CANTUMKAN SUMBERNYA JIKA MENGGUNAKAN GAMBAR ATAU ARTIKEL DARI BLOG INI - HORMATI HAK CIPTA ORANG LAIN.

Kamis, 09 November 2017

Perguruan Pencak Silat Cimande Kilat



SEJARAH
PERGURUAN PENCAK SILAT CIMANDE KILAT INDONESIA

TENTANG SILAT CIMANDE

Sebenarnya apa sih pencak silat Cimande itu? Cimande adalah jenis pencak silat yang mengandalkan tangan kosong untuk membela diri. Dalam arti, gerakan-gerakan yang dilakukan seorang pendekar menjadi gerakan yang mengeksploitasi ang-gota tubuh manusia sebagai anugerah Tuhan.

Bahwa ada juga jurus atau gerakan yang menggunakan tongkat, itu lebih dimaksudkan sebagai simbol pengakuan: tubuh manusia, khususnya kedua tangan tetap saja memiliki berbagai keterbatasan. Selain membentuk kekuatan fisik, silat Cimande juga membentuk kekuatan batin dengan meningkatkan rasa kepercayaan diri dan menimbulkan kerendahan hati. Sebenarnya, makna yang terkandung dalam ilmu silat Cimande adalah penjabaran dari sebuah filosofi yang menuturkan bahwa di atas langit masih ada lagi langit lain yang lebih tinggi. Di atas puncak gunung, ada puncak gunung yang lebih tinggi. Sehebat apapun manusia, pasti ada manusia lain yang lebih hebat dan kuat. Dengan dasar filosofi itulah ajaran silat Cimande menuntun seseorang menjauhkan diri dari sifat kesombongan.

Awalnya silat Cimande dipopulerkan oleh Abah Kahir. Dialah yang pertama kali menciptakan aliran Cimande. Lelaki yang hidup sekitar abad ke-17 dan tinggal di tepian sungai Cimande, Bogor, Jabar ini, menurut cerita, menciptakan jurus berdasarkan gerakan seekor monyet dan harimau. Inilah yang menjadikan Cimande menjadi terkenal dengan pencak silatnya. Bahkan sudah terkenal dengan nama silat Cimande.

Pahlawan Betawi yaitu Si Pitung dipercaya juga berasal dari aliran perguruan silat ini. Mbah Khair juga memiliki murid bernama Mbah Datuk dan Mbah Jago dari Sumatera Barat. Kemudian keduanya menyebarkan silat Cimande di tempat mereka berasal, sehingga bisa dikatakan bahwa Pencak Silat Cimande adalah saudara tua dari pencak silat, termasuk Silek Minang yang berasal dari Sumatera Barat.

CIMANDE KILAT

Cimande kilat yang ada di Palembang sendiri di bawa oleh ustad Ahmad Syafe’i yang merantau dari tanah kelahiranan beliau di Karang Agung kabupaten Banyuasin - Sumatera Selatan yang di tempuh cukup lama dengan perjalanan sungai dengan menggunakan speedboat.

Di daerah Karang Agung ini  ustad Ahmad Syafe’i mempelajari ilmu dan tehnik silat Cimande kilat ini dari guru beliau bernama Wak S’ian bin Anam atau yang sering di panggil dengan engkong  (yang sudah meninggal beberapa tahun yang lalu) yang di pelajari hampir setiap malam bersama beberapa murid beliau yang lainnya.

Wak S’ian belajar ilmu cimande kilat ini dari bapak beliau yaitu Anam bin Pulan di mana asal beliau dari rawa belong, Jakarta Barat di sini guru Anam menimbah ilmu dari guru beliau di di mana salah satu dari sanad gurunya bernama Madisa bin Pulan yang masih memiliki kekerabatan dengan jawara betawi si pitung selain dari siti sari binti pulan.

Ustad Ahman Syafe’i tidak hanya belajar tehnik silat Cimande kilat saja tetapi belajar juga ilmu kebatinan dan tehnik pengobatan yang juga di ajarkan oleh guru beliau Wak bawi bin pulan atas petunjuk dari guru Wak S’ian bin Anam. Dan dengan adanya keahlian ini banya membantu warga di 13 ilir dan sekitarnya  dalam hal pengobatan, selain itu ustad Ahmad Syafe’i juga memiliki keahlian dalam membaca Al-Quran sehingga tidak heran jika beliau sering di undang dalam acara-acara resmi maupun tidak resmi sebagai Qori dan di keseharian beliau juga sering di minta untuk mengajar mengaji di kediaman beliau.

Cimande kilat ini memiliki kembangan sebanyak 12 kembangan dan isian atau tehnik bertarung juga sebanyak 12 isian. Kecepatan dan kejelian dalam penggunaan kembangan atau isian sehingga kita bisa merasa rill di dunia pertarungan.

Cimande kilat di Palembang sendiri sebenarnya sudah ada +/- 15-20 tahun yang lalu di mana saat itu yang latihan masih di dominasi oleh anak-anak majelis taklim di kawasan 10 ilir , 13 ilir dan 5 ilir, ini di karenakan karena Ustad Ahmad Syafe’i juga aktif di dalam majelis taklim tersebut.

Tapi pelatihan ini tidak bertahan lama karena sistem yang belum terorganisasi dan belum ada organisasi resmi sehingga keluar masuk anggota cepat sekali padahal anggota aktif saat itu sudah mencapai 50 orang, dengan beberapa tempat pelatihan seperti di makrayu, sultan syahrir dan plaju dan beberapa tempat lainnya.

Jumat, 04 Agustus 2017

Pencak Silat Maung Bodas

SEJARAH SINGKAT “ PENCAK SILAT MAUNG BODAS “.
PENCAK SILAT MAUNG BODAS ( HARIMAU PUTIH ) pertama kali didirikan di Sumatera Selatan tepatnya di Jl. Ki Marogan, Lr. Wijaya, Rt 35, Rw 07, Kel. Kemang Agung, Kec. Kertapati Palembang, Sumatra Selatan. Pencak silat maung bodas berasal dari tanah jawa yang diambil dari KERAJAAN SILIWANGI. Tehnik dan gaya bertarung pendekar Pencak silat maung bodas seperti seekor maung putih ( harimau putih). Pencak silat maung bodas pertama kali terbentuk di Sumatera Selatan pada tanggal 21 Januari 2016 di kota Palembang.

Guru Besar pencak silat maung bodas sendiri bernama Abah Sutarjo yang lahir di Palembang pada tanggal 06 Juni 1960. Makna dari pencak silat maung bodas ( harimau putih ) sendiri terinspirasi dari gerakan harimau yang pemberani, tegas, gesit, lincah, dan tangguh namun sangat menyayangi keluarga. Sedangkan kata bodas berarti putih yang melambangkan  kejerniahan hati, budi pekerti yang luhur, dan suci.


Pencak silat maung bodas ( harimau putih ) memiliki beberapa tahapan agar menjadi seorang pendekar  yang tangguh, gagah, dan berwibawa serta menjunjungi tinggi sopan santun dan nilai-nilai moral. Pencak silat maung bodas sendiri bertujuan untuk masyarakat banyak tanpa melihat ras dan agama, dan tentunya pencak silat maung bodas sendiri di didirikan bertujuan untuk dapat mengharumkan nama pencak silat Indonesia di luar negeri maupun di dalam negeri terutama pencak silat maung bodas ( harimau putih ) itu sendiri.

KELUARGA BESAR PENCAK SILAT MAUNG BODAS 
Open reqruitment Pencak Silat Maung Bodas 
Menerima pendaftaran setiap hari 
Lokasi pendaftaran    : Jl.Kimerogan Lr.wijaya 5 Rt.35 Rw.07 Kec.Kertapati Palembang 
Formulir pendaftaran : Rp.50,000 
Biaya 1x latihan         : Rp.5,000 
Lokasi latihan            : Jakabaring 
Waktu latihan             : Malam kamis & malam minggu 
Pukul                          : 20.00 wib  
Persyaratan latihan     : Baju kaos & celana training ( bagi yang belum memiliki seragam PSMB) 
Bagi yang kurang jelas hubungi di nomor 08993795103 

SETIAP MURID DATANG DI TEMPAT, DI DIDIK ,DI LATIH UNTUK MENJADI PENDEKAR SEJATI BANGSA!!!

Sumber : http://psmaungbodas.blogspot.co.id/

Senin, 24 Juli 2017

Seni Beladiri Pencak Silat Jatayu


SEJARAH PENCAK SILAT JATAYU

Aliran ini adalah olah kanuragan gerak beladiri yang diciptakan melalui suasana alam semesta dan isinya. Olah kanuragan ini dimasa dahulu kala, pada zaman kerajaan majapahit mulai dikenal dengan gerak pleret yang dimiliki dan dipelajari oleh sespuh patih "Gajah Mada" sebagai panglima perang yang mana beliau memiliki/belajar pada sesepuh Yai Panunggal. Dalam belajar olah kanuragan berteman yang bernama sesepuh Singolawe. Pada masa runtuhnya kerajaan Majapahit, Gajah Mada wafat dan tak seorang pun beliau menurunkan dan mengajarkan olah kanuragan tersebut dalam pengembaraannya dan beliau mengajarkan seluruh kemampuan yang dimiliki secara perorangan dengan suatu harapan yang diamalkan akan tidak hilang dimasa akan datang.

Dalam masa penjajahan Belanda olah kanuragan ini dilarang untuk diajarkan dan dimiliki oleh orang pribumi, setiap ada kelompok yang berlatih olah kanuragan selalu dibubarkan dan dikejar-kejar karena pada waktu itu ada sekelompok pemuda desa yang memiliki olah kanurgan selalu mengacau patroli-patroli Belanda, oleh sebab itu banyak orang-orang pribumi ditangkap, disiksa secara tangan terikat lalu ditarik pakai kuda, juga banyak ditembak mati. Belanda mengecap kelompok ini sebagai gerombolan dan perampok.

Olah kanuragan ini lambat laun tidak berkembang dan hampir punah/musnah, secara sembunyi-sembunyi mereka belajar dan menekuni olah kanuragan ini dengan jumlah orang yang sangat terbatas. Dari generasi olah kanuragan ini hampir musnah. Kebetulan salah satu pewaris (ntah generasi berapa) dalam penjajahan Jepang beliau mengajarkan kepada pemuda-pemuda desa di Jawa Tengah yaitu yang bernama Mangun Negoro dan diturunkan pada sesepuh Soebarni Ponco Sekti cikal bakal perguruan seni beladiri Pencak Silat Jatayu dengan aliran pleretnya. Untuk perkembangan aliran pleret dibentuk lah olah kanuragan yang disebut Jatayu. Diwilayah Sumatra Selatan ditindak lanjuti oleh salah satu muridnya yaitu Bambang Semeidi pada tahun 1979, Perguruan Jatayu aktif melatih dan mendidik pemuda-pemudi diwilayahnya yaitu Sumatra Selatan,Palembang. Dengan minatnya oemuda-pemudi belajar mengenal olah kanuragan beladiri pleret, maka dengan kesepakatan bersama pada tanggal 15 Mei 1981 dibentuk susunan pengurus yang mana Bambang Semeidi menjadi Guru Besar dari Perguruan Jatayu dan terdaftar pada IPSI padatanggal 12 Mei 1982 di Palembang.


Puji syukur kehadirat tuhan dalam perkembangannya seni olah kanuragan ini yang bernama Seni Beladiri Pencak Silat Jatayu cukup mendapat aspirasi dari generasi muda khususnya anggota untuk mencapai prestasi dalam belajar dan mengikuti kejuaraan antar kecamatan antar perguruan dan antar daerah yang diselenggarakan oleh IPSI.

Sekiranya tuhan dapat melimpahkan naungannya menuju keberhasilan yang kami inginkan dan cita-cita bersama untuk membina, mewariskan budaya nenek moyang pada generasi muda menuju keteladanan yang baik.

Arti dari JATAYU sebagai berikut :
JA   : Tegak
TA   : Hening, Bersih (Suci)
YU  : Batin 

Yang artinya selagi hidup berjalanlah kepada kebenaran dan kesucian batin, tegar (kokoh) dalam melaksanakan kejujuran dan kebaikan .
Pantun Leluhur :
Semut berbaris begaikan tali 
Panjang melengkung selalu teratur 
Sapaan dan senyuman selalu bertemu
Bila terganggu gajah pun akan berlari

Adapun pantun ini petuah/nasehat pada generasi muda-mudi yang mengenal olah kanuragan aliran pleret. Dari pantun tersebut tersimpul sifat gotong royong, sifat ramah tamah, sifat kerja sama, sifat disiplin dan sifat kejujuraan.
IKRAR PERGURUAN PENCAK SILAT JATAYU
Kami pendekar putra dan putri Indonesia berpegang teguh kepada :
1. Tuhan yang maha esa
2. Disiplin dan jujur
3. Membantu dan menolong, tidak mengharap imbalan jasa
4. Berjiwa tabah dan berani
5. Dapat menguasai diri
6. Kesatria dan sopan
7. Setia pada bangsa dan tanah air Indonesia
PUSAT PELATIHAN PENCAK SILAT JATAYU
PUSAT SEKRETARIAT : JL.NUANSA BARU RT.12 RW.03 SEKOJO UJUNG JL.TANSA TRISNA KEL.SRIMULYA KEC.SEMATANG BORANG, PALEMBANG SUMATRA SELATAN.

CABANG JATAYU     : JL.KIMEROGAN LRG.WIJAYA (WIJAYA 5 ) RT.35 RW.07 KEL.KEMANG AGUNG KEC.KERTAPATI, PALEMBANG SUMATRA SELATAN.

Perguruan Pencak Silat Jatayu salah satu wadah pembinaan olahraga, budaya pencak silat peninggalan leluhur berkedudukan di Sumatra Selatan khususnya di Palembang.

Perguruan Pencak Silat Jatayu bersifat kekeluargaan, persaudaraan dan kemasyarakatan yang mengurah kepada kejujuran dan tidak berafiliansi kepada golongan dan politik.

Perguruan Pencak Silat Jatayu melakukan aktifitas pembinaan menuju pembentukan moral, mental spritual generasi bangsa.

 Perguruan Pencak Silat Jatayu/Pengurus dan anggota menghargai semua aliran seni beladiri pencak silat baik dalam bentuk beladiri lainnya, serta menjalin hubungan baik dengan aliran perguruan beladiri lainnya dan hubungan baik dengan pemerintahan dan lembaga keolahragaan yang ada.

Berminat untuk bergabung hubungi :
0821-7707-1666 ( Bpk.Bambang Semeidi)
0812-7334-4671 ( Bpk Sutarjo )

Sumber : https://pencaksilatjatayu.blogspot.co.id/


Senin, 17 April 2017

Film Surau dan Silek


Adil (11th) adalah seorang anak yatim yang sangat menginginkan Ayah nya masuk surga dengan cara menjadi anak yang shaleh. Di saat yang bersamaan Adil juga sangat berambisi memenangkan pertandingan Silat di kampungnya. Ambisi Adil ini di dasari oleh kekalahan yang di alaminya pada pertandingan periode sebelumnya. Adil di kalahkan oleh Hardi (11Th) dengan kecurangan. Namun hal ini tidak di akui oleh Hardi. Karena menurut Hardi, Adil hanya mencari-cari alasan atas kekalahannya. Teman seperguruan Adil yang juga merupakan sahabatnya; Dayat (11th) dan Kurip (11th) ikut mendukung upaya membalaskan dendam kekalahan tersebut. Dengan semangat yang tinggi mereka mempersiapkan diri menuju pertandingan berikutnya yang akan di adakan 6 bulan lagi.

Literasi Masyarakat Minang dalam Film "Silek dan Surau"

Dalam masa persiapan tersebut tiga sekawan; Adil, Dayat dan Kurip mengalami berbagai rintangan; Mulai dari guru silat mereka Rustam (27) yang pergi merantau, keinginan Adil untuk menjadi anak shaleh yang kadang bertentangan dengan ambisinya, pertikaian yang terjadi di antara Tiga Sekawan dalam memandang makna silat, Hardi dan kawan-kawan yang selalu membully Adil, Dayat dan Kurip serta pencarian guru silat pengganti yang gagal disaat waktu menuju pertandingan terus berjalan. 

Rani (11th) merupakan teman sekolah Tiga sekawan (Adil, Kurip dan Dayat). Rani yang mengagumi Adil secara diam diam berusaha untuk mencarikan solusi terhadap kegalauan yang di hadapi oleh teman-temannya. Berkat usaha Rani inilah semua rintangan yang di hadapi oleh Tiga sekawan ini dapat teratasi. Berhasilkah Tiga Sekawan menemukan guru silat serta memenangkan pertandingan?
.
Cast
@Dewiirawan13
@gilangdirga
@komoricky
@praz_teguh
Yusril Katil – Razy – Bintang Khairafi – Bima J – Randu – Fauquelin Barry Cheln
Director @arief_malinmudo

Sumber : http://mahakaryagroup.co.id/

Rabu, 12 April 2017

Tari Kundur


" Tari Kundur "
Pelestarian khazanah seni budaya tradisional Pencak Silat Kuntau Palembang. 

Kundur adalah salahsatu jenis alat senjata tradisional tempo doeloe.

Video by : https://www.facebook.com/andi.s.kemas...

Sabtu, 01 April 2017

Video Pencak Palembang



Pencak Palembang .... dalam acara Betanggem yang di motori oleh Ustad KH. Taufik Hasnuri, ustad KH. Nurdin Mansyur, Ustad Kms. H. Andi Syarifudin, acara yang di selenggarakan dalam rangka menyemarakan HUT RI tahun 2016 di ikuti juga oleh beberapa perguruan silat yang ada di Palembang  yang di selenggarakan di padepokan ustad KH. Taufik Hasnuri di pedatuaan laut 12 ulu Palembang

Video by : https://www.facebook.com/Harris.entertain

Selasa, 21 Maret 2017

Ishak Mekki: Pencak Silat Masih Diminati Generasi Penerus Sumsel

Ishak Mekki: Pencak Silat Masih Diminati Generasi Penerus Sumsel

KORDANEWS – Sebagai negara besar, Indonesia banyak memiliki warisan budaya yang mendunia. Salah satu warisan budaya tersebut adalah pencak silat ilmu bela diri yang menjadi ciri khas Indonesia umumnya dan Sumatera Selatan khususnya. Dalam hal ini masyarakat provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) sendiri masih menunjukan kecintaanya terhadap seni bela diri pencak silat, terbukti dengan dilaksanakanya Napak Tilas HIPSI (Himpunan Pencak Silat Indonesia) kota Palembang yang berlangsung di Komplek Ilir Barat Permai, Minggu (19/03).

Kerajaan-kerajaan besar, seperti Sriwijaya pada masa kejayaanya disebut-sebut banyak memiliki pendekar-pendekar besar yang menguasai ilmu bela diri yang mumpuni dan dapat menghimpun prajurit-prajurit. Itulah mengapa pencak silat diakui ilmu yang mendarah daging dari warisan budaya.

Napak tilas yang dihadiri lebih dari 400 pendekar dari 30 perguruan ini tampak bersemangat menyambut kehadiran Ketua IPSI Sumsel yang juga Wakil Gubernur Sumsel H. Ishak Mekki. Wakil Gubernur dalam kehadirannya membuka dan melepas langsung kontingen Napak Tilas HIPSI Sumsel, acara juga dilanjutkan dengan rapat kerja ke III IPSI Kota Palembang.

Sebagai Ketua Umum IPSSI Sumsel, Ishak Mekki memberikan dorongan dan semangat kepada kontingen-kontingen pencak silat IPSSI Sumsel, untuk tetap mempertahankan pencak silat yang pernah menduduki masa kejayaan ini.

Sehubungan dengan tema yang digagas, pencak silat menyongsong Asian Games, diharapkan pencak silat dapat ambil bagian dalam event internasional tersebut.

“Harapan kita pencak silat salah satu cabang olahraga yang ditampilkan, supaya di pesta akbar nanti pencak silat mendapatkan juara, jangan sampai negara luar yang mendapat juara, kan pencak silat ini milik kita”
harapnya.

Menanggapi tidak adanya padepokan untuk berlatih pencak silat, dikatakan Ishak saat ini Pemerintah provinsi Sumsel sedang membangun Convention Hall di Jakabaring Sport City (JSC) untuk bisa digunakan berlatih pencak silat.

Lanjut Ishak menambahkan, generasi penerus harus mencintai pencak silat yang menjadi warisan budaya leluhur Indonesia sehingga pencak silat tidak dikuasai budaya luar, melalui HIPSI diharapkan dapat memberikan contoh yang baik terkait kegiatan yang teratur dan disiplin membentuk organisasi yang profesional, ditambah lagi program-program yang telah dicetuskan dapat menjadikan HIPSI semakin terdepan.

“Nah dari tapak tilas ini kelihata pencak silat di Sumsel banyak pengikutnya,” tutup Ishak

Turut hadir dalam kesempatan ini Ketua IPSI Kota Palembang M. Wiratama Yudha. ST, Ketua Harian IPSI provinsi Sumsel H.M. Al Fajri Zabidi. MM.MPDI, Para guru besar, para pendekar dan para sesepuh, serta peserta napak tilas HIPSI Palembang.

Editor: Janu

Senin, 20 Maret 2017

Petarung dari 30 Perguruan Silat Siap Duel di Porprov

Suasana Napak Tilas 30 Perguruan Silat yang dilaksanakan di halaman kompleks Ilir Barat Permai Palembang.

Palembang, Sumselupdate.com – Multi event olahraga bergengsi bakal digelar November mendatang di Jakabaring Sport City (JSC). Seluruh cabang olahraga tak ingin ketinggalan dalam ajang penyaringan prestasi atlet di 17 kabupaten/kota di Sumsel itu.

Tak ingin ketinggalan, cabang olahraga bela diri silat juga tengah bersiap diri dalam mempersiapkan petarung dari semua perguruan silat dengan melakukan napak tilas dari 30 perguruan silat di Sumsel.

Ketua IPSI Sumsel H Ishak Mekki, membuka langsung acara Napak Tilas dan Rapat Kerja III Himpunan Pencak Silat Indonesia Kota Palembang 3017, di Komplek Ilir Barat Permai, Minggu (19/3/2017).

Acara yang diikuti 30 perguruan se-kota Palembang, mulai dari perguruan Dikapasita, Bintang Selatan, Tunas Harapan, Macan Putih, Tegal Kunir Sakti, Garuda Mas Sakti dan lain-lain terasa meriah dengan parade pertunjukan seni dari para pendekar cilik.

“Bangga dengan seni budaya silat kita. Ini warisan budaya yang wajib terus kita kembangkan terus-menerus,” sapa Ishak Mekki.

Karena itu, lanjut wakil gubernur Sumsel ini, program kerja IPSI Palembang juga harus di kedepankan. Program jadi penting, untuk menunjang setiap kegiatan-kegiatan IPSI, untuk terus meningkatkan kualitas para pesilat di Palembang.

“Ini juga jadi bagian sosialisasi kita, untuk membersarkan IPSI kedepan. Agar pencak silat kita terus jadi andalan, tidak hanya di palembang tetapi di Indonesia. Baik diajang Nasional ataupun Internasional,” sambungnya.

Sementara Itu, Ketua IPSI Kota Palembang M. Wiratama Yudha mengatakan tujuan digelar rapat kerja adalah untuk mengevaluasi keseluruhan dari masing-masing cabang perguruan silat di setiap perguruan yang ada di Kota Palembang.

“Ini untuk memberikan laporan hasil kerja mereka selama ini di dalam perguruan masing-masing, apakah mereka bekerja sesuai dengan yang telah ditetapkan di setiap perguruan masing-masing,” jelasnya.

Yudha juga mengatakan, sejauh ini IPSI Kota Palembang sudah membentuk program-program kegiatan dalam periode satu tahun kedepan. Salah satunya yang paling ditekankan, yakni persiapan para atlet silat untuk menyongsong Porprov 2017, November nanti.

“Kita ingin mempertahakan prestasi mendali, di Porpov sebelumnya yang meraih 8 mendali. Bahkan harus kita tingkatkan lagi, hingga bisa menjadi juara umum nanti,” ujar Yudha.

Sebagai persiapan, rencananya IPSI Kota Palembang akan menggelar, seleksi atlet dari beberapa ranting. Lalu melakukan Training Center (TC) berjalan.

“Dari segi kepelatihan, kita juga rencananya akan melakukan pelatihan wasit dan Juri. Kita juga ada wacana dalam waktu dekat untuk mengelar IPSI Cup bulan Juli ini. Sekaligus untuk, menambah jam terbang tanding anak-anak kita,” ujarnya.

Di sisi lain, sebelum menyelenggaran rapat kerja, kegiatan tapak tilas pencak silat yang akan diikuti semua perguruan silat yang ada di Kota Palembang begitu meriah. “Tujuannya adalah agar mereka lebih kompak lagi dan saling bertemu serta saling bertukar pikiran untuk memajukan pencak silat,” tandasnya. (sbw)

Sabtu, 18 Maret 2017

10 Ribu Pendekar Akan Berkumpul Pada Pelantikan Pencak Silat NU Pagar Nusa Sumsel

10 Ribu Pendekar Akan Berkumpul Pada Pelantikan Pencak Silat NU Pagar Nusa Sumsel
Ketua Pencak Silat Pagar Nusa Sumatera Selatan, Emi Sumirta (tengah), saat memimpin rapat pelantikan. 
SRIPOKU.COM, PALEMBANG -- Pengurus Pencak Silat Nahdatul Ulama Pagar Nusa Sumsel dalam waktu dekat akan mengumpulkan 10 ribu pendekar pada pelantikan dan sekaligus apel akbar.

Hal ini terungkap pada pertemuan perdana pengurus Pencak Silat NU Pagar Nusa, Senin (13/3/2017) di Kantor Badan Diklat Kemenag, Jalan Demang Lebar Daun, Palembang.

Ketua Pencak Silat Pagar Nusa Sumatera Selatan, Emi Sumirta mengatakan, olahraga bela diri pencak silat merupakan tradisi para santri di lingkungan pesantren, sebagai kekuatan untuk menjaga NKRI.

Hal ini ditandai dengan hilangnya peran pesantren sebagai Padepokan Pencak Silat. Sejak jaman walisongo kyai-kyai pesantren adalah juga pendekar yang mengajarkan ilmu pencak silat dipesantrennya masing-masing. Namun seiring waktu, kenyataan tersebut mulai hilang. Untuk melestarikan hal tersebut, pihaknya sudah menyiapkan beberapa program dan kegiatan untuk melestarikan keterampilan bela diri.

Menandai program, nantinya pihaknya akan mengundang para pendekar yang ada di kabupaten atau kota di Sumsel. Untuk saat ini sekitar 10 ribu pendekar akan berkumpul.

"Kita sebagai organisasi Islam terbesar sudah selayaknya mempertahankan tradisi leluhur ini," katanya.

Padahal menurut dia, Pencak Silat NU Pagar Nusa sudah sering mengikuti berbagai kejuaraan. Dari setiap perlombaan yang diikuti kerap kali mendapatkan mendali emas.

"Kita sedang menyusun program kerja setelah pengurus terbentuk. Kejuaraan tetap menjadi fokus kita, selain itu juga tentunya mengembangkan sayap organisasi ini," katanya.

Selain itu, pihaknya juga siap menyukseskan Asian games 2018 dengan menurunkan beberapa pendekar untuk menjadi penerjemah para atlet, terutama bahasa Arab.

"Selain kita jago pencak, atlet kita juga pandai berbahasa Arab," katanya.

Sabtu, 04 Februari 2017

Siwar Sumatera Selatan

Siwar foto : http://bintangyangpalingterang.blogspot.co.id/
Sumatera Selatan adalah salah satu provinsi yang ada di Indonesia. Di daerah ini terdapat suatu senjata tradisional yang disebut sebagai siwar. Siwar atau sering juga disebut tumbak lado adalah suatu artefak yang berupa senjata tusuk genggam yang bentuknya menyerupai golok panjang dengan tajaman di salah satu sisi bilahnya. Senjata ini mempunyai kedudukan yang penting bagi seseorang, sehingga fungsinya tidak hanya sebagai alat untuk mempertahankan diri, melainkan juga sebagai benda keramat yang memiliki unsur kimpalan mekam atau kimpalan sawah1 (mempunyai kekuatan magis).

Struktur Siwar
Siwar adalah senjata yang bahan bakunya terbuat dari besi yang proses pengerjaannya umumnya dibuat oleh pandai besi di pedapuran tempat membuat alat-alat dari besi. Pada umumnya siwar berukuran antara 15-30 cm (skin rambai ayam) dengan lebar badan hingga ke matanya antara 1½-2 cm. Sedangkan, sarung dan gagang siwar terbuat dari kayu yang keras tetapi ringan agar dapat dibawa atau digunakan dengan mudah. Gagang siwar yang biasanya berornamen bunga atau tumbuhan bentuknya mirip dengan senjata reuncong namun membesar di bagian ujungnya.

Nilai Budaya
Skin sebagai hasil budaya anak negeri, jika dicermati secara seksama, di dalamnya mengandung nilai-nilai yang pada gilirannya dapat dijadikan sebagai acuan dalam kehidupan sehari-hari bagi masyarakat pendukungnya. Nilai-nilai itu antara lain: keindahan (seni), ketekunan, ketelitian, dan kesabaran. Nilai keindahan tercermin dari bentuk skin yang dibuat sedemikian rupa, sehingga memancarkan keindahan. Sedangkan, nilai ketekunan, ketelitian, dan kesabaran tercermin dari proses pembuatannya yang memerlukan ketekunan, ketelitian, dan kesabaran. Tanpa nilai-nilai tersebut tidak mungkin akan terwujud sebuah skin atau rambai ayam yang indah dan sarat makna. (pepeng)
________
1. Kimpalan Mekam dan Kimpalan Sawah adalah desa-desa para pandai besi pembuat siwar yang letaknya di daerah Kabupaten Lahat. Namun sayang, di kedua daerah itu tidak terdapat tanda-tanda adanya tempat pembuatan senjata tajam. Bahkan, Desa Mekam pun saat ini sudah tidak ada lagi.

Sumber:
Indones, Noor, dkk,. 1992. Senjata Tradisional Daerah Sumatera Selatan. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

di salin dari : http://uun-halimah.blogspot.co.id/

Jumat, 03 Februari 2017

Filosofi Kehidupan Dalam Ilmu Silat

Pesilat Minangkabau sumber : Tropenmuseum
Dalam ilmu bela diri, tersebar sebuah rahasia umum yang diketahui oleh khalayak ramai, bahwa guru bela diri tidak mengajarkan semua ilmunya pada sang murid. Misalnya, sang Guru memiliki 10 ilmu, maka yang diajarkan kepada murid hanya 9 dari 10 ilmunya. Setiap orang beranggapan bahwa, apabila guru memberikan semua ilmunya pada sang murid, apabila suatu saat sang murid balik melawan Guru, tentu saja guru akan kalah. Namun, apabila guru hanya memberikan 9 ilmu pada muridnya, maka ketika sang murid balik melawan guru, guru masih bisa menang dengan satu ilmu rahasia yang tersisa.


Semua orang beranggapan bahwa dalam ilmu bela diri inilah yang terjadi. Dapat dibayangkan bahwa apabila nantinya, murid yang mengusai 9 ilmu menjadi guru, dan selanjutnya Ia hanya akan mengajarkan 8 dari ilmu yang dimiliki, dan akan terus berlanjut seperti itu, sampai murid selanjutnya hanya mendapatkan sebagian saja dari ilmu silat yang sebenarnya. Ibarat ekor tikus, di bagian pangkalnya besar, namun semakin ke ujung akan semakin mengecil.

Awalnya, saya sependapat dengan anggapan ini, karena semua orang ingin menjadi yang terbaik dan nomor satu. Begitu juga bagi guru, tentu saja Ia tidak ingin ilmunya dikalahkan oleh muridnya sendiri. seperti halnya kasus ketika sang murid berbalik menantang sang guru, tentu saja guru harus mempunyai senjata rahasia atau ilmu pamungkas terakhir, karena walaupun guru sangat mengagumi muridnya, bisa saja sang murid berpendapat lain terhadap gurunya, siapa yang bisa mengerti kedalaman hati dan pikiran seseorang.

Namun, semua anggapan itu ternyata tidak seburuk yang kita pikirkan. Mungkin awalnya kita akan berpikiran negatif kepada sang guru, kenapa begitu pelit terhadap ilmunya, bukankah ilmu itu semakin diamalkan dan diajarkan, maka juga akan semakin bertambah. sebenarnya guru silat, tidak hanya mengajarkan ilmu silat saja kepada sang murid, tapi juga mengjarkan ilmu tentang kehidupan.

Lebih jelasnya, Guru silat tidak hanya mengajarkan langkah-langkah, atau jurus-jurus saja, tapi di dalamnya guru silat juga mengajarkan tentang kehidupan kepada sang murid. Apabila guru silat hanya memberikan semua ilmunya kepada sang murid, tentu hasilnya sang murid hanya akan menerima dari sang guru, maka dihasilkan pendekar-pendekar yang manja yang hanya menerima tanpa ada usaha untuk berkreasi. Dengan memberikan ilmunya sebagian kepada murid, maka sang guru mengajarkan kepada murid bahwa silahkan berkreasi dengan ilmu yang dimiliki, maka dihasilkan pendekar-pendekar yang kreatif. Atau dengan ilmu yang sebagian dari sang guru, maka sang murid akan mencari ilmu yang lain sehingga ilmu yang dimilikinya pun menjadi sempurna.

Jika kita refleksikan ke dalam kehidupan saat sekarang ini, sangat jelas terlihat, generasi yang manja dan hanya menerima saja, maka generasi itu tidak akan bertahan lama. Generasi yang dibutuhkan pada era ini adalah generasi yang kreatif dan inovatif. Generasi yang tidak manja dan bisa hidup mandiri. Generasi yang mau untuk terus belajar dan berkreasi, walaupun guru hanya memberikan ilmunya sebagian, bukan berarti peluang untuk mendapatkan ilmu tersebut akan tertutup, masih banyak lagi sumber ilmu yang bisa didapatkan.

Alam takambang jadi guru, sebuah pepatah minang, berarti bahwa kita harus bersikap dinamis dan selalu belajar dari alam. Seperti ilmu silat yang pada awalnya merupakan ilmu bela diri yang terinspirasi dari alam, gerakan harimau, tingkah kera, liukan ular dan sebagainya. Seorang pesilat atu pendekar yang kreatif tidak hanya menerima dari gurunya saja, namun juga belajar dari sumber-sumber yang lain, gurunya hanya menunjukkan jalan atau cara untuk menjadi seorang pendekar. Begitu juga hendaknya kita dalam kehidupan saat ini, jangan hanya manjadi cangkir yang selalu menerima dari cerek, tapi kita juga harus “manakiak nan kareh, manjampuik nan jauah” (artinya; menusuk di tempat yang keras dan menjemput di tempat yang jauh), maksudnya adalah supaya kita belajar dengan rajin dan sungguh-sungguh walaupun itu terasa sangat berat.

Pepatah lainnya “ka lauik riak maampeh, ka pulau riak mamutuih, kalau mangauik iyo bana kameh, kalau mancancang iyo bana putuih” (artinya; kalau pergi ke laut riak yang menghempas, kalau pergi ke pulau riak yang memisahkan, kalau mengumpulkan sesuatu jangan ada yang tersisa dan kalau memotong sesuatu harus sampai putus), maksudnya adalah dalam menuntut ilmu atau melakukan sesuatu janganlah setengah-setengah, harus tuntas. Sehingga apa yang dikerjakan atau dipelajari dapat terselesaikan dengan baik.

Ilmu silat yang direfleksikan dalam kehidupan, mengajarkan kita tentang bersungguh-sungguh, jangan setengah-setengah, harus tuntas dalam melakukan setiap pekerjaan. Jangan hanya menerima saja, namun kita harus berusaha dan berkreasi, sehingga setiap kita menjadi lebih baik lagi.

Mari bersama belajar dan berjuang untuk masa depan yang lebih baik!

Sumber tulisan : https://theknightman.wordpress.com/

Kamis, 02 Februari 2017

Banten, antara Pengaruh Kyai dan Jawara

Related imageMembicarakan tentang Banten tidak asing dalam telinga kita,Banten pernah di kenal sebagai pusat peradaban Islam di tataran Sunda dengan berdirinya Kerajaan Banten. Berdirinya Kerajaan Demak membawa pengaruh penyebaran Islam begitu meluas di Pulau Jawa. Akulturasi budaya lokal dengan nilai-nilai Islam begitu kentara dan kental dalam memberikan warna/corak bagi masyarakat Indonesia, khususnya budaya Islam-Hindu. Datangnya pihak asing dan menanamkan hegemoninya di Indonesia secara tidak langsung kekuasaan pribumi mulai terganggu. Begitu halnya dengan Banten, pasca runtuhnya Kerajaan Banten Islam, pengaruh Islam tidak serta merta hilang dalam identitas budaya masyarakat Banten pada umumnya. Lebih jauh dari itu ada perbedaan yang mencolok antara budaya Banten dengan yang lainya. Maka dengan kata lain tulisan ini lahir sebagai pisau analisis dalam membedah pola keagamaan masyarakat Banten secara sosial, dan ritual keagamaan. Identitas budaya yang terbentuk dan berkembang lama menjadikan identitas budaya tersendiri khususnya untuk wargaBanten sebagai symbol kesatuan etentitas budaya masyarakat Banten.

Masyarakat Islam Banten, dalam tradisi keislaman di Indonesia pada masa lalu, dikenal lebih sadar-diri dibandingkan dengan daerah lainnya di Jawa. Perbandingan itu mungkin juga berlaku terhadap kebanyakan wilayah di Nusantara. Beberapa hasil observasi menunjukkan kebenaran reputasi ini.[1] 

Di Banten yang pernah menjadi pusat kerajaan Islam dan penduduknya yang terkenal sangat taat terhadap agama, sudah sewajarnya kyai menempati kedudukan yang signifikan dalam masyarakat. Kyai yang merupakan gelar ulama dari kelompok Islam tradisional, tidak hanya dipandang sebagai tokoh agama tetapi juga seorang pemimpin masyarakat. Kekuasaannya seringkali melebihi kekuasaan pemimpin formal, terutama di pedesaan. [2] 

Pengaruh kyai melewati batas-batas geografis pedesaan berdasarkan legitimasi masyarakat untuk memimpin upacara-upacara keagamaan, adat dan menginterpretasi doktrin-doktrin agama. Selain itu, seorang kyai dipandang memiliki kekuatan-kekuatan spiritual karena kedekatannya dengan Sang Pencipta. Kyai dikenal tidak hanya sebagai guru di pesantren, juga sebagai guru spiritual dan pemimpin kharismatik masyarakat. Penampilan kyai yang khas merupakan simbol-simbol kesalehan. Misalnya, bertutur kata lembut, berperilaku sopan, berpakaian rapih dan sederhana, serta membawa tasbih untuk berdzikir kepada Allah. Karena itu, perilaku dan ucapan seorang kyai menjadi panduan masyarakat dalam kehidupan sehari-hari. Di samping kyai, Jawara merupakan kelompok lain yang juga menembus batas-batas hirarki pedesaan di Banten. [3]

Jawara dikenal sebagai seorang yang memiliki keunggulan dalam fisik dan kekuatan-kekuatan untuk memanipulasi kekuatan supranatural (magic), seperti penggunaan jimat, sehingga ia disegani oleh masyarakat. Sosok seorang jawara memiliki karakter yang khas. Ia cukup terkenal dengan seragam hitamnya dan kecenderungan terhadap penggunaan kekerasan dalam menyelesaikan setiap persoalan. Karena itu, bagi sebagian masyarakat, jawara dipandang sebagai sosok yang memiliki keberanian, agresif, sompral (tutur kata yang keras dan terkesan sombong), terbuka (blak-blakan) dengan bersenjatakan golok, untuk menunjukan bahwa ia memiliki kekuatan fisik dan supranatural. [4]

Tradisi Islam di Banten

Memahami Banten sebagai kota atau Provinsi (baru lahir) sekiranya kita harus memahami demografi penduduk dan penganut Islam diberbagai daerah terlebih dahulu, Banten yang terletak di bagian Barat pulau Jawa yang melingkupi daerah kabupaten Lebak, Pandeglang, Serang, Cilegon dan Tangerang. Di sebelah Utara terdapat laut Jawa dan sebelah Barat terdapat selat Sunda. Sebelah Selatan terletak Samudera Indonesia dan sebelah Timur terbentang dari Cisadane sampai Pelabuhan Ratu. Pulau-pulau di sekitarnya yang masih termasuk wilayah Banten adalah: pulau Panaitan, pulau Rakata, pulau Sertung, pulau Panjang, pulau Dua, pulau Deli dan Pulau Tinjil. Kini jumlah penduduk Banten sekitar 8.098.277 orang dengan komposisi 95,89 % beragama Islam, 1, 03 % beragama Katolik, 1, 59 % beragama Protestan, 0,22 % beragama Hindu, 1,15 % beragama Budha. Sisanya memeluk agama lokal (sunda wiwitan), yakni orang-orang Baduy.[5]

Masyarakat dan budaya Banten, terutama dengan alam dan budaya Islamnya, mungkin hanya dapat dikenali dengan merunut kembali peristiwa sejarah transformasi pusat administrative politik dariBanten Girang di pedalaman yang berada di bawah subordinasi Pakuan Pajajaran yang Hinduistik ke daerah pantai yang sekarang dikenal dengan Banten Lama. Peristiwa transformasi tersebut berlangsung pada tahun 1526 oleh Syarif Hidayatullah dan Maulana Hasanuddin. Sejak itu embrio dan fondasi masyarakat dan budaya Banten diletakkan dan ditetapkan dalam format yang berciri keislaman. Prof. Dr. Hasan Muarif Ambari, Kepala Pusat Arkeologi Nasional (Puslit Arkenas, Depdikbud Rl) yang juga staf peneliti pada Pusat Pengkaian Islam dan Masyarakat (PPIM) Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah, Jakarta ini, dalam bukunya "Menemukan Peradaban, Jejak Arkeologis dan Historis Islam Indonesia" (penerbit Logos) memperlihatkan fase-fase pertumbuhan perkembangan budaya Banten dalam panggung sejarah, dirunut dalam fase-fase berikut:

(1). Fase Pra-Sunda Islam (1400-1525). Pada masa itu Bantenmerupakan daerah bawahan kerajaan Pakuan Pajajaran yang Hinduistis, yang berpusat di Banten Girang (Kota Serang sekarang).

(2). Fase awal Penyebaran Islam (1525-1619), suatu fase di mana Islam disiarkan oleh Sunan Gunung Jati dari Cirebon dan Maulana Hasanuddin yang beraliansi dengan Demak.

(3). Fase Keseimbangan Kekuatan, yakni satu fase tanpa adidaya di mana seluruh kekuatan politik dan ekonomi yang ada di Banten memiliki kekuatan yang seimbang (armada dagang Eropa, Ke-sultanan Banten, Cirebon, Batavia dan Mataram). Keseimbangan kekuatan ini di antaranya bisa dilihat dari beberapa peristiwa politik yang berlangsung saat itu, yang tidak memperlihatkan adanya do-minasi satu kekuatan politik tertentu terhadap kekuatan politik lain: yakni penyerangan Bantenke Batavia, blokade Belanda atas Teluk Banten, tumbuh dan kuatnya kekuasaan Sultan Ageng Tirta-yasa, dan pilihnya tingkat kemakmuran masyarakat Banten. Pada fase inilah, Banten mencapai puncak ketinggian budaya (tamaddun Islam).

(4). Fase Penguasaan (VOC) Belanda, pendirian Benteng Speelwik yang langsung atau tidak langsung memperlihatkan wujud hubungan antaraBanten dan VOC, masih berkembangnya "kota" Surosowan dan lain-lain.

(5). Fase Surut dan Jatuhnya Kesultanan Banten. Hindia Belanda terkena imbas perang Napoleonik/Rep. Batavia, interval penguasaan Inggris (1811-1816), pemindahan administrasi politik ke Serang Surosowan dihancurkan, didirikannya Keraton Kaibon dan dipecahnya bekas wilayah Kesultanan Banten menjadi tiga daerah setara Kabupaten (Banten Hulu, Banten Hilir, dan Anyer) di bawah pengawasan landraad (setara residen), pada tahun 1809 pembuatan jalan raya Daendells.

(6). Fase Mutakhir. Setelah Kesultanan Banten dihapuskan oleh Belanda timbul berbagai pergolakan, pemberontakan dan perlawanan rakyat dipimpin oleh para ulama/bangsawan, bencana alam (meletusnya Krakatau dan wabah penyakit sampar), pendudukan Jepang, perang kemerdekaan, dan sampai sekarang memasuki masa pembangunan. [6]

Di balik semua kilas balik sejarah ini, hal yang tetap hidup dan terus mengakar pada masyarakat Banten adalah kultur Islam. Pesantren terus menerus menghasilkan kader dan para ulama tetap berdakwah. Rakyat mulai mengarahkan orientasi kepemimpinan dari raja/sultan kepada para ulama/mubaligh/kyai. Dalam situasi seperti ini, yang bermula sejak pertumbuhan Islam di Banten, budaya pesisiran dan budaya pedalaman di daerah selatan Banten (kecuali daerah Baduy) terus menerus memantapkan keislamannya. Oleh karena itu, dari segi budaya Banten dapat disetarakan dengan masyarakat kota seperti Mataram dan Cirebon.

Di sebagian masyarakat Jawa bagian Barat umumnya dan Bantenkhususnya, keberadaan jawara memiliki rentetan sejarah yang sangat panjang. Jawara bukanlah sosok penamaan yang baru muncul kemarin sore, keberadaannya ditenggarai telah ada sejak zaman kerajaan Sunda berdiri yang hingga kini masih tetap eksis, bahkan di Banten sendiri sejak abad ke 19 kelompok jawara telah menjadi bagian dari golongan elit masyarakat selain kaum ulama dan pamong praja.

Sejarah Islam di Banten tidak sekedar soal kejayaan masa lalu dalam hegemoni semata, tetapi juga mengenai pengaruh Islam sebagai agama resmi kesultanan, sehingga mengakibatkan hancurnya banyak kebudayaan Hindu-Budha yang pernah ada dan sebagai ideologi perjuangan untuk melawan pemerintah kolonial. Yang terakhir inilah mungkin, tanpa mengesampingkan adanya ulama Banten yang menekuni bidang intelektual seperti Syekh Nawawi al-Bantani, yang menyebabkan penyebaran Islam di Banten dalam bidang intelektual tidak begitu menonjol. Para tokoh agama, kyai termasuk di dalamnya, lebih sibuk mengurusi soal bagaimana mengadakan perlawanan terhadap pemerintah kolonial. Hal demikian menimbulkan kesan bahwa sentimen keislaman di Banten sangat kental, meskipun dalam pemahaman keislaman tidak begitu mendalam. Hal seperti ini juga dapat terlihat dalam perilaku para jawara.

Dua tokoh Sentral (Kyai-Jawara) inilah memberikan peranan yang penting dalam memberikan warna yang menonjol dalam prespektif identitas budaya masyarakat Banten, sehingga Banten lebih dikenal sebagai embrio keagamaan-kanuragan. Dalam tulisan yang singkat ini penulis memfokuskan dalam peranan Kiyai dan Jawara sebagai kaum elit yang mempunyai kharisma tersendiri dalam persepsi masyarakatBanten. Peran kyai dalam masyarakaat Banten pada masa kini tidak sepenting masa-masa yang lalu. Arus modernisasi yang banyak mengagungkan kepada materi dan menuntut profesionalisme dalam segala bidang, telah menempatkan kyai hanya pada peran-peran yang berkaitan langsung dengan masalah keagamaan. Sudah tidak banyak kyai yang memiliki peran yang menentukan di luar masalah keagamaan, seperti pada masa kolonialisme atau pada masa awal kemerdekaan RI dan zaman revolusi fisik tahun 1945-1950.

Berdasarkan perannya, kyai di Banten sering dibedakan menjadi “kyai kitab” dan “kyai hikmah.”[7] Kyai kitab ditujukan kepada kyai atau guru yang banyak mengajarkan ilmu-ilmu tekstual Islam, khususnya yang dikenal dengan kitab kuning. Seperti kitab-kitab tafsir al-Qur’an, kitab-kitab Hadits, kitab-kitab fiqh dan ushul fiqh, kitab-kitab akidah akhlak serta kitab-kitab gramatika Bahasa Arab. Sedangkan, “kyai hikmah” adalah para kyai yang mempraktekkan ilmu magis Islam. Yakni yang mengajarkan wirîd, zikr dan râtib, untuk keperluan praktis, seperti permainan debus, pengobatan, kesaktian dan kewibawaan. Meskipun demikian, pembedaan tersebut pada praktiknya tidak memisahkan secara tegas. Banyak kyai yang mengkombinasikan kedua peran tersebut dengan campuran yang berbeda-beda.

Perubahan sosial yang cukup besar yang terjadi pada rakyatBanten telah merubah persepsi masyarakat tentang peran-peran jawara. Bahkan, sebagian masyarakat ada yang menginginkan istilah jawara dihilangkan, sehingga citra budaya “kekerasan” yang selama ini melekat pada “orang luar” terhadap masyarakat Banten bisa dihilangkan. Meskipun demikian, peran-peran sosial dan politik yang dimainkan oleh orang-orang yang selama ini dikenal “jawara” saat ini sangat besar di wilayah Banten. Para tokoh jawara, yang kini menamakan dirinya pendekar, menduduki sektor-sektor penting dalam bidang ekonomi, sosial dan politik di Banten. [8]

Peran-peran tradisional sosial jawara dalam masyarakat Bantenberlangsung turun naik. Hal ini pula yang merubah persepsi masyarakat terhadap jawara. Pada waktu situasi sosial yang kurang stabil, peran jawara biasanya sangat penting, tetapi ketika masyarakat dalam keadaan damai peran mereka kurang diperlukan. Bahkan sering dipandang negatif karena perilakunya yang sering melakukan kekacauan dan kekerasan dalam masyarakat dan melakukan tindakan kriminal. [9]

Namun demikian peran-peran sosial yang sering dimainkan oleh para jawara adalah di seputar kepemimpinan seperti menjadi jaro (lurah), penjaga keamanan desa (jagakersa) dan guru silat dan guru ilmu magis.

Kedudukan dan peran sosial kyai dan jawara tersebut tidak bisa dilepaskan dari adanya jaringan sosial antar mereka. Jaringan sosial tersebut terbentuk dari hubungan adanya hubungan emosional yang dekat, yakni melalui jalur kekerabatan, hubungan guru-murid (seguru-seelmu) dan berbagai lembaga-lembaga sosial lainnya. Dalam masyarakat yang tradisional atau yang sedang dalam transisi, seperti masyarakat Banten, jaringan sosial itu terbentuk dengan cara-cara yang alamiah sehingga memiliki derajat hubungan emosional dan solidaritas yang tinggi. Jaringan-jaringan sosial itu terbentuk melalui hubungan kekerabatan, guru-murid dan lembaga-lembaga sosial tradisional lainnya. Hubungan sosial yang demikian dalam istilah Durkheim disebut dengan “solidaritas mekanis.” [10] 

Untuk mempertahankan hubungan sosial tersebut muncul mitos-mitos bagi para pelanggarnya. Sehingga setiap individu dari komunitas tersebut tetap mematuhi aturan sosial tersebut. Pelanggaran terhadap norma sosial dalam masyarakat tradisional dipandang akan merusak tatanan sosial yang lebih luas, yang akhirnya akan menimbul chaos atau kekacauan. Demikian pula dengan kyai dan jawara dalam mempertahankan status sosial (status quo)mereka. Mereka membuat aturan-aturan tertentu yang dapat mempertahankan status sosial mereka yang diiringi dengan mitos-mitos tertentu bagi para pelanggarnya, aturan-aturan adalah ijazah dan kawalat.[11]

Penjelasan di atas tentang peran-peran yang dimainkan oleh kyai dan jawara serta jaringan sosial yang dibangun oleh kedua menggambarkan dalam tahapan yang lebih lanjut bahwa kedua kelompok masyarakat tersebut memiliki kultur yang berbeda dalam lingkupan kebudayaan Banten. Kyai lebih banyak berperan sebagai tokoh masyarakat dalam bidang sosial keagamaan. Sedangkan, jawara lebih banyak berperan dalam lembaga adat pada masyarakat Banten.[12]

Kyai dan jawara merupakan sumber kepemimpinan tradisional informal, terutama masyarakat pedesaan. Dalam masyarakat yang masih tradisional, sumber-sumber kewibawaan pemimpin terletak pada:(1)pengetahuan (baik tentang agama dan masalah keduniawian/sekuler atau kedua-duanya), (2) kesaktian, (3) keturunan dan (4) sifat-sifat pribadi. [13] 

Kyai mewakili kepemimpinan dalam bidang pengetahuan, khususnya keagamaan. Sedangkan, jawara mewakili kepemimpinan berdasarkan kriteria keberanian dan kekuatan fisik (kesaktian). Dalam hubungan sosial bersifat integratif, jawara membutuhkan kyai sebagai sebagai tokoh agama dan sumber kekuatan magis. Sebagai tokoh, kyai merupakan alat legitimasi yang penting dalam kepemimpinan jawara. Tanpa dukungan dari para kyai jawara akan sulit untuk menjadi pemimpin formal masyarakat. Sedangkan, kepentingan kyai terhadap jawara adalah bantuannya, baik fisik atau materi. Seorang jawara yang meminta elmu (kesaktian dan magis) dari kyai, ia akan memberikan sejumlah materi, seperti uang atau benda-benda berharga, yang dinamakan dengan salawat. Pemberian salawat kepada kyai dipandang sebagai penebus “berkah” kyai yang telah diberikan kepadanya.

Kedudukan Jawara dan Kyai

Kyai dan jawara merupakan sub-kelompok masyarakat yang memainkan peran penting di Banten hingga saat ini. Meskipun peran dan kedudukan tradisional mereka terus digerogoti arus modernisasi yang semakin hegemonik. Desakan modernisasi telah merubah tata kehidupan dan moralitas masyarakatBanten, sehingga dampaknya tidak hanya berpengaruh pada pendapatan dan produksi, tetapi juga pada perubahan identitas, aspirasi dan otoritas.[14] 

Namun demikian, perubahan-perubahan tersebut tidak sampai menghancurkan semua kedudukan dan peran sosial mereka secara menyeluruh. Kyai sampai kini tetap merupakan salah satu orang yang dihormati oleh masyarakat. Di samping tokoh-tokoh lain, seperti tokoh politik para pejabat pemerintah dan pengusaha.

Demikian pula jawara, selain berusaha untuk tampil lebih ramah sehingga bisa diterima masyarakat, mereka kini tidak hanya memainkan peran tradisional mereka, tetapi juga merambah pada sektor-sektor ekonomi dan politik diBanten. Apalagi setelah Banten menjadi sebuah propinsi yang mandiri, lepas dari wilayah Jawa Barat, peran jawara dalam percaturan bidang politik dan ekonomi memainkan peran yang sangat besar.

Kedudukan Jawara dan Kyai dalam tulisan ini, penulis mengkerucutkan pada pembagian peran dan kedudukan Kyai dan Jawara secara sosio-kultural, untuk memahaminya adalah sebagai berikut :
1. Peran Sosial-Kultural Kyai

a. Guru Ngaji
Peran kyai yang paling awal adalah mengajarkan pembacaan al-Qur’an dengan baik kepada para santrinya. Tugas kyai dalam hal ini adalah mengajarkan pembacaan huruf-hurufhijâiyyah dan kaidah-kaidah pembacaan al-Qur’an yang benar, yang dikenal dengal ‘ilm tajwîd. Dalam tahapan yang lebih maju kyai mengajarkan tentang beberapa metode pembacaan ayat-ayat al-Qur’an dengan suara indah, yakni untuk para qâri dan qâriahyang memiliki bakat suara yang baik. Selain itu juga para qâri danqâriah diajarkan aliran-aliran atau madzhab-madzhab pembacaan ayat-ayat al-Qur’an.

Sekarang ini, peran guru ngaji tidak hanya dilakukan oleh seorang kyai yang memiliki pesantren, tetapi juga oleh para santri, yang biasanya dipanggil ustâdz, yang pernah mengeyam pendidikan pesantren dan memiliki kemampuan membaca al-Qur’an dengan baik sesuai dengan kaidah-kaidah pembacaannya dalam ‘lmu tajwîd. Pelaksanaan pengajarannya biasanya diselenggarakan di rumah ustâdz atau di mushola yang terdekat dengan kediamannya. Pengajaran al-Qur’an dilakukan pada waktu-waktu selesai sholat lima waktu, seperti: setelah sholat magrib, subuh dan ashar. Para pesertanya biasanya anak-anak dan kaum remaja di sekitar kediaman ustâdz tersebut.

b. Guru Kitab
Seorang santri yang telah lancar membaca ayat-ayat al-Qur’an, mulai berkenalan dengan kitab-kitab Islam klasik. Memang tugas utama seorang kyai di pesantren adalah mengajarkan kitab-kitab Islam klasik, terutama karangan-karangan ulama fiqh yang bermadzhab Syafi’i. Pengajaran membaca al-Qur’an, meskipun dilaksanakan di pesantren-pesantren, yang biasanya masih kecil dan belum terkenal, sebagai dasar dari suatu proses pendidikan, bukan tujuan utama sistem pendidikan pesantren. Tujuan utamanya adalah setiap santri diharapkan memiliki kemampuan dalam memahami kitab-kitab Islam klasik, yang dikenal dengan kitab kuning.

c. Guru Tarekat
Seorang kyai yang kharismatik selain mengajarkan kitab-kitab klasik, seperti yang telah diterangkan terdahulu, juga mengajarkan praktek tarekat. Pengajaran tarekat di Bantenmemiliki sejarah yang sangat panjang. Sebuah “pesantren” tua yang terkenal bernama Karang, yang terletak di sekitar Gunung Karang, sebelah barat kota Pandeglang sekarang diduga telah mengajarkan tarekat Qodariyah. Dalam Serat Centhini, dijelaskan bahwa sang pertapa yang bernama Dandarma, mengaku telah belajar tiga tahun di Karang di bawah bimbingan seorang guru “Seh Kadir Jalena”; yang diduga dimaksudkan ia belajar ilmu ataungelmu yang dikaitkan dengan sufi besar Abd al-Qadir Al- Jailani.
Hal tersebut juga dikuatkan dengan tokoh utama dalamSerat Centhini, Jayengresmi alias Among Raga yang berguru di sebuah perguron di Karang di bawah bimbingan seorang guru yang berasal dari Arab bernama Syaikh Ibrahim bin Abu Bakar, yang lebih dikenal sebagai Ki Ageng Karang.[15] Oleh karena itu wajar apabila para tarekat sudah sangat dikenal di lingkungan istana kesultanan Banten semenjak awal didirikannya kesultanan itu. Pendiri kerajaan Banten, Maulana Hasanuddin, telah dibai’at untuk menganut dan mempraktekkan wirid tarekat Naqsabandiyah.[16]

d.Guru Ilmu Hikmah (Ilmu Ghaib)
Para kyai yang menjadi mursyid suatu tarekat tidak hanya dikenal sebagai pemimpin atau guru tarekat tetapi juga dikenal sebagai guru ilmu hikmah atau ilmu-ilmu ghaib. Banten hingga kini memiliki reputasi yang cukup dikenal sebagai daerah tempat bersemayamnya ilmu-ilmu gaib sehingga tidak sedikit orangBanten yang memanfaatkan reputasi ini dengan bertindak sebagai juru ramal, pengusir setan, pengendali roh, pemulih patah tulang, tukang pijat dan tabib, pelancar usaha untuk mendapat kekayaan, kedudukan dan perlindungan supranatural serta kedamaian jiwa.

Kyai yang dikenal sebagai guru ilmu hikmah di Bantenadalah Ki Armin (K.H. Muhamad Hasan Amin) dari Cibuntu, Pandeglang. Beliau adalah kemenakan dari Kyai Asnawi Caringin, guru tarekat Qodariyyah wa Naqsabandiyah yang sangat terkenal di Banten. Banyak cerita yang tersebar di kalangan rakyat tentang kekuatan-kekuatan ajaib diseputar kyai ini, seperti kemampuannya untuk melihat apa yang belum terjadi, karier yang cepat atau kekayaan yang datang secara tiba-tiba yang terjadi kepada beberapa orang yang telah mendapatkan restunya. Kyai lain yang juga dikenal memiliki ilmu hikmah adalah Ki Dimyati, yang memimpin sebuah pesantren di Cisantri, Pandeglang.

e. Mubaligh
Seorang kyai tidak hanya tinggal diam di pesantren mengajarkan kitab-kitab klasik kepada para santrinya atau menetap di suatu tempat dan umatnya datang untuk minta nasehat, doa dan kebutuhan praktis lainnya. Kyai juga aktif melakukan ceramah agama kepada masyarakat luas secara berkeliling, sehingga disebut dengan mubâligh (orang yang menyampaikan pesan agama Islam).

Dalam pemberontakan di Cilegon yang terjadi pada tahun 1888, peran para mubaligh sangat penting dalam memobilisasi massa untuk melakukan pemberontakan. Para kyai, yang terdiri dari para guru tarekat, para syarîf dan sayyid, banyak berkhutbah secara berkeliling untuk melakukan pembinaan kerohanian masyarakat. Disadari, hal tersebut turut memberikan pengaruh yang sangat besar dalam meningkatkan kehidupan kerohanian rakyat. [17]

2. Peran Sosial-kultural Jawara
a. Jaro
Di daerah pedesaan di wilayah Banten terdapat pengurus desa yang dikepalai oleh seorang kepala desa yang sering disebut jaro.[18] Seorang jaro memimpin sebuah kejaroan (kelurahan). Pada zaman Kesultanan Banten, kepala desa (jaro) diangkat oleh Sultan. Tugas utama jaro adalah mengurus kepentingan kesultanan, seperti memungut upeti dan mengerahkan tenaga untuk kerja bakti.[19] Dalam pekerjaan sehari-harinya, seorang jaro dibantu oleh pejabat-pejabat, yakni: carik (sekretaris jaro), jagakersa (bagian keamanan), pancalang (pengantar surat), amil (pemungut zakat dan pajak), merbot atau modin (pengurus masalah keagamaan dan mesjid).

b. Guru silat
Sejarah ilmu persilatan di Banten memiliki akar yang sangat panjang. Di dalam Serat Centhini disebutkan bahwa pada masa pra-Islam telah dikenal istilah “paguron” atau “padepokan” di daerah dekat sekitar Gunung Karang, Pandeglang.[20] Dalam masyarakat Banten dikenal berbagai macam perguron, seperti Terumbu, Bandrong, Paku Banten, Jalak Rawi, Cimande, Jalak Rawi, si Pecut dan sebagainya. Setiap perguron memiliki jurus-jurus dan karakteristik yang berbeda-beda bahkan sejarah kelahirannya. Kini semua perguron tersebut ada dalam sebuah P3SBBI (Persatuan Pendekar Persilatan dan Seni Budaya BantenIndonesia) di bawah pimpinan H. Tb. Chasan Sochib.

c. Guru Ilmu Batin (Magis)
Kecenderungan terhadap kekuatan supranatural seperti di daerah Banten ini, memang memiliki akar yang sangat dalam. Sebelum Islam datang ke daerah ini sudah ada para resi yang melakukan tapa, yakni sebuah praktik meditasi untuk mendapatkan kesaktian. Bahkan, diceritakan pula bahwa Sultan Hasanuddin sebelum menguasai daerah Banten ini melakukan tapa di tempat-tempat yang selama ini dianggap sebagai pusat kosmis di Banten, yakni Gunung Pulosari, Gunung Karang dan Pulau Panaitan sebelum ia berangkat ke Mekkah untuk melakukan ibadah haji.[21]

Bentuk-bentuk elmu yang sering dipergunakan para jawara adalah brajamusti (kemampuan untuk melakukan pukulan dahsyat), ziyad (mengendali sesuatu dari jarak jauh), jimat ataurajah untuk mencari kewibawaan, kekayaan atau dicintai seseorang,putter gilling (untuk memutar kembali atau menemukan kembali orang yang hilang atau kabur), elmu (untuk menaklukan binatang yang berbisa atau berbahaya) dan sebagainya.

d. Pemain Debus (Seni Budaya Banten)
Di Banten ada beberapa macam debus, yakni debus al-madad, surosowan dan langitan. Dinamakan debus al-madad(artinya meminta bantuan atau pertolongan) karena para pemainnya setiap kali melakukan aksinya selalu mengucapkan kata-kata al-madad, yang seolah menggambarkan bahwa tindakan ini didasarkan atas pertolongan dari Allah SWT. Debusal-madad merupakan debus yang paling berat karena untuk melakukan permainan ini khalifahnya (pemimpin group) harus melakukan amalan yang sangat panjang dan berat. Amalan-amalan khalifah debus ini diambil dari tarekat Rifa’iyah atau Qodariyah. Sehingga seseorang yang mendapat ijazah untuk menjadi khalifah dari permainan debus ini adalah mereka yang telah dianggap mampu atau lulus menempuh suatu perjalanan panjang dalam mengamalkan suatu do’a-do’a tertentu, melaksanakan puasa dan meditasi lama.

Berdasarkan tulisan di atas dapat disimpulkann, bahwa adanya kedudukan, peran dan jaringan membuat kyai dan jawara menciptakan kultur tersendiri yang agak berbeda dengan kultur dominan masyarakat Banten, sehingga kyai dan jawara tidak hanya menggambarkan suatu sosok tetapi juga telah menjadi kelompok yang memiliki nilai, norma dan pandangan hidup yang khas. Itulah subkultur kyai dan jawara. Kyai sebagai salah satu sumber kepemimpinan tradisional dalam masyarakat Banten kini mengalami tantangan kehidupan modernisasi yang serius. Tak dapat dipungkiri bahwa peranan kyai dalam sejarah masa lalu masyarakat Banten sangat besar, namun ke depan menjadi sebuah tanda-tanya. Peranan kyai mungkin hanya akan menjadi catatan masa lalu, apabila pemberdayaan dan peningkatan wawasan terhadap mereka tidak dilakukan. Demikian pula dengan jawara. Kehidupan jawara yang sering dipresepsikan masyarakat secara negatif perlu ada orientasi baru. Meskipun usaha-usaha itu telah dilaksanakan oleh kalangan mereka sendiri, namun perubahan itu baru dalam tahapan simbol, yakni perubahan nama dari “jawara” ke “pendekar.” Secara substantsial nampaknya belum banyak berubah, bahkan budaya tersebut justru digunakan oleh sekelompok orang untuk meraih kepentingan-kepentingan ekonomi dan politik. Maka, pencerahan melalui pendidikan terhadap para jawara justru akan menjadikan aset penting bagi peningkatan apresiasi terhadap kebudayaan Banten agar tidak bersikap ahistoris.

1.Martin van Bruinessen. Kitab Kuning, Pesantren dan Tarekat: Tradisi-Tradisi Islam di Indonesia, cet. III,.Bandung: Mizan.hlm. 1999. 246.

[2] Ibid, hlm 83

[3] Sartono Kartodirdjo. Pemberontakan Petani Banten 1888. Jakarta: Pustaka Jaya. 1984. hlm.84.

[4]M.A. Tihami. Kepemimpinan Kyai dan Jawara di Banten, dalam Tesisi Magister UI. 1992

[5] Berdasarkan Sensus Tahun 2000. Lebih jauh lihat Banten dalam Angka tahun 2000,Bapeda Propinsi Banten dan Badan Pusat Statistik Kabupaten Serang, 2000.

[6] http://babadbanten.blogspot.com/2011/07/sejarah-banten-kronologi-waktu.html diakses pada tanggal 08 Mei 2012, pukul 01.02 WIB

[7] Lebih jauh lihat Martin van Bruinessen, op.cit., hlm. 279.

[8] Sebagai Contoh: H. Chasan Sochib seorang jawara yang kharismatik diBanten memiliki lebih dari 20 jabatan penting, mulai sebagai ketua umum pengurus besar pendekar, ketua umum satkar ulama, ketua umum Kadin Banten sampai penasehat ikatan persaudaraan Lampung, Banten dan Bugis. Lebih jauh lihat Khatib Mansur, Profil Haji Tubagus Chasan Sochib, Beserta Komentar 100 Tokoh Masyarakat Seputar Pendekar Banten¸ (Jakarta: Pustaka Antara Utama, 2000). Dalam bidang politik pun, pengaruh jawara sangat besar. Hal ini bisa dilihat dari terpilihnya Hj. Ratu Atut Chosiyah, anak perempuan Chasan Sochib, sebagai wakil gubernur Propinsi Banten untuk periode 2001-2006. Ada pendapat yang bisa dipahami oleh masyarakat Banten, bahwa terpilihnya Joko Arismunandar sebagai gubernur Propinsi Banten yang pertama, karena didukung oleh para tokoh jawara, yakni dengan bersedianya didampingi oleh anak perempuan tokoh jawara Banten, Hj. Ratu Atut Chosiyah.

[9] Sartono Kartodirjo,Op.cit. hlm. 83

[10] Steven Lukes, Emile Durkheim: His Life and Work. New York: Penguin Books. 1981. hlm.140.

[11] Lihat M.A. Tihami. Kyai dan Jawara di Banten. Op. Cit. hlm 181

[12] Edi. S. Ekadjati. Kebudayaan Sunda: Pendekatan sejarah. Jakarta : Pustaka Jaya. 1995. Hlm. 224


[13] Karl D. Jakson. Kewibawaan Tradisional, Islam dan Pemberontakan : Kasusu Darul Islam Jawa Barat. Jakarta : Pustaka Utama Grafiti. 1990. Hlm 24

[14] Robert W. Hefner, Geger Tengger: Perubahan Sosial dan Perkelahian Politik, (terj.) A Wisnuhardana & Imam Ahmad. Yogyakarta: LKiS, 1999. hlm. 1-2.

[15] Lebih jauh lihat Martin van Bruinessen, op.cit., hlm. 26

[16] Ibid., hlm. 265. Dalam Babad Banten diceritakan bahwa Sunan Gunung Djati membawa putranya, Maulana Hasanuddin, ke Mekkah untuk menunaikan ibadah haji. Setelah selesai melaksanakan ibadah haji mereka terus ke Madinah berziarah ke makam Nabi, dan di sinilah Maulana Hasanuddin dibai’at menjadi penganut tarekat Naqsabandiyah. Lebih jauh lihat Hoesein Djayadiningrat, Tinjauan Kritis tentang Sajarah Banten, (Jakarta: Djambatan, 1983), hlm. 34.

[17] Sartono Kartodirdjo, op.cit., hlm. 236.

[18] Sebenarnya asal-usul kata jaro tidak jelas dan semenjak kapan kata tersebut dipergunakan untuk menunjukan suatu wilayah administrasi pedesaan. Menurut M.A. Tihami bahwa jaro itu berasal dari bahasa Arab “jar” yang artinya tetangga. Sebuah desa Banten pada zaman dulu memang mengelompok dalam suatu daerah tertentu sehingga antar satu keluarga dengan keluarga lainnya adalah bertetangga (jar). Sehingga suatu daerah yang sudah dihuni oleh banyak keluarga dikenal dengan kejaroan, maka orang yang menjadi pemimpin dari suatu kejaroan tersebut disebut jaro. Lihat M.A. Tihami, “Sistem Pemerintahan Desa Tradisional di Banten,” dalam Makalah pada Lokakarya Nilai Kaolotan Banten dalam Kerangka Desentralisasi Desa, Anyer-Serang, 11-13 April 2002.

[19] Sartono Kartodirdjo, op.cit., hlm. 81.

[20] Martin van Bruinessen, op.cit., hlm. 25.

[21] Husein Djayadiningrat, op.cit., hlm. 34

Sumber : http://wanspdbum.blogspot.co.id/
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...