CANTUMKAN SUMBERNYA JIKA MENGGUNAKAN GAMBAR ATAU ARTIKEL DARI BLOG INI - HORMATI HAK CIPTA ORANG LAIN.

Jumat, 09 Februari 2018

Tarung Drajat


AKU RAMAH BUKAN BERARTI TAKUT
AKU TUNDUK BUKAN BERATI TAKLUK.

SALAM PERSAUDARAAN, B O X !

Olahraga TARUNG DERAJAT merupakan Seni Ilmu Beladiri karya cipta seorang putra bangsa Indonesia, yaitu Guru Haji Achmaad Dradjat atau yang lebih dikenal dengan nama julukan Aa Boxer.

Daya cipta Olahraga Tarung Derajat adalah merupakan reaksi dan refleksi berbagai tekanan yang menyentuh pada Otot, Otak dan Nurani, seperti tindak kekerasan fisik, penganiayaan, perkelahian, pemerasan, penghinaan dan penguasaan hidup oleh manusia yang tidak bermoral dan tidak bertanggung jawab dalam kehidupan sehari-hari.


Dari renungan pengalaman itu, mencuat pemikiran, perasaan dan keyakinan bahwa pada setiap tindak kekerasan, penganiayaan, perkelahian serta ilmu pembelaan diri ada suatu tindak gerakan fisik yang serupa, yaitu memukul, menendang, menangkis, membanting, menghindar dlsb. Gerakan-gerakan tersebut sesungguhnya adalah hak alamiah yang dimiliki setiap manusia sebagai kelengkapan hidup bawaan lahir yang dianugerahkan Tuhan Yang Maha Esa kepada segenap mahluk hidup ciptaannya, misalnya Naluri, Insting, dan Garizah (suatu dorongan kuat yang tidak disadari untuk berbuat sesuatu dalam mempertahankan diri atau bertahan hidup).

Fikiran, Rasa dan Keyakinan yang didasari oleh hikmah pengalaman diatas serta karena melekatnya hasil didikan Akhlak budipekerti dan Ajaran Agama yang diterapkan kedua orang tua dan tertanam secara terpelihara sejak masa kecil (hal tersebut adalah merupakan IMAJINASI), membangkitkan Tekad semangat serta Keinginan keras untuk menciptakan pola serta bentuk olah fisik yang tersendiri, khususnya didalam mengolah gerakan-gerakan pukulan, tendangan, tangkisan, hindaran, bantingan, kuncian, dan gerak bertahan menyerang lainnya yang Praktis dan Efektif dalam Mempertahankan dan Menahan Diri, dengan mengembangkan gerak-gerak Reflek alamiah secara Realistis dan Rasional (hal itu disebut KREATFITAS).

Semua itu dilatih secara Keras, Ulet dan Berdisiplin, dilaksanakan dengan terus menerus dan berkesinambungan, menegakkan aturan dan menjalani hukuman latihan yang dibuat sendiri secara Konsisten, Dinamis dan penuh rasa tanggung jawab dengan segala resiko dan konsekwensinya. Proses penempaan fisik-mental dan pengembangan pola gerak seluruh anggota badan dan bagian-bagiannya yang alamiah, pencarian tempat-tempat alami dan arena lainnya yang cocok guna menempa diri serta penggalian Teknik, Taktik dan Strategi serta metoda beladiri yang Akurat dan Bermanfaat, dilakukan dalam menghadapi dan mengatasi sekaligus menjawab tantangan hidup ditengah kerasnya arena kehidupan serta mampu membentengi diri dari perbuatan hidup yang tidak bertanggung jawab dan merusak tatanan kemanusiaan.


Hasil-hasil yang telah dikuasai secara bertahap namun pasti, dipraktekan dalam setiap kesempatan keseharian. Kemudian juga, diambil langkah-langkah tindakan strategis yang tersendiri dalam membandingkan dan mentandingkan dengan seni ilmu beladiri lain (itu adalah KEBERANIAN MORAL).

Seluruh rangkaian proses Penempaan diri itu diarahkan pada terciptanya suatu Seni Ilmu Olahraga Beladiri yang memiliki ciri khas dan kemandirian tersendiri yang realistis dan rasional, yaitu Ilmu Bela Diri Reaksi Cepat dengan garakan yang Praktis dan Efektif.

Imajinasi, Kreatifitas dan Keberanian Moral adalah merupakan modal utama dalam penyelenggaraan proses pembelajaran dan pemberlatihan Diri secara Mandiri (SORANGAN) atau disebut sebagai Konsep Pembinaan Moral dan Mental Guru Haji Achmad Dradjat (MORTAL GHADA), yaitu Lingkup kegiatan Penempaan Fisik dan Mental yang memanfaatkan daya gerak Otot, Otak serta Nurani dilakukan pada upaya menguasai dan menerapkan lima unsure daya gerak Moral Hidup, antara lain: Kekuatan, Kecepatan, Ketepatan, Keberanian dan Keuletan. Pada Sistem Pertahanan dan Ketahanan diri yang agresif dan dinamis dalam bentuk Pukulan, Tendangan, Kibasan, Hindaran, Bantingan, Kuncian, serta teknik, taktik, dan strategi bertahan menyerang lainnya yang Praktis dan Efektif bagi suatu pembelaan diri.

Tarung Derajat dilahirkan sebagai suatu Seni Ilmu Olahraga Beladiri yang berdiri sendiri secara mandiri dengan memiliki Aliran dan wadah tersendiri, tidak berafiliasi kepada aliran dan organisasi beladiri lainnya, baik yang telah ada di Indonesia maupun yang berada diluar Negara Indonesia. Tarung Derajat juga tidak mengadopsi dan bukan gabungan dari beladiri lain. Tarung Derajat muncul dipermukaan Kehidupan dengan asal usul, riwayat dan sumber tersendiri, yaitu: Digali dari Alam nan luas dengan segala aspek Kehidupannya, yang kemudian diangkat keatas permukaan kehidupan, sebagai hasil Pengalaman dan Renungan Hidup serta Perjuangan nan panjang ditengah kerasnya Kehidupan G.H.Achmad Dradjat alias Aa Boxer yang bersumber kepada Kebesaran dan Keagungan Tuhan Yang Maha Kuasa, sebagai satu-satunya unsure pokok dalam membentuk Jati Diri Manusia dan jati diri sesuatu hal lainnya sesuai dengan kehendakNYA.

Keseluruhan proses itu, membentuk Tarung Derajat menjadi Seni Ilmu Olahraga Beladiri yang memiliki ciri khas dan kemandirian tersendiri yang Realistis dan Rasional, yaitu Sistem Pertahanan dan Ketahanan Diri Reaksi Cepat dengan gerakan Praktis dan Efetif. Keutuhan daripada Teknik, Taktik dan Strategi Pembelaan Diri karya cipta G.H.Achmad Dradjat ini mengkristal sebagai suatu “Seni Keperkasaan Moral dan Mental Manusia yang Berhakekat Manusia”. Tarung Derajat memanfaatkan senyawa daya gerak: Otot (alat untuk menggerakan anggota tubuh dan bagian-bagiannya), Otak (alat untuk berfikir), serta Nurani (alat untuk berperasaan), untuk digunakan terutama pada upaya pemeliharaan Keselamatan dan Kesehatan Hidup, seperti Menghindari tindak kekerasan yang tidak bermoral dan tidak pergaulan umum serta mencegah dan memulihkan penyakit Fisik dan Mental yang menumbuhkan kerusakan pada tatanan Kehidupan diatas muka bumi.


K E S I M P U L A N :

Seni Ilmu Olah Raga Bela Diri TARUNG DERAJAT adalah Logika dan Tindakan Moral yang memanfaatkan senyawa daya gerak Otot, Otak serta Nurani dalam pelajaran dan pelatihan gerak anggota badan beserta bagian-bagiannya, didalam lingkup proses penempaan fisik dan mental secara realistis dan rasional dalam rangka menguasai dan menerapkan lima unsure daya gerak moral, yaitu: Kekuatan, Kecepatan, Ketepatan, Keberanian dan Keuletan. Pada system mempertahankan dan menahan diri yang agresif dan dinamis dalam bentuk gerakan Pukulan, Tendangan, Hindaran, Kibasan, Bantingan, Kuncian serta Teknik, Taktik dan Strategi bertahan menyerang lainnya yang praktis dan efektif bagi suatu pembelaan diri.

Senyawa daya gerak Otot, Otak serta Nurani tersebut berasal dan diperoleh dari didikan akhlak budi pekerti dan ajaran agama yang diterapkan oleh kedua orang tua dan tertanam secara terpelihara sejak masa kecil, dari gerak reflek bawaan tubuh yang alami, dan hasil terapan pengalaman hidup yang dijalani secara totalitas berserah diri kepada Tuhan Sang Maha Pencipta Dan Maha Perkasa.

Sebelum senyawa daya gerak Otot, Otak serta Nurani sampai dan melekat pada diri para penekunnya dan digunakan sebagai alat untuk mempertahankan dan menahan diri sendiri, haruslah difikirkan, dirasakan dan diyakini akan keamanan dan keampuhannya. Untuk menjamin hal itu senyawa tersebut harus melalui serangkaian proses uji tentang; Manfaat, daya serang dan daya tahan serta sifat fisik dan sifat mentalnya, sehingga dapat dibangun pola pendidikan dan latihannya serta bisa ditentukan bentuk teknik, taktik dan strategi Pembelaan Diri yang paling praktis dan efektif untuk diciptakan dan disebarluaskan pada arena kehidupan masyarakat luas, seperti Seni Keperkasaan Diri TARUNG DERAJAT.

Seorang penekun Tarung Derajat yang telah menguasai secara utuh diharapkan mampu mengembangkan diri lebih lanjut secara mandiri agar dapat berperan dalam menerapkan dan mengembangkan potensi diri, penuh prakarsa dan dedikasi serta mampu mengikuti perkembangan ilmu dan keilmuan dalam bidangnya dan menghadapi perubahan lingkungannya, bisa mengatasi kesulitan dan menjawab tatangan hidup yang berlandaskan pada Pokok-pokok Ajaran Tarung Derajat, sehingga pada saatnya atas gerak dari Sang Maha Pemilik dan Maha Penguasa Gerak Hidup yang tiada lain selain Tuhan Yang Maha Esa, akan mampu memelihara KEHIDUPAN secara Selamat dan Sehat, sebagaimana Kodratnya. Dan sesungguhnya Kehidupan itu pada hakekatnya adalah, merupakan interaksi antara: Manusia dengan Alam semesta, manusia dengan Lingkungannya, manusia dengan manusia lainnya atau Orang lain, manusia dengan dirinya sendiri serta manusia dengan Tuhannya.

- Manusia dengan Alam semesta ada kepentingan yang harus dipadukannya.
- Manusia dengan Lingkungannya ada hal yang harus diserasikannya.
- Manusia dengan Manusia lainnya ada perbedaan yang harus diluruskannya.
- Manusia dengan Dirinya sendiri ada hawa nafsu yang harus dikalahkannya.
- Manusia dengan Tuhannya ada jarak yang selalu harus didekatkannya.

Lima hal tersebut diatas tadi dengan segala kandungan khasiat dan rahasia nya, adalah merupakan bagian yang terpenting dan paling utama daripada isi Pokok-pokok Ajaran Tarung Derajat.

Untuk di Palembang sendiri tempat latihan tarung drajat sudah hampir tersebar di kota Palembang seperti di halaman DPRD Sumsel, Di Komplek PTC Seduduk Putih, Pertamina dan tempat lainnya.

Sumber tulisan :
http://boxerpalembang.blogspot.co.id/

Foto By : 
https://thatubuhaya.wordpress.com/

Rabu, 07 Februari 2018

Pangsi, budaya Indonesia yang multi kultur.

Apabila mendengar kata “Pangsi” maka yang sering terpikir di kepala kita dalah suatu busana yang longgar dengan panjang celannya tidak melebihi mata kaki yang biasanya di pakai oleh jawara atau pemuka masyarakat, padahal lebih dari itu berdasarkan sejarah yang ada bahwa Catatan dari Tiongkok di mengabarkan bahwa masyarakat Melayu baik perempuan maupun lelaki pada abad ke-13 hanya mengenakan penutup tubuh bagian bawah. Dalam perkembangannya, perempuan Melayu memakai sarung dengan model "berkemban" yakni melilitkan sarung di sekeliling dada. Celana juga mulai dipakai, dengan model "Gunting Aceh" yaitu celana yang panjangnya hanya sedikit di bawah lutut.


Namun kemudian perdagangan membawa pengaruh budaya asing. Barang-barang dari Tiongkok, India, dan Timur Tengah berdatangan. Selain perniagaan, hal ini juga memaparkan masyarakat Melayu kepada cara berpakaian orang-orang asing tersebut. Orang Melayu juga mengadopsi Islam sebagai agama mereka, dan ini memengaruhi cara berpakaian karena di dalam agama baru ini terdapat kewajiban untuk menutup aurat baik bagi perempuan maupun laki-laki. Puncaknya adalah pada tahun 1400an, di mana pakaian Melayu digambarkan dengan jelas dalam karya kesusasteraan Sejarah Melayu (Malay Annals). Di sinilah kita dapat melihat kemunculan baju kurung, di mana sudah mulai lazim bagi orang Melayu untuk memakai semacam tunik untuk menutupi tubuh mereka.( Kutipan wikipedia.com)

Dari penyebaran para pedagang pada abad ke -14 yang mulai merambah ke seluruh pelosok nusantara sehingga dari sumatera, jawa, batavia, bali, nusa tenggara, sulawesi, kalimantan yang berakulturisasi dengan budaya setempat sehingga model baju tersebut bertahan hingga saat ini.

Sebagian suku pun saling menunjukan jati dirinya kalau pangsi merupakan pakaian identik dari daerah mereka seperti betawi dan sunda, karena dari dahulu sampai saat ini mereka masih mempertahankan penggunaan pangsi ini, padahal jika di lihat secara mendetail akan terdapat perbedaan baju pangsi dari setiap daerah. 

1. Pangsi Sunda

Belum ada catatan dan dokumen khusus mengenai keabsahan filosofi pangsi Sunda karena diwariskan secara turun-temurun. Itu sebabnya banyak orang berpendapat bahwa filosofi pangsi Sunda hanya sekedar kirata (dikira-kira tapi nyata). Terlepas dari kontroversi masalah tersebut makna yang terkandung tidak bertentangan dengan adat, budaya, dan agama di Indonesia sehingga bisa dijadikan falsafah dan tuntunan hidup di masyarakat.

Para sesepuh baheula (nenek moyang) menjelaskan bahwa dalam setiap bentuk dan jahitan pangsi mengandung makna yang dapat dijadikan pengingat para pemakainya agar selalu introspeksi. Di bawah ini adalah penjelasan singkat mengenai filosofi pangsi Sunda yang terkandung dalam bagian-bagian pangsi.

Cacagan Pangsi Sunda

Foto by : http://www.galeri-iket.com/

Menurut Kang Curahman (Tjurahman), "Pangsi itu singkatan dari Pangeusi Numpang ka Sisi" yakni pakaian penutup badan yang cara pemakaiannya dibelitkan dengan cara menumpang seperti memakai sarung. Pangsi terdiri dari tiga susunan yakni "Nangtung, Tangtung, Samping. Banyak orang yang menyebut baju koko atau komprang dengan istilah pangsi karena warnanya hitam padahal sebenarnya desainnya sangat berbeda.

Foto by : http://www.galeri-iket.com/
Berdasarkan fungsinya, pangsi terdiri dari dua bagian yaitu bagian atas (baju) disebut dengan "Salontreng" dan bagian kedua adalah bagian bawah (celana) disebut dengan "Pangsi". Namun demikian kita tidak bisa menyalahkan mereka yang menyebut "Pangsi" untuk keduanya yakni baju dan celana.

Dulu, susunan pangsi buhun tidak dipasang karet, tali, dan saku celana. Selain itu warna samping (9) adalah putih, warna salontreng hitam, dan warna pangsi hitam. Namun karena tuntutan kebutuhan, kini model pangsi sedikit dimodifikasi tanpa menghilangkan arti dan makna filosofi pangsi itu sendiri.

Di bagian salontreng (1) dibuat tanpa kerah baju (2) dan terdiri dari lima atau enam kancing (6). Dalam agama Islam, lima kancing menunjukkan rukun Islam sedangkan enam kancing menunjukkan rukun iman. Jahitan yang menghubungkan badan dan tangan disebut dengan istilah beungkeut (4) yang mengandung arti "Ulah suka-siku ka batur, kudu sabeungkeutan, sauyunan, silih asah, silih asih, silih asuh, kadituna silih wangi, asal kata dari nama kerajaan Sunda Siliwangi". Dalam bahasa Indonesia dapat diartikan "Tidak boleh jahil dan licik kepada sesama, harus satu kesatuan dan kebersamaan dalam ikatan batin, saling memberi nasihat, saling mengasihi, dan saling menyayangi, selanjutnya saling mengharumkan nama baik".

Di ujung tangan (3), di ujung celana (11) terdapat jahitan beungket khusus dan di bagain baju terdapat dua saku (5). Di bagian bawah (pangsi) dipasang karet dan tali yang berfungsi sebagai pengikat. Dulu tidak seperti ini (tanpa tali dan karet) karena pemakaiannya dilakukan dengan cara dibelitkan seperti sarung. Di bagian samping (9) dipasang jahitan pengikat (8). Samping (9) yang dulu berwarna hitam, kini dimodifikasi menjadi warna hitam karena disesuaikan dengan model dan mode pakaian modern. Menurut Kang Curahman, samping mengandung arti "Depe Depe Handap Asor", dalam bahasa Indonesia artinya "Selalu rendah hati dan tidak sombong".

Di bagian bawah (pangsi) terdapat Tangtung (10) yang mengandung makna "Tangtungan Ki Sunda Nyuwu Kana Suja", dalam bahasa Indonesia artinya "Mempunya pendirian yang teguh dan kuat sesuai dengan aturan hidup". Sedangkan Suja atau Nangtung (12) mengandung makna "Nangtung, Jejeg, Ajeg dina Galur. Teu Unggut Kalinduan, Teu Gedag Kaanginan", dalam bahasa Indonesia artinya Teguh dan kuat pendirian dalam aturan dan keyakinan, semangat tinggi dan tidak mudah goyah".

Kini istilah pangsi sering diidentikan dengan dengan baju dan celana warna hitam-hitam, padahal jika dilihat dari bentuk dan susunan jahitannya sangat berbeda. Namun demikian kita tidak bisa menyalahkan orang yang menyebut pangsi dengan istilah pakaian pangsi atau baju pangsi meski sebenarnya pangsi adalah bagian bawah pakaian atau celana, sedangkan bagian atas adalah salontreng.

2. Pangsi Betawi

Pada baju pangsi betawi ini menganut model ngablak atau tanpa kancing dengan jahitan polos, walaupun pada saat ini sudah banyak di buat pangsi betawi yang menggunakan kancing.

Adapun filosofi warna dari pangsi itu menggambarkan siapa yang menggunakan atau apa kedudukannya di dalam masyarakat seperti pangsi warna krem atau putih, dipake oleh jago silat yang juga pemuka agama. Biasanya pesilat yang mengenakan pangsi putih, dulu ngajinya sama engkong haji. Sedangkan warna hitam biasa dipakai para centeng, tapi ada juga yang dipakai kiai. Sementara, pangsi warna merah biasanya diartikan orang yang tinggi ilmu silatnya dan juga agamanya.

Foto by : http://www.orangbetawi.com/

Lebih lanjut Bachtiar (dari Sanggar Si Pitung, Rawabelong ) menjelaskan, “Dulu pangsi dan peci merah dipake oleh jawara atau tukang pukul yang ilmunya sudah tingkat tinggi, atau tukang jalan dan banyak pengalaman. Dalam dunia persilatan Betawi, kalau peci merah sudah turun, itu luar biasa. Ibarat pasukan elit, peci merah seperti tentara dengan baret merah. Artinya, menjadi ujung tombak untuk melakukan perlawanan.”

Ada yang mengatakan, peci dan pangsi merah sebagai simbol darah yang siap berkorban jiwa raganya. “Tapi saat ini pangsi merah dan peci merah hanya sebatas seni, siapa aja boleh pake peci dan warna merah. Seperti peci haji, siapun bisa pake,” tandas Bachtiar.

Soal kain sarung kotak-kotak yang disematkan di leher, yang menjadi bagian dari pangsi, tentunya bukan sekedar pemanis saja. Itu sarung bisa dijadikan senjata untuk mengkepret lawan.
Foto by : http://www.orangbetawi.com/

“Sarung yang kite pake bisa berfungsi untuk melipet senjata lawan seperti golok. Tingkatan ilmu guru ngaji yang jago silat, lawan jika dikepret dengan sarung, bisa-bisa klenger. Bahkan sarung juga bisa mengunci leher lawan. Jadi, bukan sarung sembarang sarung,” ungkap Bachtiar.

Bicara silat Betawi, tidak bisa dilepaskan dari ajaran Islam. Sebab, yang paling utama, sebelum main pukul adalah harus ngaji lebih dulu. “Memahami agama itu penting untuk memfilter dan mengerem kesombongan, lebih mengutamakan akhlak. Setelah punya basic agama, baru belajar main pukul sebagai bela diri. Jika kite tidak sombong, tapi lawan masih usil, maka kite harus bela diri untuk mempertahankan harga diri. Tidak benar, jika jawara Betawi jadi centengnya penguasa,” kata pimpinan Sanggar Si Pitung.

3. Pangsi Melayu

Untuk suku melayu sendiri juga memiliki pakaian sejenis pangsi 

Baju Kurung Teluk Belanga

Foto by : Google.com

Baju ini mula di perkenalkan di Teluk Belanga, Singapura dan tersebar luas sebagai ciri khas Johor khususnya pada abad ke-19. Ia juga dikatakan sejenis pakaian lelaki yang dikatakan telah direka oleh Sultan Abu Bakar pada tahun 1866 untuk meraikan perpindahan ibu negeri Johor dari Teluk Belanga di Singapura ke Johor Bahru. Ia menggabungkan ciri-ciri kebudayaan Melayu, Bugis dan Orang Laut.

Baju Kurung Teluk Belanga mempunyai alas leher berbentuk bulat dan belahan di bagian depan. Pada keliling leher baju dilapisi dengan kain lain dan dijahit "sembat halus" sementara bagian pinggiran bulatannya dijahit "tulang belut halus". Bagian pangkal belahan dibuatkan tempat untuk mengancingkan baju yang disebut "rumah kancing" dengan menggunakan jahitan benang "insang pari".

Potongan lengan baju panjang dan longgar, berkekek sapu tangan atau berkekek gantung. Potongan badan lurus dan mengembang di bagian bawah.

Tata cara pemakaian: Bagi laki-laki, Baju Kurung Teluk Belanga dipakai dengan baju dipakai di luar (menutupi) celana dan kain samping. Baju ini dipakai dengan bagian lehernya dikaitkan dengan satu kancing. Jika kancing yang digunakan diikat dengan sebiji batu maka disebut dengan kancing "garam sebuku". Jika diikat dengan beberapa batu maka disebut sebagai "kunang-kunang sekebun".

sumber :
http://www.orangbetawi.com/2016/08/pangsi-peci-merah-dan-sarungnye-orang-betawi/
http://www.galeri-iket.com/p/filosofi-pangsi-sunda.html
https://id.wikipedia.org/wiki/Baju_kurung

Senin, 05 Februari 2018

Kesenian Pencak Silat Elang Tunggal

Perguruan yang terletak di kawasan kemang Agung kertapati ini selaai in sebagai sarana pelatihan bela diri juga sebagai wadah kesenian pencak silat yang sering di pakai saat ada acara hajatan, kawinan dan lain sebagainya.



Sumber :

Kesenian Pencak Silat Elang Tunggal


Sumber : Youtube

Sabtu, 03 Februari 2018

Ikatan Pencak Silat Bunga Islam



Pada awal berdirinya, nama perguruan ini adalah “Asmaul Haq”. Perguruan ini didirikan oleh K. H. Ahmad Rifa’i Banten. Ilmu yang beliau bawa ini berasal dari Nabiyullah Khidzir as. Awal mulanya yaitu ketika K. H. Ahmad Rifa’i pulang dari menunaikan Ibadah Haji di Makkah Mukarromah dengan naik perahu, bliau didatangi Nabi Khidzir as. dan beliau diajari ilmu “Asmaul Haq”! Pesan dari Nabiyullah Khidzir as. pada beliau ialah supaya mensyiarkan ajaran agama islam dengan kemampuan yang telah diajarkan kepada beliau!
Akhirnya setelah beliau mendarat, beliaupun melaksanakan apa yang telah didapat dari perjalanannya tersebut yaitu disuruh untuk mensyiarkan ajaran agama islam dengan “Asmaul Haq”! PECAHNYA PERGURUAN ASMAUL HAQ Sepeninggal K. H. Ahmad Rifa’i (tidak ada yang menetahui pastinya kapan beliau meninggal dunia), para pewaris Perguruan Asmaul Haq terpecah belah dan murid-murid beliau mendirikan beberapa perguruan antara lain: – Bunga Islam – Asmaul haq – Bintang Surya – Syiar Islam – dan masih banyak lagi yang lainnya.

1. Bunga Islam

Perkumpulan Ikatan Pencak Silat BUNGA ISLAM ( B.I ) Perkumpulan ini telah ada dan berdiri sejak tahun 1986 M. Didirikan oleh K. H. Moh. Jamhari Ghozali Anwar (alm) bertempat di Dusun Baleboto, Madiun. Perkumpulan ini adalah sarana dakwah bagi Almarhum, karena setiap siswa baru yang masuk, selalu dibai’at untuk selalu melaksanakan Syariat Islam (terutama melaksanakan shalat lima waktu), menjauhi segala bentuk kamaksiatan (MOLIMO), tidak melanggar aturan Negara, selalu berbuat dengan akhlakul karimah, serta dituntut untuk selalu ingat kepada Allah SWT.

2. Asmaul Haq

Menurut bahasa Asmaul Haq terdiri dari dua kata asma’dan al-Haq.Asma adalah kata jama’dari ismun yang berarti nama,sedangkan al-Haq adalah benar/ kebenaran,Jadi Asmaul Haq adalah nama-nama kebenaran,atau seluruh asma- asma Allah terkumpul dalam lafadz Allah yang maha benar. Menurut istilah pengertian “Asmaul Haq”adalah suatu amalan dengan membaca lafadz “Allah”,menurut aturan- aturan dan syarat- syarat tertentu menuju Allah.

3. Bintang Surya

PPS Bintang Surya adalah salah satu Pencak Silat yang murni dari leluhur bangsa Indonesia. PPS Bintang Surya bersumberkan pada kepiawaian Syarif Hidayatullh ( Sunan Gunung Jati ) dari cirebon; yang merupakan salah satu wali songo yang mahsyur. Salah satu keturunan ke-3 (generasi ke-4) dari Sunan tersebut yakni Haji Abdullah Umar telah mengajarkan dan menurunkan segala ilmunya dari Sunan Gunung Jati kepada cucunya Raden Pandji. Oleh Raden Pandji, ilmu dari kakeknya teersebut dikembangkan didaerah timur (Surabaya) tahun 1969 dan membentuk Kerukunan Pencak Silat Bintang Surya yang anggota-anggotanya terbatas bagi anggota TNI AL dan Marinir yang berasal dari Jawa Barat. Melihat perkembangan jumlah anggota, Kerukunan Pencak Silat Bintang Surya oleh Raden Pandji didaftarkan ke Dewan Kebudayaan Kodya Surabaya.
Pada tanggal 14 Desember 1973, keluarlah surat ijin dari kantor Dewan Kebudayaan Kodya Surabaya tentang diakuinya keberadaan Kerukunan Pencak Silat Bintang Surya. Semenjak tanggal tersebut berdirilah secara resmi suatu Perguruan Pencak Silat dengan nama Perguruan Ilmu Seni Bela Diri Pencak Silat BINTANG SURYA disingkat menjadi PPS Bintang Surya.
Pada tahun 1978, PPS Bintang Surya didaftarkan ke IPSI Kodya Surabaya dengan nomor induk 04/ IPSI-KMS/1978.

4. Syiar Islam

Perguruan Ilmu Seni Bela Keselamatan Syiar Islam merupakan perguruan yang bernafaskan Syariat Ajaran Agama Islam. Bagi semua pengikut perguruan ini, syarat wajib yang harus dimiliki yaitu mereka wajib beragama Islam! karena sesuai dengan namanya yaitu SYIAR ISLAM dan semua ajarannya juga tentang syariat agama islam.
Awal berdirinya Perguruan Syiar Islam ini bernama Perguruan Ilmu Seni Bela Diri Pencak Silat Syiar Islam, karena para Guru Besar Syiar Islam berpendapat bahwa ilmu yang diajarkan bukan hanya untuk membela diri sendiri, melainkan juga dapat digunakan untuk menolong orang lain yang membutuhkan dan juga untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. maka pada tanggal 12 Desember 2009, nama Perguruan Ilmu Seni Bela Diri Pencak Silat Syiar Islam dirubah menjadi Perguruan Ilmu Seni Bela Keselamatan Syiar Islam.
Sumber : http://ridwansoleh.com/

Kamis, 01 Februari 2018

Perguruan Seni Beladiri Silat Tiga Seketi



Perguruan seni beladiri ini berasal dari daerah pematang panggang kabupaten Ogan Komering Ilir ( OKI ) Sumatera Selatan. Sebelum diajarkan kepada masyarakat umum, silat ini hanya diajarkan kepada keluarga terdekat saja dan belum berbentuk organisasi perguruan, yang mengajarkan silat tersebut adalah Bakas (Kakek) Saidin (alm), tetapi pada perkembangannya pada tahun 2005 dengan inisiatif dari cucu dari Bakas Saidin, maka dikembangkanlah silat ini dan mulai diajarkan kepada masyarakat umum di palembang dibantu dari beberapa orang murid dari Deni (Cucu Bakas Saidin), kemudian dibuatlah nama Perguruan Seni beladiri Silat Tiga Seketi yang diambil dari nama salah satu Ilmu yang diajarkan oleh Bakas Saidin yaitu Ilmu Tiga Seketi. Adapun arti dari Tiga Seketi adalah tiga hal yang sakti didalam kehidupan ini yaitu Iman, Islam, dan Ihsan. Apabila manusia telah memiliki ketiga hal ini maka sempurnalah hidupnya. 


Perguruan seni beladiri tiga seketi ini pada awalnya tidak memeliki jurus-jurus baku, hanya mengunakan langka-langka, sambut buang dan makan artinya hanya diajarkan tentang pembelaan diri saja, tetapi oleh Deni (Cucu Bakas Saidin) dikembangkanlah langkah-langkah tersebut menjadi beberapa Jurus silat yang ada pada Tiga Seketi, yaitu dari jurus 1-13. dari beberapa jurus tersebut ada yang menggunakan tangan kosong, golok, Tembung, selendang/kain dan keris yang telah diajarkan sampai dengan sekarang.

Sumber : http://perguruansilattigaseketial-hikmah.blogspot.co.id/

Rabu, 31 Januari 2018

Cerpen Kuntau



Kuntau


SEMUA bermula ketika tersiar selentingan Tuan Amir Dinajad, guru besar Perguruan Kuntau Harimau Kumbang di Muara Kelingi mengatakan kalau pertandingan akbar kuntau yang akan digelar di sekayu, tiga hari setelah perhelatan Idul Adha tahun ini, akan kembali mereka menangi. Mungkin apabila sebatas itu kata-katanya bersilenting, tak akan membuat panas telinga, tapi ketika diimbuhi bahwa pendekar dari Lereng Bukit Sulap di Lubuklinggau dan Lereng Bukit Siguntang di Palembang yang tahun menduduki tempat kedua dan ketiga juga takkan bisa berbicara banyak, lainlah ceritanya.
Entah bagaimana ceritanya, pengunjung tahun 1939 itu Palembang dan Lubuklinggau duduk bersama di rumah tinggi di Batuurip. Banyak yang mengira kalau dua negeri yang tak terlalu dekat itu akan membicangkan banyak siasat untuk mengusir kompeni, ternyata tidak. Palembang-Lubuklinggau sepakat membuat panji baru atas nama Karasidenan Palembang-Rawas untuk mengikuti perhelatan kuntau terkemuka di Sumatera Bagian Selatan di Sekayu bulan depan.
Para pendekar asal kedua negeri yang terkenal pongah itu pun akhirnya harus dikandangkan di Lereng Bukit Sulap. Ya, para guru besar dari Perguruan Sultan Berani, Musi mengamuk, dan Cakar Macam dari Palembang dan perguruan Harimau-Harimau dan Harimau Maung dari Lubuklinggau bersepakat utuk menyumpal mulut besar Amir Dinajad. Mulanya para pendekar dari kedua negeri mengawali perkenalan dengan kaku sebab mereka merasa memiliki kemampuan kuntau yang sepadan. Namun, tak agungkan nama Tuan Guru Muhammad Amja, guru besar Perguruan Harimau Maung yang diamanahi untuk mengawasi rombongan pendekar muda itu, bila ia tak mampu meleburkan ketegangan dua penjuru yang memiliki sejarah pertandingan kuntau yang saling mengalahkan itu.
“Kalian harus memahami apa hakikat kuntau yang sebenarnya,” ujarnya membuka latihan di hari pertama pertemuan para pendekar di Lereng Bukit Sulap.
“Kuntau bukan sekadar beladiri kebanggaan Sumatera sebagaimana silat. Kuda-kuda kuntau tak pernah menunjukkan nafsu menyerang, tapi menyerap kekuatan lawan untuk kemudian menyaksikan bagaimana lawanmu akan jatuh terhuyung oleh keberingasannya. Kuntau bukan tentang mengalahkan, tapi memenangkan pertarungan di dalam diri sendiri. Bagaimana kalian akan mengalahkan lawan kalau melawan sosok yang paling kalian kenal saja kalian tak mampu. Tahu kalian siapa yang paling kalian kenal? Diri kalian sendiri. Dan tahu kalian siapa diri kalian dalam pertandingan yang akan kita hadapi bulan depan? Perguruan Kuntau Palembang Rawas adalah satu. Adalah diri kalian sendiri. Jadi kalau kalian sibuk dengan kepongahan kalian, tidak usah saja ada penyatuan ini. Kalian tahu apa artinya? Artinya kita membantah titah Sultan di Palembang dan para kepala puak di Lubuklinggau yang telah mengamanahi penyatuan ini. Paham?”
Tak ada suara selain anggukan serempak.
“Lagipula, aku tak ingin melihat pertandingan ini akan menodai hari raya kita karena itu artinya kabar gembira bagi kompeni! Aku tak ingin pertandingan akan menimbun dendam lama dan menumbuhkan permusuhan yang baru. Bakda pertandingan, membaurlah, kecuali keadaan belum memungkinkan.”
Para pendekar itu masih menunduk.
“Tahu kalian arti ‘keadaan belum memungkinkan itu?'”
Masih hening.
“Dan, kita pernah mengalaminya. Ketika Tanjung Bara tewas di tangan Amir Dinajad! Kalian tahu, kami semua mati-amatian menahan amarah demi menghormati pertandingan. Pertandingan nahas itu berlangsung di bulan Syawal, sepekan bakda Idul fitri, sepekan bakda kami berjabat tangan dan berangkulan hangat.
Makin hening.
Sejak itu, tak ada lagi sekat dan jarak. Dua belas pendekar itu latihan dengan giat dalam kumpulan yang selalu dirombak oleh Tanjung Hitam, pendekar muda berusia 20-an yang diamanahi untuk menjadi pendekar pertama yang artinya menjadi ketua rombongan. ia kerap bermusyawarah dengan tuan gurunya untuk taktik terbaik mengalahkan para pendekar dari negeri lain, termasuk dari Perguruan Harimau Kumbang yang memenangi pertandingan lima tahun belakangan.
“Tapi Tanjung…,” Tuan Guru Muhammad Amja menggantungkan kalimatnya di tengah-tengah perbincangan mereka tentang urutan nama petarung, “dalam tiga pekan ini aku melihat kau begitu bersemangat melatih pendekar dari Palembang itu.”
“Abdullah Kasip?”
Tuan Guru mengangguk. “Dia mirip almarhum ayahmu, kan?”
Tanjung Hitam mendongak. 
“… dan dia menunjukkan perkembangan yang sangat bagus,” lanjut Tuan Guru, “tapi… mengapa kau hanya menjadikannya pendekar pengganti?”
“Dia memang bagus, Tuan Guru, tapi belum matang.”
“Apakah masih ada peluang dia masuk senarai utama?”
“Saya akan terus memantau perkembangannya, Tuan Guru.”
“Setiap melihatnya, aku terbayang mendiang ayahmu,” Tuan Guru menerawang, “Si Tanjung Bara bukan hanya tampan tapi juga gagah berani bertarung. Meskipun ia tewas di tangan Amir Dinajad dalam sebuah pertarungan yang panjang, dia akan tetap dikenang sebagai pendekar kuntau kebanggaan kita.”
Sejak itu, Tanjung Hitam tak terlalu rajin melatih Abdullah Kasip. Dan itu menyebakan ia mati-matian bertarung dengan perasaan yang terus membuncah dan bisa meledak kapan saja. Bahkan ia membagi laga para pendekar menjadi empat kumpulan dan memisahkan mereka dalam jarak yang cukup jauh. Kumpulan utama di lereng, kumpulan kedua di tengah, dan kumpulan cadangan yang dihuni Abdullah Kasip terletak di balik bukit atau yang paling jauh dari pondokan ia dan Tuan Guru.
“Apa pertimbangamu dengan pemisahan ini?” Tuan Guru seolah meminta pertanggungjawabannya.
“Ampun, Tuan Guru, saya hanya ingin menguji keterikatan hati antamereka?”
Benar saja, keterikatan hati para pendekar ternyata sangat teruji dengan berbagai siasat latihan yang Tanjung Hitam terapkan. Salah satunya ketika ia  meminta para pendekar untuk menemukan pendekar yang lain di tengah malam dan disaksikan oleh Tuan Guru Muhammad Amja. 
“Aku bangga padamu,” ujar Tuan Guru Muhammad Amja begitu melihat para pendekar bisa terhubung tanpa melihat satu sama lain. “Sejatinya mereka harus berjuang mencari jalan di tengah rimba bukit sebelum menemukan satu sama lain. Dan… mereka seperti melakukan semuanya dengan mata terbuka. Walaupun…,” Tuan Guru melirik Abdullah Kasip dan Nur Sembilah.
Kedua pendekar itu menunduk.
“… Ya, walaupun Nur dan Abdullah tidak berhasil saling menemukan….”
“Ampun Tuan Guru,” Nur Sembilah buka suara. Abdullah Kasip menoleh ke arahnya, “Sejatinya hati saya tertawan pada Tuan Guru seorang dan Zikri Muslim, tapi… seganlah saya mencari Tuan Guru sementara Zikri sudah bertemu Alum Merah.”
Tuan Guru Muhammad Amja mengangguk-angguk, “Aku serahkan keputusan pada pemimpin kumpulan ini.” Ia menoleh ke arah Tanjung Hitam, “Nah kau… Abdullah Kasip?”
Abdullah Kasip menunduk.
“Jangan mentang-mentang Tanjung Hitam memberimu perhatian lebih kau menjauh dari keakraban kumpulan ini.”
Tanjung Hitam meneguk liur. Sungguh ia tak enak hati mendengar kata-kata tuan gurunya.
“Pula…,” lanjut Tuan Guru, “Kau tampaknya lebih banyak merenung beberapa hari ini.”
Abdullah Kasip makin menunduk. “Kita bertarung dengan jurus, bukan tenaga dalam. Paham kau?”
Abdullah Kasip mengangguk tanpa berani mendongak. 
“Sebagai hukumannya, hingga menjelang hari pertandingan nanti kau harus mengikuti latihan keras dengan Tanjung Hitam.”
Tanjung Hitam ingin mengatakan sesuatu tapi tertahan.
“Tanjung, aku akan meninggalkan perkumpulan ini beberapa hari.”
Ada senyum yang mekar serta-merta dari bibir dua orang pendekar itu. Sebuah siasat memalukan sudah berputar-putar di kepala. 
***
HARI pertarungan pun tiba. Tanjung Hitam tampil prima sebagai pendekar pertama dari lima partai digelar. Sementara Abdullah Kasip dan Nur Semilah bersetia duduk di bangku pengganti. Dan… setelah menumbangkan Perguruan Tepak Sireh dari Selangt, Karasidenan Palembang-Rawas pun akan betemu dengan Perguruan Harimau Kumbang di pertarungan puncak.
Sebuah kecelakaan kecil sempat menguncang Karasidenan Palembang-Rawas ketika kaki kanan Ismail Lebut terkilir. Namun, perkara itu tidak sampai tersiar ke perkumpulan Muara Kelingi ketika Tanjung Hitam menggantinya dengan Nur Sembilah. Tapi, tidak itu saja guncangannya. Secara mengejutkan Tuan Guru Muhammad Amja mengganti Tanjung Hitam dengan dirinya.
“Ampun Tuan Guru,” Tanjung Hitam angkat suara. “Saya tahu kalau di partai puncak, setiap guru besar akan mengambil satu partai, tapi mengapa tak disilakan saya membalaskan dendam mendiang ayah?”
Tuan guru Muhammad Amja tersenyum dan menepuk pundak Tanjung Hitam, “Kau akan mengerti, Pendekar Hebat!”
Dan, sejarah pun tercipta. Untuk pertama kalinya dalam lima tahun terakhir, Tuan Guru Amir Dinajad membawa pulang para pendekarnya dengan muka tertunduk.
Keesokan harinya, bakda subuh, para pendekar dari Palembang sudah dijemput rombongan kerajaan untuk kembali.
“Tak bisakah biarkan kami bersama dalam beberapa hari atau sepekan ini, Tuan Guru?” pinta Tanjung Hitam, “Saya pikir para pendekar lain pun sepakat dengan apa yang saya utarakan.”
“Kenapa?” suara Tuan Guru terdengar dingin.
“Adalah tak mudah meleburkan dua belas pendekar dengan kepongahan masing-masing hingga akhirnya kami sedekat ini, Tuan Guru.”
Tuan Guru Muhammad Amja mengangguk-angguk. “Bagaimana?” tanyanya pada Tuan Guru Sultan Pucuk yang baru tiba dari Palembang.
“Kami ke sini tentu saja untuk menjemput mereka sebagaimana titah Sultan, tapi… kami percayakan semuanya pada kau Muhammad Amja,” ujarnya dengan wajah semringah, “Kalau kau menerima usulan Tanjung Hitam, aku akan memberi pengertian pada kerajaan. Hitung-hitung sebagai hadiah kemenangan mereka.”
Kedua belas pendekar memasan wajah bahagia. Sungguh, mereka tak ingin dipisahkan dengan begitu segera setelah sebulan kebersamaan yang hangat. 
“Kompeni sedang gencar-gencarnya menyerang,” lanjut Tuan Guru Muhammad Amja, “Apa kata Tuhan dan malaikat-Nya kalau kita merayakan kemenangan di tengah gemuruh perang yang berkecamuk.”
Hening.
“Saya harap tak ada lagi yang membantah!” suara Tuan Guru Muhammad Amja terdengar menggelegar, “Semua pendekar dari Palembang lekas ke stasiun dan semua pendekar dari Lubuklinggau kusilakan mengantar dengan kuda, kecuali Tanjung Hitam!”
***
TUAN Guru Muhammad Amja membuat Tanjung Hitam berlutut dan menangis sejadi-jadinya.
“Aku masih bisa memaafkan kau yang terlalu menjaga Abdullah Kasip agar ia tak cedera sebab ia mengingatkanmu pada mendiang ayahmu. tapi, aku tak bisa memaafkan percintaan kalian di pondokan ketika aku pura-pura pamit meninggalkan latihan. Seorang yang tak lagi lurus macam kau takkan mampu membalaskan dendammu pada Amir Dinajad selama wajah Abdullah Kasip masih berkelebatan di dalam kepalamu. Kusarankan, tinggalkanlah kuntau ini. Dan enyahlah dari hadapan kami sebelum Idul Adha tiba. Ke mana saja kau akan mengembara, aku tak peduli. Dan kau… tak perlu menceritakan hukuman ini pada siapa pun. Karena bukan iba yang akan kau dapat. Paham kau?” ***

Lubuklinggau, September 2015

Benny Arnas tinggal di Lubuklinggau. Tengah mempersiapkan kelahiran dua buku barunya akhir tahun ini: Tanjung Luka (novel, GPU) dan Eric Stockholm & Perselingkuhan-Perselingkuhan yang Lain (kumpulan cerita, Mizan).
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Benny Arnas
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Jawa Pos” Minggu 25 Oktober 2015

Sumber : https://klipingsastra.wordpress.com/
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...