan, baik di tingkat Nasional maupun Internasional.

Seragam Dasar : Hitam-hitam ( Standard IPSI)

Senjata Khas Perguruan : Parang, Tongkat bermata, Cabang

Teknik : Jurus, Gerak Seni (Tangan Kosong Dan Senjata)

Tempat latihan:
Bukit Sangkal depan perumahan PLN, SMPN 22 , Jl Pembangunan Pakjo, KM 8 Samping Trakindo, MTS 2 Pakjo SMA /SMP Karya Sejati Jl.Demang Lebar Palembang (Latihan Minggu Pagi 08:00-10:00) Contac Person : Bpk Alfariza

Sumber : 
http://lebahsaktipalkar.blogspot.co.id/ & Informasi dari Bpk Alfariza

Dokumentasi lainnya :
gerak perorangan
Tarung bebas


 Video :

Kamis, 26 Juni 2008

Perguruan Pencak Silat DIKAPASITA


Sejarah Singkat
Pada awal mulanya pada waktu itu kurang lebih tahun 1964 di seberang lautan ujung pulau Sumatera yaitu Pulau Bangka tepatnya di Pangkal Pinang, berdirilah sebuah perguruan silat yang di beri nama "DIKAPASITA" yang merupakan singkatan dari "Didikan Pencak Silat Alam" dengan tokoh pendiri pertamanya adalah Bpk Abdurahman Syukur yang merupakan pesilat yang ternama pada masanya, dimana pada awal mulanya perguruan ini hanya beranggotakan sekitar 85 orang.

Guru besar Perguruan Dikapasita Bpk Iman Roesdi Bahusin
Seiring dengan perkembangan waktu perguruan silat Dikapasita dari masa kini berkembang dan sehingga tahun 1967, berkembang di Palembang yang di bawa oleh pesilat terbaik pada waktu itu yaitu Bpk Imam Roesdi Bahusin yang kebetulan pindah tugas ke Palembang (Beliau seorang anggota TNI AD) dan menjadi Ketua Perguruan Dikapasita cabang Palembang dan bertempat tinggal di 5 ulu seberang ulu 1 Palembang, dengan perkembangannya yang begitu pesat, sehingga akhirnya perguruan pencak silat DIKAPASITA di kukuhkan menjadi anggota IPSI dengan SK No:087/PENGDA/IPSI/SS/1973

Perkembangan perguruan silat DIKAPASITA terus berlangsung dengan bermodalkan serta berbekal keterampilan dan nilai-nilai sportivitas yang tinggi perguruan pencak silat DIKAPASITA aktif mengikuti kegiatan yang di selenggarakan oleh IPSI dan Allhamdulilah pesilat-pesilat perguruan pencak silat DIKAPASITA bisa memperoleh yang terbaik di kelasnya dengan memperoleh medali dan penghargaan lainnya. selain itu banyak juga kendala-kendala yang di hadapi oleh perguruan pencak silat DIKAPASITA tetapi dapat di hadapi dengan lapang dada.

Pada tahun 1975 pesilat perguruan Dikapasita berhasil mendapatkan kepercayaan dari Pengda IPSI Sumatera Selatan untuk mengikuti Kejuaraan Nasional Pertama di Semarang, Jawa Tengah. Selain itu pesilat-pesilat perguruan silat Dikapasita juga terpilih sebagai yang terbaik pada kejuaraan-kejuaran pencak silat lainnya seperti di Jakarta, Ujung Pandang, Bandung, Surabaya, Bali, Padang, termasuk PON XII di Jakarta dan Popda awal Juni 2004 pesilat-pesilat perguruan silat Dikapasita berhasil menggondol 5 medali kejuaraan dan pada Porcab di tahun yang sama berhasil menjadi yang terbaik.

Sejalan dengan keberhasilan yang telah diperoleh, perguruan silat Dikapasita kembali mendapatkan kepercayaan untuk menampilkan para pesilat-pesilatnya dalam pembukaan PON XVI di Palembang tahun 2004, yang dilanjutkan dengan pembukaan Porcabnas dan Festival Palembang Darussalam di tahun yang sama. Pada tahun 1987 perguruan silat Dikapasita terpilih sebagai salah satu dari panitia pengamanan FFI di Palembang, apel siaga IPSI dan pengamanan selama berlangsungnya Pemilu 1987.

Peatih dan asisten pelatih
Sejalan dengan perkembangan perguruan pencak silat DIKAPASITA terus berkembang ke seluruh penjuru tanah air diantaranya di ibu kota Jakarta, Pekan baru, Jambi, Batam, Bandar Lampung dan untuk di wilayah Palembang terdapat cabang dan ranting seperti : di Lubuk Linggau, Semendo, Gumai, Bukit Kemuning, Talang Ubi/ Payo besar, suban, Menanti, Pinang Banjar, Pelempang, Gelumbang, Pagar Gunung, Prabumulih, Batu raja, Manggala, Tanjung Raja, Kayu Agung, Payoraman, Teluk Jaya, Musi Raya, Gedung Buruk, Kurung Nyawa, Mariana dan beberapa daerah lainnya, adapun ranting yang ada di wilayah Palembang sendiri adalah ; Ranting Kertapati ( Jambangan), Ranting Plaju, Ranting Kenten Laut

Seragam Dasar : Hijau Hijau dengan ( Angkin) Sabuk Putih

Senjata Khas Perguruan : Tongkat & Golok

Teknik : Jurus, Sambut ( Teknik Untuk Berpasangan), Gerak Seni

Perguruan Silat Dikapasita : Sekretariat Perguruan Pencak Silat DIKAPASITA
Jl. KH A Wahid Hasyim Lr. Terusan 1 RT:41 RW:11 No.1655/1666 5 Ulu darat Kertapati Palembang 30254 HP: 0813-67618755 Bpk Gabariyah/Slamet


Kegiatan pelangiran yang di ikuti seluruh peserta didik
Penyerahan piala kejuaraan antar ranting Dikapasita
Sumber foto : http://dikapasita-palembang.blogspot.co.id/
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...