CANTUMKAN SUMBERNYA JIKA MENGGUNAKAN GAMBAR ATAU ARTIKEL DARI BLOG INI - HORMATI HAK CIPTA ORANG LAIN.

Selasa, 29 November 2016

Himssi Sumsel Safari Kabupaten-Kota

Himssi Sumsel Safari Kabupaten-Kota
Ketua Umum Pengprov Himssi Sumsel HM Akib MSi, Sekum Himssi Sumsel Helmi Yoga, Ketua Umum Pengcab Himssi Kota Palembang Andi Aprisanyah bersama Pelatih Taruna dan pengurus Pengcab Himssi OKU saat memberikan materi pelatihan. 
SRIPOKU.COM, PALEMBANG-Himssi (Himpunan Seni Silat Indonesia) terus melakukan konsolidasi dan sosialiasi dalam rangka merapatkan barisan untuk menguatkan keorganisasian PB Himssi dengan melakukan Safari ke Kabupaten/kota di Sumsel.
Baru-baru ini, Pengprov (Pengurus Provinsi) Himssi Sumsel mengunjungi dan bersilaturahmi ke Pengcab (Pengurus Cabang) Himssi OKU Induk, Sabtu-Minggu (26/27/2016).
Hadir dalam kunjungan ini Ketua Umum Pengprov Himssi Sumsel HM Akib MSi, Sekum Himssi Sumsel Helmi Yoga, Ketua HimssiKota Palembang Adi Apriansyah, Pelatih Taruna Saharudin, Putri, Nurul, kemudian Fatima (Pelatih Taruna Jakarta).
Sementara dari OKU Indik, ada Ketua Pengcab (Pengurus Cabang) OKU Induk, Yunizar Djakfar SSos, MIP, kemudian Ujang Nasroel untuk Urusan Khusus Interen dan Eksteren.
"Ini dalam rangka silaturahmi dan pembinaan Baturaja, penguatan keorganisasian dan pemahaman kurikulum Himssi," ujar HM Akib.
Menurut dia, safari ini juga menggelar diskusi tentang perkembangan Himssi ke depan khususnya di kabupaten OKI, menyelenggarakan latihan bersama, dalam rangka penyeragaman materi sesuai kurkulum.
"Acara ini langsung diikuti semua jajaran Himssi Kabupaten OKU, dipimpin Ketua Umum Himssi OKU," ujarnya.
Dalam kesempatan ini juga Himssi Sumsel menyampaikan undangan  undangan untuk kegiatan Kemah Akbar Himssi di Lahat pada akhir Desember 2016 mendatang sekaligus menyambut tahun baru 2017, dan untuk ujian Pelatih periode ke-III di Lahat.

Senjata Tradisional Masyarakat Sumatera Selatan - "Keris Palembang"


Keris Palembang milik Sultan Iskandar Mahmmud Badaruddin III Foto : https://www.facebook.com/andi.s.kemas

Dari data sejarah Indonesia, dapat diketahui bahwa Palembang merupakan daerah Sumatra pertama yang menerima penyebaran budaya keris dari Pulau Jawa, selain Jambi. Ekspedisi Pamalayu yang dilancarkan ke daerah itu atas perintah Sri Kartanegara, Raja Singasari pada tahun 1275 diduga merupakan awal pertama pengenalan budaya keris Jawa di Sumatra. Jadi pada awal abad ke-13 keris telah mulai membudaya di beberapa daerah di Sumatra.

Perkembangan dunia keris di Palembang mencapai puncaknya pada zaman pemerintahan Sultan Candilawang (1662 – 1706). Pada masa itu penyebaran keris Palembang meluas sampai ke Kalimantan, Sarawak, dan Semenanjung Malaya.
Masa produktif para empu Palembang terjadi pada masa pemerintahan Sultan Kamaruddin yang naik tahta tahun 1715 dan Sultan Jayawikrama pada tahun 1722, dan mencapai puncak keemasannya pada abad 19. Perdagangan yang ramai di pelabuhan Palembang menjadi salah satu dorongan meluasnya pemasaran keris-keris Palembang (Source : Ensiklopedi Keris – Bambang Harsrinuksmo – 332).

Di Palembang Keris ini diakulturasi dengan budaya melayu akhirnya jadilah Keris Palembang, Keris Palembang dan Keris Jawa ada yang membedakan yaitu pada Luk ( belokan atau lurus keris) , Warangka berbeda, Gagangnya Keris Palembang seperti kepala burung, selain itu tangkainya seperti perahu seperti perahu ini maknanya Palembang itu adalah negara maritim.

Sejak dahulu Keris Palembang di Zaman Kesultanan Palembang Darusalam merupakan simbol kebesaran bagi Sultan, Keluarga Sultan dan bisa di jadikan alat mempertahankan diri. Keris Palembang ini hilang setelah Kesultanan Palembang Darusalam dihapuskan pemerintah kolonial Belanda sejak tahun 1905 secara berangsur-angsur unsur keris tersebut sehingga Sejak saat itu simbol-simbol Kesultanan tidak diakui masyarakat lagi, dan mulai hilang, akhirnya Keris Palembang  berangsur-angsur hilang , tapi bukan berarti hilang sama sekali , masih ada dipegang sejumlah keluarga Sultan.

Selain itu kenapa Keris Palembang tidak muncul lagi karena tidak ada pandai besinya atau empunya, kalau di Jawa masih terus berlangsung walaupun jumlahnya sedikit tapi terus, kalau di Palembang tidak ada lagi. Apalagi untuk membuat Keris oleh pandai besi atau mpu harus ada syaratnya seperti harus berpuasa dulu. Kecuali senjata lain Palembang seperti Kuduk, Siwar masih ada pembuatnya salah satunya di Lahat.


Zaman dulu Keris Palembang itu memiliki aura magis, kalau sekarang tergantung Kerisnya , ada yang “berisi” ada yang  tidak, kalau orang ada indera ke enam bisa melihat penghuni Keris Palembang , kalau kita tidak bisa merasakan aura magisnya dan budaya Keris tumbuh awalnya dari tradisi Agama Hindu namun ketika Islam masuk di Indonesia terjadi akulturasi budaya termasuk Keris. Ini di tandai dengan motip keris dulu waktu zaman hindu seperti hewan, manusia saat Islam masuk di hilangkan menjadi motip tumbuh-tumbuhan dan sebagainya.

Di rangkum dari berbagai sumber

Senin, 28 November 2016

Senjata Tradisional Daerah Sumatera Selatan - "Skin"


Image result for skin senjata khas
Foto : http://rejanglebong.blogspot.com

Skin yang sering juga disebut jembio, rambai ayam (berbentuk menyerupai ekor ayam) atau taji ayam, adalah suatu artefak yang berupa senjata tusuk genggam yang bentuknya meruncing dengan tajaman di salah satu sisi bilahnya

Skin mempunyai kedudukan yang penting bagi seseorang, sehingga fungsinya tidak hanya sebagai senjata, melainkan juga sebagai benda keramat yang memiliki unsur kimpalan mekam atau kimpalan sawah (mempunyai kekuatan magis).

Struktur Skin

Skin adalah senjata yang bahan bakunya terbuat dari besi yang proses pengerjaannya dibuat oleh pandai besi di pedapuran tempat membuat alat-alat dari besi. Pada umumnya skin berukuran antara 25-30 cm (skin rambai ayam). Namun, ada pula skin yang lebih pendek berukuran antara 10-15 cm. Skin berukuran pendek ini biasa disebut sebagai taji ayam karena bentuknya menyerupai taji seekor ayam jantan.

Sarung skin dahulu terbuat dari kulit sapi atau kambing. Namun, seiring dengan perkembangan zaman, sarung skin saat ini banyak yang terbuat dari kulit sintetis yang pengerjaannya dilakukan oleh penjahit tas kulit. Sedangkan gagangnya terbuat dari kayu yang keras tetapi liat yang diukir sedemikian rupa sehingga memiliki nilai seni yang tinggi.

Nilai Budaya
Skin sebagai hasil budaya anak negeri, jika dicermati secara seksama, di dalamnya mengandung nilai-nilai yang pada gilirannya dapat dijadikan sebagai acuan dalam kehidupan sehari-hari bagi masyarakat pendukungnya. Nilai-nilai itu antara lain: keindahan (seni), ketekunan, ketelitian, dan kesabaran. Nilai keindahan tercermin dari bentuk skin yang dibuat sedemikian rupa, sehingga memancarkan keindahan. Sedangkan, nilai ketekunan, ketelitian, dan kesabaran tercermin dari proses pembuatannya yang memerlukan ketekunan, ketelitian, dan kesabaran. Tanpa nilai-nilai tersebut tidak mungkin akan terwujud sebuah skin atau rambai ayam yang indah dan sarat makna. (pepeng)

Sumber:
Indones, Noor, dkk,. 1992. Senjata Tradisional Daerah Sumatera Selatan. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Minggu, 27 November 2016

Persinas Asad Gembleng 120 Pesilat Lewat Kompetisi Kejurkot Palembang II

Persinas Asad Gembleng 120 Pesilat Lewat Kompetisi Kejurkot Palembang II
Dua pesilat pra usia dini unjuk kebolahan dalam Kejuraan Kota Palembang I Persinas Asad di Padepokan Persinas Asad Taman Kenten, Sabtu (26/11) 
SRIPOKU.COM, PALEMBANG-Sebanyak 120 Pesilat meramaikan Kejuaraan Tingkat Kota Palembang II Pesatuan Silat Nasional Asad, di Padepokan Persinas Asap Pondok Pesantren Al Fatah Bukit Kenten, Sabtu-Minggu (26-27/11/2016).
Ajang digelar sebagai persiapan untuk menyeleksi dan mempresiapkan atlet terbaik yang akan diikutsertakan dalam ajang Kejurnas Persinas Asad yang akan digelar Mei 2017 mendatang.
"Total 120 persilat dari Pra Usia Dini (U-10) kemudian usia dini dan remaja. Mereka dipersiapkan untuk Kejurnas Persinas Asad. Para peserta dari 6 kecamatan atau ranting yakni, Sako, Kalidoni, IT II, IB I, Sukarami, dan Seberang Ulu," ujar Ketua Umum Persinas Asad Kota Palembang Iqbal Tanjung, Sabtu (26/11).
Menurut Iqbal, ajang ini akan digelar setiap tahun sebagai kalender tetap Persinas Asad. Ia berharap dengan digelarnya ajang ini akan turut membesarkan pencaksilat kota Palembang dan menyumbang atlet bagi Sumsel dan Indonesia."Fokus kita membina usia dini, tetapi juga menyeleksi pesilat remaja untuk dipersiapkan menjadi atlet handal, bagi kota Palembang, Sumsel dan Indonesia," jelasnya.
Hal serupa juga diungkapkan Ketua Panitia Pelaksana, Agung Setya Budi ST. Menurut dia, pelaksanaan kejuaraan ini digelar selama dua hari.
"Acara Sabtu hingga malam difokuskan untuk babak penyisihan, sementara Minggu fokus final untuk semua kelas yang dipertandingkan," jelasnya.
Ketua IPSI kota Palembang, Witama Yuda mengapresiasi Persinas Asad yang menggelar ajang ini. Baginya kompetisi seperti sangat baik untuk pembinaan dan sebagai bagian dari pembinaan untuk mempersiapkan atlet terbaik bagi kota Palembang.
"Kami lihat Asad semakin berkembang dan ajang ini juga kami harapkan bisa menciptakan dan membantu IPSI Palembang menyiapkan kader-kader terbaik di kota Palembang," jelasnya.
Dalam kesempatan ini, dia pun mengimbau agar semua perguruan di kota Palembang terutama Asad bisa membantu IPSIKota Palembang membangun padepokan.
"Karena kita belum punya dan kami sejauh berusaha keras untuk membangun padepokan IPSI Kota Palembang, kami juga minta bantuan Asad," ujarnya.
Acara ini dihadiri pula oleh Ketua Pengprov Persinas Asad Sumsel Jusep Imelsa ST, jajaran pengurus kota Palembang, dan seluruh peserta Kejurkot II Persinas Asad.

Sabtu, 26 November 2016

Senjata Tradisional Masyarakat Sumatera Selatan - "Khudok Basemah"

Kudhok, Senjata Tradisional Khas Bumi Besemah

Bumi Besemah merupakan sebutan bagi Pagaralam yang lokasinya diapit oleh keindahan Bukit Barisan dan Gunung Dempo. Sebagai kawasan yang berada di dataran tinggi Sumatera Selatan, Bumi Besemah memiliki potensi yang luar biasa akan kebun teh dan kopi robusta. Kopi dan teh tradisional kerap menjadi buah tangan paling digemari oleh para wisatawan yang datang ke Pagaralam. Meski demikian, belakangan senjata kudhok mulai banyak dilirik oleh para wisatawan sebagai oleh-oleh dan cinderamata khas dari Bumi Besemah.

Kudhok merupakan senjata tradisional khas Bumi Besemah yang terbuat dari bahan baku besi per mobil. Proses pembuatan kudhok melewati berbagai tahap yang rumit, awalnya besi per mobil dilebur. Setelah dilebur besi kemudian dicetak dan disesuaikan bentuknya dengan bentuk kudhok yang hendak dibuat. Kudhok sendiri mempunyai beragam jenis, namun yang paling banyak digemari adalah kudhok dari jenis  betelok, luncu, gerahang, dan kudhok rambai ayam yang bentuknya menyerupai jalu ayam.

Tahap membakar dan menempa merupakan tahap yang paling lama dalam proses pembuatan kudhok. Tahap ini akan memakan waktu lebih lama lagi jika si pembeli memesan bentuk kudhok sesuai dengan keinginannya. Bahkan seorang pandai besi yang membuat kudhok pesanan kadang melakukan pendekatan tertentu kepada pemesan untuk menghasilkan senjata kudhok yang sesuai dengan kepribadian pemiliknya.
  
Dari pandai besi, biasanya kudhok langsung dijual kepada pengepul. Di tangan pengepul, bentuk kudhok kemudian disempurnakan dengan dibubuhi tampuk dan sarungnya. Tampuk dan sarung kudhok terbuat dari kayu nangka atau kayu ghumai. Tampuk dan sarung inilah yang membuat bentuk kudhok nampak lebih eksotis dan indah. Menurut salah seorang penjual kudhok yang berada di Kawasan Pagaralam, satu buah kudhok mulai dari ukuran yang paling kecil hingga yang paling besar dibanderol dengan harga hingga 250 ribuan.


Kudhok oleh masyarakat Pagaralam umumnya dijadikan sebagai teman setia disaat berkebun dan bekerja di ladang. Namun kudhok juga kerap digunakan sebagai senjata untuk mempertahankan diri dari orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Belakangan bentuk kudhok yang eksotis ternyata bisa disulap oleh pengrajin menjadi sebuah figura yang indah dan bernilai ekonomis. Tidak salah jika para wisatawan yang datang ke Pagaralam memilih kudhok sebagai oleh-oleh selain juga teh dan kopi robusta. [AhmadIbo/IndonesiaKaya

Jumat, 25 November 2016

Himssi Persiapkan Munas dan Kemah Akbar di Lahat

Himssi Persiapkan Munas dan Kemah Akbar di Lahat
Ketua Himssi Sumsel HM Akib Himssi, Sekum Helmy Yoga, Ketua Himssi Palembang Adi Aprisansyah, perwakilan dari kabupaten/kota Pagaralam, Muaraenim, Lahat, OI, OKI, Muba, Banyausin dan perwakilan dari Riau Ruwani 
SRIPOKU.COM, PALEMBANG-Himpunan Seni Silat Indonesia (Himssi) terus merapatkan barisan, setelah membentuk Pengurus Besar yang dipastikan berpusat di Palembang. Beberapa agenda penting dipersiapkan, selain ekspansi dan konsolidasi, agenda paling dekat adalah mempersiapkan Munas Himssi yang akan digelar di Kabupaten Lahat dan kejuaraan Nasional HIMSSI tingkat remaja di Opi Mall Jakabaring Palembang.
"Ini sebagai langkah kongkret sejak 30 tahun lalu tanpa putus putus berbuat dalam rangka membesarkan organisasi HimssiTanpa ada Pamrih bahu membahu bersama Generasi Penerus dengan karya nyata dengan Bukti pembangunan Padepokan sebagai salah satu sarana tempat berkumpulnya para Generasi penerus Himssi di masa sekarang dan yang akan datang untukmeneruskan cita cita GURU BESAR Tubagus Nasuha," jelas Ketua Umum PB, MH Akib yang didampingi Adi Apriansyah, Ketua Pengcab Himssi Kota Palembang, Kamis (24/11).
Seperti diketahui, Lahir dan besar di Pulau Sumatera khususnya di Sumsel, Himpunan Seni Silat Indonesia (Himssi) mulai melakukan eksepansi untuk mewujudkan visi menjadi olahraga beladiri modern.
Maka itu, sejak digelarnya deklarasi 3 Oktober 2016 lalu, PB Himssi di bawah komando HM Akib MSi dkk di Sumsel mulai melakukan pengukuhan pengurus di daerah-daerah.
Pengda DKI Jakarta yang dipimpin Jusairi SH dkk sudah dilantik, 16 Oktober kemarin, kemudian disusul melantik Pengda HimssiJambi, di Kota Jambi, Kamis (20/10), sebelumnya Riau juga sudah diresmikan.
Pelantikan dipimpin langsung HM Akib MSi selaku PB Himssi, didampingi Sekjen Helmi Yoga, Ketua Pengcab Himssi Kota Palembang Adi Apriansyah SSos, dan Pelatih Taruna Senior Himssi Syaharudin, di Kota Jambi.
Akib melantik Pengda Himssi Jambi dengan Ketua Alion Meisen, Wakil Ketua Haryadi, Bendahara Vera Varica, dengan Dewan Pelatih Zem Ukrowi, Riki Persandi, dan Rifki Alma Ramadhani. Dengan pembina A Manaf SPd, Aipda Nelson MSi, A Rahman SPd, dan Jusmalina SAg.
"Alhamdulillah, setelah kita deklarasikan PB Himssi 3 Oktober lalu, kini kita memiliki kekuatan untuk bersatu, ini adalah visi misi Himssi yang melakukan ekspansi untuk memperkuat Himssi dan mengenalkan seni silat asli dari Sumsel, kita menuju olahraga bela diri profesional dan modern tetap mempertahankan tradisi ketimuran," Kata Ketua Umum PB Himssi HM Akib, Jumat (21/10).
Akib didampingi Helmi Yoga dan Adi Apriansyah mengatakan, tujuan pelantikan ini, untuk menyegerakan kegiatan dalam skala nasional yang kini tengah disusun.
Pusatnya menurut Akib, tetap di Palembang dengan Padepokan di Kampung Serang Matamerah Palembang sebagai pusat pembinaan dan kantor PB Himssi. Sebab, Himssi lahir di Sumsel.
"Dengan dilantiknya Himssi Jambi ini kita harapkan teman-teman bisa membersarkan Himssi di Jambi, terlebih lagi Alion Meisen adalah Ketua Federasi Olahraga Pencak Silat Jambi yang mengkoordinir kegiatan rutin pencak silat di Jambi," ujarnya.
Sementara Helmi menambahkan, berdirinya PB Himssi karena adanya dukungan dari semua daerah di Sumsel bahkan di Indonesia, sehingga dideklarasikan pada 3 Oktober lalu, Himssiadalah organisasi resmi."Resmi berdiri sejak 30 Maret 1979 silam, dengan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan yang memayungi dan juga LPRI di masa kepemimpinan Yahya Bahar," ujar Helmi.
Ditambahkan Akib, berdirinya PB dengan tujuan agar Himssi bisa memasyarakat, target adalah Sumatera, kemudian terus merambah ke pulau Jawa, Kalimantan dan hingga seluruh Indonesia, tetapi tetap
dilakukan secara bertahap."Himssi menyatukan masyarakat agar tidak terkotak-kotak, membangun dan membela bangsa-negara ," ujarnya.

Ditambahkan Adi Aprinsyah, usai pelantikan Himssi Jambi, maka akan dilanjutkan melantik Himssi Lampung yang akan diselenggarakan pada akhir November 2016 mendatang."Juga banyak permintaan di beberapa provinsi khususnya di Sumatera dan Jawa serta Kalimantan," jelas Adi.

Senjata Tradisional Masyarakat Sumatera Selatan - "Tombak Trisula"

Senjata Tradisional Tombak Trisula Palembang Sumatera SelatanMengenal Senjata Tradisional Tombak Trisula Palembang Sumatera Selatan. Palembang memiliki beberapa macam senjata tradisional, salah satunya adalah tombak trisula. Senjata tradisional ini merupakan warian kegemilangan Kerajaan Sriwijaya yang pernah berkuasa pada abad ke-17 hingga awal abad ke-13 M.

Perkembangan senjata tradisional tombak trisula menjadi senjata tradisional di Palembang ada kaitannya dengan perkembangan kebudayaan Hindu pada masa kerajaan Sriwijaya yang berpusat di Palembang. Hal ini dapat dilihat dari bentuk tombak trisula yang mirip dengan trisula Hindu (senjata yang dipegang oleh Dewa Siwa).

Tombak trisula merupakan bentuk dari akulturasi budaya-budaya besar saat itu. Misalnya, kebudayaan Tionghoa, kebudayaan India, dan kebudayaan Arab. Akulturasi tersebut merupakan bukti tingginya peradaban masyarakat Indonesia yang mampu menyerap berbagai budaya dan menyatukannya dalam sebuah budaya berbeda dari aslinya.

Senjata tradisional ini dibentuk dengan sarat nilai-nilai yang dijadikan acuan dalam kehidupan bermasyarakat, seperti keindahan, ketekunan, ketelitian, dan kesabaran. Nilai keindahan tercermin dari bentuk senjata yang dibuat sedemikian rupa sehingga memancarkan pesona memukau mata.

Penggunaan Trisula

Trisula juga digunakan oleh retarii, gladiator dengan penampilan seperti nelayan (membawa jaring). Trisula saat ini sering diasosiasikan dengan setan oleh mitologi Kristen. Ini kemungkinan karena penggunaannya dalam agama pagan. Trisula adalah senjata Siwa, salah satu dari Trimurti yang sering disembah pada masa kejayaan kerajaan Hindu-Budha di Jawa. Begitu pula dalam agama pagan Yunani-Romawi, Poseidon (Neptunus) dewa peguasa laut selalu membawa trisula.

Senjata tradisional Palembang tidak hanya tombak trisula tetapi juga keris sebagai senjata tradisional.

Sumber:
http://novirita.blogspot.co.id/2011/01/mengenal-senjata-tradisional-sumatera.html
http://www.suarawajarfm.com/2015/09/10/6440/senjata-tradisional-sumatera-selatan.html 
http://www.tradisikita.my.id/2015/05/senjata-tradisional-sumatera-selatan.html 

Kamis, 24 November 2016

Senjata Pencak Kraton Palembang

Dalam pencak keraton Palembang selain dipelajari jurus tangan kosong dan bermacam tehnik pukulan, tendangan, bantingan, kuncian, pernapasan dan lainnya, juga terdapat berbagai jenis peralatan senjata asli tradisional. 

Kalau kita perhatikan dan amati bentuknya menyerupai bentuk dari perguruan silat pada masa silam. Setidaknya ada 16 jenis senjata pencak keraton Palembang, yaitu: Kerìs, pedang, piso duo, besi cabang, tombak berambu, cangka unak, siangkek, tembung berantai, tongkat, kundur, tameng, kepalan cengkeh, tembung, sampang basah, tat, lading, dll.

Senjata Pencak Kraton Palembang
Hal ini seperti juga yang berlaku pada zaman kerajaan atau kesultanan yang ada di Indonesia dimana persenjataan sangat dibutuhkan dalam penunjang tugas-tugas keprajuritan dalam keamanan dan pertahanan sebuah kerajaan-kerajaan atau kesultanan. Penggunaan senjata-senjata pada masa itu tidak hanya pada tingkat para pasukan kerajaan, bahkan para raja pada masa dahulu juga menggunakannya sebagai alat untuk melindungi diri mereka terutama dalam menghadapi peperangan. Senjata-senjata tersebut tidak hanya berfungsi secara teknis namun dipercaya juga bertuah.

Keris Sultan Iskandar Mahmud Badaruddin

Selasa, 22 November 2016

Peguron Paku Silat Banten yang Lebih Tersohor di Lampung

Peguron Paku Silat Banten yang Lebih Tersohor di Lampung
Pendiri dan Guru Besar Paku Banten Abah Mukri MZ saat hidup. (Foto: Youtube)

MerahPutih Budaya - Sebagai wilayah yang disebut tanah para jawara, tidak mengherankan jika Banten memiliki perguruan pencak silat. Salah satunya adalah Paku Banten, perguruan tersebut, merupakan organisasi beladiri yang meskipun nama dan akarnya berasal dari Banten, tetapi berdiri dan besar di Lampung.


Hal tersebut disampaikan oleh Ketua Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI) Banten Haji Ajat Sudrajat. Menurutnya, untuk mengenal suatu perguruan pencak silat Banten, ada yang harus dipahami, ada yang namanya aliran, ada yang namanya Peguron.

"Aliran berarti gaya dari seni beladirinya itu sendiri, sedangkan Peguron adalah wadahnya, dimana seorang guru silat mengajarkan aliran beladirinya,nah Paku Banten adalah Peguron, bukan aliran," jelasnya, Selasa (11/5) lalu.

Masih menurutnya, lelaki yang membentuk Peguron Paku Banten adalah Haji Mukri, seorang pendekar asli Banten yang mengembara sampai Lampung, di sanalah Haji yang kemudian lebih akrab dipanggil Abah Mukri tersebut menerima banyak murid. Sedangkan mengenai aliran apa yang digunakan oleh Paku Banten, Ajat Sudrajat mengaku tidak berkompeten untuk mengungkapkannya.

"Yang perlu diketahui, di Banten banyak sekali aliran, tetapi yang besar dan asli Banten ada dua, yaitu Bandrong dan Terumbu. Sedangkan yang paling banyak pengikutnya adalah silat Tjimande, tetapi asalnya dari jawa barat. Nah, Abah Mukri ini asal alirannya adalah Tjimande itu " ungkapnya.

Sang Guru Besar Paku Banten tutup usia Jumat (11/9) di tempat perantauannya pada usia 62 tahun dan dikebumikan diiringi oleh ribuan pengikutnya. Di Banten sendiri, pengikut peguron Paku Banten tidak sebanyak di tempat beliau mendirikannya. (Ctr)

      A.    Sejarah Berdirinya Perguruan Paku Banten Lampung


Kondisi Indonesia pasca reformasi tahun 1999 mengalami perubahan yang sangat signifikan. Perubahan tersebut meliputi seluruh aspek kehidupan sosial, politik, ekonomi dan sosial. Hal ini disebabkan adanya tuntutan yang sangat kuat dari masyarakat, terutama masyarakat menengah kebawah untuk merubah kondisi negara yang bisa dibilang pada saat tersebut sangat kacau. Dengan ditandai lengsernya Presiden Soeharto pada tahun 1999, hal tersebut mengawali perubahan negara Indonesia dari yang terkesan otoriter menjadi lebih demokrasi. Perubahan tersebut meliputi berbagai aspek, seperti sistem kenegaraan yang lebih demokrasi. Hal ini ditandai dengan menjamurnya organisasi massa diseluruh Indonesia.

Anggota perguruan paku banten di daerah Babat Supat & Sungai Lilin
Foto : https://www.facebook.com/PERGURUAN PAKU BANTEN,KORWIL SUM-SEL.PALEMBANG
Seperti yang kita ketahui, keberadaaan organisasi massa pada masa pemerintahan Presiden Soeharto dibatasi ruang geraknya. Hal inilah salah satunya yang membuat keran demokrasi pada waktu itu mati total. Di Provinsi Lampung sendiri pada masa orde baru pun telah memiliki beberapa organisasi massa, baik itu yang bersifat kedaerahan ataupun organisasi massa yang notabenenya Underbow partai politik.

Perkumpulan 30 atau organsasi massa yang ada hanya segelintir, salah satunya adalah Perguruan Paku Banten. Perguruan Paku Banten didirikan pada tanggal 25 Juni 1998. Pada saat itu, keinginan untuk mendirikan Perguruan Paku Banten dicetuskan oleh seluruh Tokoh-tokoh masyarakat Lampung yang berasal dari Banten dan Tokoh masyarakat yang peduli terhadap kemaslahatan umat, baik yang berasal dari Banten maupun suku lainnya yang berdomisili di Negara Kesatuan Republik Indonesia. Pada awal terbentuknya Perguruan Paku Banten sendiri lebih terkonsentrasi bergerak pada bidang seni dan budaya. 

Hal tersebut sesuai dengan tujuan awal dan cita-cita luhur para pendahulu Perguruan Paku Banten, bahwa Perguruan Paku Banten harus terus dipelihara dan dikembangkan menurut perkembangan zaman tanpa merusak seni dan budaya yang lebih dahulu telah mengakar di bumi provinsi Lampung. Selain itu, seluruh Tokoh Perguruan Paku Banten berkomitmen untuk terus menjaga, memelihara, dan mempertahankan persatuan dan kesatuan bangsa dengan meningkatkan rasa kekeluargaan, persahabatan dan persaudaraan tanpa mengenal suku bangsa dan asal usul masyarakat khususnya yang berada di provinsi Lampung demi menjaga keutuhan bangsa. Perguruan Paku Banten sendiri sebagai organisasi tidak hanya diakui di provinsi Lampung, Paku Banten telah cukup dikenal baik seperti di Sumatra Selatan, Banten, Jakarta, Jawa Barat dan lain-lain. 


Akan tetapi pada awal 31 berdirinya, Perguruan Paku Banten belum memiliki pondasi sebagai salah satu berdirinya organisasi, yaitu AD/ART (Anggaran dasar/Anggaran rumah tangga). Barulah pada tanggal 24 April 2007 diadakan untuk pertama kalinya Musyawarah Besar Perguruan Paku Banten dimana pada musyawarah tersebut dibentuklah struktur resmi dan AD/ART dari Perguruan Paku Banten. Pada musyawarah tersebut diikuti perwakilan warga Banten yang ada di provinsi Lampung yang tiap kabupaten diwakili DPC Kabupaten/Kota. Total ada 11 DPC Kabupaten/Kota yang mengikuti Musyawarah Besar Perguruan Paku Banten.sumber : http://digilib.unila.ac.id/

Pengurus Paku Banten Sumsel Dilantik
Pengurus Paku Banten Sumsel Dilantik - BANTEN.JPG

SRIPOKU.COM, PALEMBANG - Guru Besar Paku Banten Indonesia H Mukri MZ melantik sejumlah anggota dan pengurus Paku Banten Indonesia Sumsel periode 2012-2018 di Halaman Kantor Gubernur Sumsel, Jalan Kapten A Rivai Palembang, Minggu (1/4).
Acara ini dihadiri Kadinas Perhubungan yang juga Ketua Koordinator Paku Banten Indonesia Sumsel H Sarimuda MT, Ketua Umum Paku Banten Indonesia H Irham Jafar Lan Putra, perwakilan organisasi pemuda di Palembang, tokoh pemuda, tokoh masyarakat, tokoh agama dan masyarakat Banten yang ada di Palembang.
Dalam sambutannya Ketua Umum berpesan agar masyarakat paku Baten yang ada di Palembang merupakan bagian dari wong Palembang.
"Lakukan koordinasi dan siap kerja untuk menyukseskan Pemilu di Sumsel dan berguna bagi masyarakat Indonesia," ujar Irham.

Senin, 21 November 2016

Penyebaran Silat Beksi di Palembang

Aliran silat khas Betawi memang beragam jenis dan alirannya salah satunya yang cukup terkenal adalah maen pukul Beksi atau silat Beksi, sehingga hampir di setiap sudut Jabodetabek ada lokasi pelatihan silat beksi ini.

Dengan Pukulan menggunakan kepalan terbalik dan seringnya tampil pada kegiatan seni dan budaya betawi seperti acara Palang pintu di setiap pernikahaan ataupun festival yang di adakan oleh pemerintah setempat, seperti yang rutin di lakukan oleh pemerintah DKI adalah festival Palang pintu Kemang yang di hadiri oleh banyak pendekar dari berbagai macam aliran silat di betawi khususnya.

Sumber : Youtube

Terkait dengan aliran silat yang sudah di ceritakan di atas ternyata di Palembang banyak praktisi-praktisi silat Beksi yang juga menekuni ilmu beladiri ini. Di Palembang sendiri pencak silat beksi sudah di bawa ke palembang sekitar tahun 1940-1950 an di mana banyak warga khususnya dari Tanggerang yang masuk ke Palembang untuk mencari penghidupan.

Seperti sejarah dari "Perguruan silat "beksi" belibis putih  Waspada "di satukan oleh 4 orang guru dari tanah jawa barat (tangerang) dan di buka oleh pada sekitar tahun +/- 1960-an di seputraran 19 Ilir yang sekarang menjadi sekretariat Perguruan silat Beksi Belibis Putih, dimana perguruan ini memiliki 3 lokasi tempat latihan yang saat itu di bimbing oleh para pendiri Beksi belibis putih, adapun ke 4 guru tersebut adalah :

Kadiralm.abah Nasim (Baju Putih Topi Putih) abah Lipar (Baju Coklat Muda celana Hitam) dan alm.abah Edi (Baju Garis-garis) Foto : dhanieaquarius16
  • Perguruan beksi di 19 ilir (pendiri alm abah cenung & alm muh nur) – menganut Beksi aliran 2 tangan
  • Perguruan beksi di 27 ilir (pendiri alm abah nasim) – Menganut Beksi aliran tangan sebelah,
  • Perguruan bukit besar (pendiri alm abah raimun) -  Menganut aliran silat beksi tangan sebelah dan suliwa pukul.
Dan dari perguruan ini juga sudah banyak menghasilkan murid-murid yang memiliki kemampuan main pukul Beksi ini,  dimana kejayaan perguruan beksi ini mulai tahun 1980 s.d 2000-an, dan terdaftar di IPSI kota Palembang sejak tahun 1991, dan murid-murid pun sudah tersebar sampai ke Martapura OKU Timur, belitang, dan lahat. Tetapi sejak meninggalnya guru Beksi abah Cenung di tahun 2005 perlahan perguruan ini mengalami ke “vakum” yang cukup panjang sehingga di tahun 2013 mulai bangkit kembali sampai saat ini.

Mang Pudin 13 ilir Foto : myunus.abdullahsyirot
Selain yang berbentukperguruan yang resmi yang tergabung dalam induk organisasi silat seluruh Indonesia atau IPSI banyak juga praktisi silat Beksi di Palembang mengajarkan ilmu maen pukul ini ke masyarakat luas, seperti di kawasan 13 Ilir yaitu Alm Bapak Syarifuddin Bin Ampang atau lebih deikenal dengan Mang Pudin/ Wak Pudin. beliau yang sudah lama tinggal di kawasan 13 ilir ini juga berasal dari Tanggerang dan baru saja meninggal pada Agustus 2016.

Begitu juga Bapak Naiman yang sudah lebih dahulu meninggal di bandingkan dengan Bapak Syatifuddin bin Ampang yang juga berdomisili di  13 ilir ini, dan Bapak Naiman ini saat itu mengajar di seputaran pasar kuto, kebon ubi ( sekarang rumah susun), talang betutu, sako  dan beberapa tempat lainnya. Menurut penuturan anak beliau Jaja atau yang di kenal dengan panggilan wak Ujang, bahawa aba beliau (Naiman) masih bersahabat akrab dengan salah satu pendiri beksi waspada Belibis Putih yaitu abah Raimun.

Mereka belajar ilmu Beksi ini dari orang tua beliau secara turun menurun, sehingga beliau menyebarluaskan ilmu ini kepada masyarakat banyak terutama di kawasan 13 Ilir, 14 Ilir, 10 Ilir dan sekitarnya. Banyak murid-murid beliau yang sudah belajar ilmu silat Beksi ini berkat tangan dingin beliau.

Begitu juga di beberapa tempat lainnya seperti di kawasan 5 ilir ada juga penyebaran ilmu silat Beksi ataupun di sako, tetapi seperti yang saya ungkapkan di awal meraka bukan di dalam organisasi resmi tetapi individu-individu.

Silat Beksi dan Sedekahan/Selamatan

saat di kacer Foto :www.facebook.com
Silat Beksi tidak pernah melakukan promosi khusus untuk menerima murid baru, mereka para calon murid datang sendiri kemudian diberikan pengarahan seperlunya tentang Beksi, setelah itu keputusannya diserahkan kembali kepada mereka apakah tetap mau masuk menjadi murid atau tidak. Biasanya setelah diberikan informasi mereka menyatakan persetujuannya, lanjutnya di adakanlah sedekahan atau selamatan.

Di mana Sedekahan ini merupakan tradisi yang sampai sekarang masih di lakukan oleh guru-guru beksi yang ada di Palembang
  • Sedekah yg pertama untuk kita sumpah,  Itu pun sedekah nya ramai ramai pling tidak sepuluh orang yg ikut masuk sumpah, guna nya sumpah disini sangat melarang untuk berkelahi sesama PESILAT BEKSI ,dan tidak untuk digunakan kejahatan..karana sumpah itu diri kita sendiri dan kpada ALLAH SWT.
  • SEDEKAH yg kedua dinamakan sedekah BATANG/NGEBATANG ialah setengah perjalanan ayam kampung jantan satu orang satu yaitu ayam kampung jantan yg belum kawin dan di masak dan di makan bersama-sama.
  • SEDEKAH yg ketiga KANCING /NGEDUS (bahasa tangerangnya) barang di persiapkan :
  1. Pisau Cap Garpu jerman no 1 ( Pisau ini bukan untuk perguruan tetapi untuk di simpan sebagai “Pakaian” / senjata yang sering di bawa sehari-hari* dan tidak boleh di gunakan untuk memotong atau lainnya.
  2. Kendi air satu buah  yang biasa di pakai buat mengubur ari-ari bayi.
  3. Kain putih kafan 3 meter untuk menutup sebagai pengunci latihan silat .
*) Merupakan sarana beladiri dan harus di simpan baik-baik

Kesemua perlengkapan upacara tersebut hanya menjadi syarat untuk mengingat makan dan minuman kesukaan leluhur dan sesudah upacara dilaksanakan, maka bahan makanan dan minuman dapat dimakan dan minum bersama.Kemudian untuk tidak memberatkan maka pengadaan perlengkapan tersebut disesuaikan dengan kondisi keuangan sang murid/calon murid.

Sumber :
Facebook : PERGURUAN PENCAK SILAT "BEKSI" BELIBIS PUTIH PALEMBANG
Interview Jaja 13 Ilir
Dan di rangkum dari beberapa sumber lainnya

Sabtu, 19 November 2016

Manajemen Perguruan Silat di Palembang

Foto : Google.com

Silat merupakan salah satu budaya asli bangsa ini yang tidak bisa di pisahkan dalam kehidupan sehari-hari, di Jakarta di kenal dengan maen pukul, di tanah sunda di kenal dengan maenpo nya, di Minangkabau di kenal dengan besilek, dan di Sumatera bagian selatan sendiri di kenal dengan bekuntau atau betanggem.

Era tahun 1990-an di Palembang beberapa perguruan pencak silat yang ada saat itu menghilang dengan sendirinya di telan zaman, seperti perguruan pencak silat Rajawali Sakti yang pernah saya lihat di kawasan Silaberanti Plaju dengan seragam merah putih, atau perguruan silat kenari putih yang menggunakan seragam kuning-kuning ataupun perguruan walet putih yang sempat menjadikan halaman SMP 35 Palembang menjadi tempat latihan.

Banyak penyebab yang menjadikan timbul tenggelamnya suatu perguruan silat tersebut antara lain :
1.    Mangkatnya guru besar perguruan yang belum menyiapkan generasi penerus
2.    Berpindahnya yang mengadakan kegiatan silat tersebut ke daerah lain.
3.    Perguruan tersebut untuk kalangan khusus.
4.    Ataupun alasan-alasan lainnya

Sehingga dengan adanya beberapa faktor diatas banyak menyebabkan timbul tenggelamnya suatu perguruan silat, jika merujuk kepada http://www.silatindonesia.com/ mengenai kategori perguruan silat dan management perguruan silat maka Perguruan Silat dikategorikan menjadi 3 yaitu :

·     Tradisional - perguruan tersebut dikelolah secara tradisional dan biasanya didanai sendiri oleh sang guru atau anggotanya. Di Palembang setelah di lakukan penelusuran banyak praktisi-praktisi pencak silat yang memiliki kemampuan yang di wariskan dari leluhur mereka yang mayoritas pendatang dari luar, seperti yang di lihat di kawasan 13 ilir banyak juga yang menguasai aliran silat beksi atau cimande, dan di kawasan Nigata Plaju juga ada yang mengajarkan TTKKDH (Tjimande Tari Kolot Kebon Djeruk Hilir) atapun Cimande Tari Kolot, atau di kawasan Dusun Sei Kedukan Banyuasin mengklaim diri sebagai aliran golok saliwa.

Kebanyakan mereka ini juga mengajar di lingkungan sekitarnya dengan seadanya, tanpa seragam yang formal, tanpa waktu yang terikat dan tanpa banyak aturan atau regulasi yang membatasi. Karena di maklumi ini juga di latari dari tingkat pendidikan yang tidak terlalu tinggi dan pekerjaan yang mereka lakoni banyak di sektor informal sehingga membuat mereka “minder” untuk berorganisasi.

Perguruan silat semacam ini yang banyak bubar, karena organisasi yang mereka belum memiliki aturan yang bisa menggerakan organisasi.

·   Semi tradisional - perguruan sudah memiliki perangkat organisasi sederhana seperti ketua, sekretaris, bendahara dan sie.2 bagian lainnya, untuk dana sudah mulai dikelolah dengan baik, dana bisa diambil dari iuran atau mencari sponsor ataupun usaha lainnya (contoh : menjual pernak-pernik silat) tetapi tidak kehilangan sifat tradisionalnya seperti pengajaran dan pengawasan langsung oleh guru dan nilai-nilai lainnya.

Di Palembang sendiri pada awal tahun 2000-an sendiri banyak bermunculan perguruan-perguruan baru yang di lahirkan oleh para pemuda-pemuda di kota ini seperti contoh Perguruan pencak silat Jari Sakti, Perguruan Pencak Silat Bintang Selatan dan Perguruan pencak silat Satria mandiri yang sanggup mengukir prestasi di beberapa even kejuaraan lokal maupun nasional.

Kebanyakan perguruan-perguruan silat di Palembang pada khususnya masih berkutat di perguruan semi tradisional ini, mereka sudah memiliki struktur, mereka sudah berorganisasi dan mereka sudah mempunyai jalur pendidikan yang jelas, tetapi kendala mereka pengembangan perguruan untuk membuka tempat latihan-latihan di tempat lain masih menjadi kendala bagi mereka, terkadang mereka sudah memiliki cabang di beberapa propinsi tetapi tidak terlalu berkembang karena terlalu berkiblat dengan pusat terutama masalah pendanaan.

·  Modern (Profesional) - perguruan pada tingkat ini sudah mengikuti benar-benar sistem keorganisasian dan bertujuan mencari keuntungan, bisa di bilang perguruan-perguruan historis seperti Tapak Suci Putera Muhammadiyah, Persaudaraan Setia Hati Terate, Klatnas Perisai Diri ataupun merpati putih merupakan sebagian dari perguruan silat yang ada di Indonesia yang merupakan organisasi yang solid di mana mereka juga sudah mengembangkan sayap perguruan mereka sampai ke manca negara.

Adapun tahap-tahap pembentukan management perguruan silat (sumber *)

1.     Membuat AD/ART dapat melalui musyawarah antara guru dan murid
2.     Membuat Program latihan dan jenjang/tingkat pelatihan dapat dibuat pertahun, perdua tahun atau semaunya, paling tidak untuk awalnya adalah menyusun setiap tahapan latihan misal dari teknik dasar kemudian jurus dan aplikasinya.
3.  Membuat Susunan organisasi bisa dibagi 2 yaitu bagian pengurus untuk mengatur organisasi dan bagian untuk mengurus pelatihan tentu saja penempatan orangnya disesuaikan dengan kemampuan.
4.  Masalah pengawasan, dalam organisasi maupun pelatihan haruslah dipilih seorang atau beberapa orang untuk mengawasi program yang telah dibuat karena pengawasan yang asal-asalan akan menjadikan bumerang bagi perguruan silat yang ada, salah satu contoh waktu mulai latihan jika di biarkan maka bisa-bisa latihan akan gagal di sini di tuntut ketegasan pelatih dan pengawas perguruan jangan sampai program yang ada di perguruan tidak jalan sama sekali.
5. Tetapkan masa evaluasi program dapat berupa musyawarah atau berupa kenaikan tingkat.
6.    Masalah pendanaan - jika sudah dibuat seperti organisasi tentulah seharusnya semua diatur dengan baik seperti ketika mengadakan acara kegiatan diadakan laporan mengenai kegiatan tersebut dan pasti untuk mengurus masalah ini kadang membutuhkan dana, dana bisa didapat dari iuran yang disepakati bersama atau usaha lainnya.
7.    Jika perguruan sudah memiliki 20 atau lebih anggota setara pelatih / dibawah guru dapat didaftarkan ke IPSI. 
8.   Bisa juga di sahkan di notaris dengan membentuk yayasan tetapi ini sebagai alternatif terakhir karena sedikit ribet dan dana yang di keluarkan tidak sedikit.

Di rangkum dari sumber :
                           Wawancara langsung dengan beberapa praktisi silat di Palembang
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...