CANTUMKAN SUMBERNYA JIKA MENGGUNAKAN GAMBAR ATAU ARTIKEL DARI BLOG INI - HORMATI HAK CIPTA ORANG LAIN.

Rabu, 31 Januari 2018

Cerpen Kuntau



Kuntau


SEMUA bermula ketika tersiar selentingan Tuan Amir Dinajad, guru besar Perguruan Kuntau Harimau Kumbang di Muara Kelingi mengatakan kalau pertandingan akbar kuntau yang akan digelar di sekayu, tiga hari setelah perhelatan Idul Adha tahun ini, akan kembali mereka menangi. Mungkin apabila sebatas itu kata-katanya bersilenting, tak akan membuat panas telinga, tapi ketika diimbuhi bahwa pendekar dari Lereng Bukit Sulap di Lubuklinggau dan Lereng Bukit Siguntang di Palembang yang tahun menduduki tempat kedua dan ketiga juga takkan bisa berbicara banyak, lainlah ceritanya.
Entah bagaimana ceritanya, pengunjung tahun 1939 itu Palembang dan Lubuklinggau duduk bersama di rumah tinggi di Batuurip. Banyak yang mengira kalau dua negeri yang tak terlalu dekat itu akan membicangkan banyak siasat untuk mengusir kompeni, ternyata tidak. Palembang-Lubuklinggau sepakat membuat panji baru atas nama Karasidenan Palembang-Rawas untuk mengikuti perhelatan kuntau terkemuka di Sumatera Bagian Selatan di Sekayu bulan depan.
Para pendekar asal kedua negeri yang terkenal pongah itu pun akhirnya harus dikandangkan di Lereng Bukit Sulap. Ya, para guru besar dari Perguruan Sultan Berani, Musi mengamuk, dan Cakar Macam dari Palembang dan perguruan Harimau-Harimau dan Harimau Maung dari Lubuklinggau bersepakat utuk menyumpal mulut besar Amir Dinajad. Mulanya para pendekar dari kedua negeri mengawali perkenalan dengan kaku sebab mereka merasa memiliki kemampuan kuntau yang sepadan. Namun, tak agungkan nama Tuan Guru Muhammad Amja, guru besar Perguruan Harimau Maung yang diamanahi untuk mengawasi rombongan pendekar muda itu, bila ia tak mampu meleburkan ketegangan dua penjuru yang memiliki sejarah pertandingan kuntau yang saling mengalahkan itu.
“Kalian harus memahami apa hakikat kuntau yang sebenarnya,” ujarnya membuka latihan di hari pertama pertemuan para pendekar di Lereng Bukit Sulap.
“Kuntau bukan sekadar beladiri kebanggaan Sumatera sebagaimana silat. Kuda-kuda kuntau tak pernah menunjukkan nafsu menyerang, tapi menyerap kekuatan lawan untuk kemudian menyaksikan bagaimana lawanmu akan jatuh terhuyung oleh keberingasannya. Kuntau bukan tentang mengalahkan, tapi memenangkan pertarungan di dalam diri sendiri. Bagaimana kalian akan mengalahkan lawan kalau melawan sosok yang paling kalian kenal saja kalian tak mampu. Tahu kalian siapa yang paling kalian kenal? Diri kalian sendiri. Dan tahu kalian siapa diri kalian dalam pertandingan yang akan kita hadapi bulan depan? Perguruan Kuntau Palembang Rawas adalah satu. Adalah diri kalian sendiri. Jadi kalau kalian sibuk dengan kepongahan kalian, tidak usah saja ada penyatuan ini. Kalian tahu apa artinya? Artinya kita membantah titah Sultan di Palembang dan para kepala puak di Lubuklinggau yang telah mengamanahi penyatuan ini. Paham?”
Tak ada suara selain anggukan serempak.
“Lagipula, aku tak ingin melihat pertandingan ini akan menodai hari raya kita karena itu artinya kabar gembira bagi kompeni! Aku tak ingin pertandingan akan menimbun dendam lama dan menumbuhkan permusuhan yang baru. Bakda pertandingan, membaurlah, kecuali keadaan belum memungkinkan.”
Para pendekar itu masih menunduk.
“Tahu kalian arti ‘keadaan belum memungkinkan itu?'”
Masih hening.
“Dan, kita pernah mengalaminya. Ketika Tanjung Bara tewas di tangan Amir Dinajad! Kalian tahu, kami semua mati-amatian menahan amarah demi menghormati pertandingan. Pertandingan nahas itu berlangsung di bulan Syawal, sepekan bakda Idul fitri, sepekan bakda kami berjabat tangan dan berangkulan hangat.
Makin hening.
Sejak itu, tak ada lagi sekat dan jarak. Dua belas pendekar itu latihan dengan giat dalam kumpulan yang selalu dirombak oleh Tanjung Hitam, pendekar muda berusia 20-an yang diamanahi untuk menjadi pendekar pertama yang artinya menjadi ketua rombongan. ia kerap bermusyawarah dengan tuan gurunya untuk taktik terbaik mengalahkan para pendekar dari negeri lain, termasuk dari Perguruan Harimau Kumbang yang memenangi pertandingan lima tahun belakangan.
“Tapi Tanjung…,” Tuan Guru Muhammad Amja menggantungkan kalimatnya di tengah-tengah perbincangan mereka tentang urutan nama petarung, “dalam tiga pekan ini aku melihat kau begitu bersemangat melatih pendekar dari Palembang itu.”
“Abdullah Kasip?”
Tuan Guru mengangguk. “Dia mirip almarhum ayahmu, kan?”
Tanjung Hitam mendongak. 
“… dan dia menunjukkan perkembangan yang sangat bagus,” lanjut Tuan Guru, “tapi… mengapa kau hanya menjadikannya pendekar pengganti?”
“Dia memang bagus, Tuan Guru, tapi belum matang.”
“Apakah masih ada peluang dia masuk senarai utama?”
“Saya akan terus memantau perkembangannya, Tuan Guru.”
“Setiap melihatnya, aku terbayang mendiang ayahmu,” Tuan Guru menerawang, “Si Tanjung Bara bukan hanya tampan tapi juga gagah berani bertarung. Meskipun ia tewas di tangan Amir Dinajad dalam sebuah pertarungan yang panjang, dia akan tetap dikenang sebagai pendekar kuntau kebanggaan kita.”
Sejak itu, Tanjung Hitam tak terlalu rajin melatih Abdullah Kasip. Dan itu menyebakan ia mati-matian bertarung dengan perasaan yang terus membuncah dan bisa meledak kapan saja. Bahkan ia membagi laga para pendekar menjadi empat kumpulan dan memisahkan mereka dalam jarak yang cukup jauh. Kumpulan utama di lereng, kumpulan kedua di tengah, dan kumpulan cadangan yang dihuni Abdullah Kasip terletak di balik bukit atau yang paling jauh dari pondokan ia dan Tuan Guru.
“Apa pertimbangamu dengan pemisahan ini?” Tuan Guru seolah meminta pertanggungjawabannya.
“Ampun, Tuan Guru, saya hanya ingin menguji keterikatan hati antamereka?”
Benar saja, keterikatan hati para pendekar ternyata sangat teruji dengan berbagai siasat latihan yang Tanjung Hitam terapkan. Salah satunya ketika ia  meminta para pendekar untuk menemukan pendekar yang lain di tengah malam dan disaksikan oleh Tuan Guru Muhammad Amja. 
“Aku bangga padamu,” ujar Tuan Guru Muhammad Amja begitu melihat para pendekar bisa terhubung tanpa melihat satu sama lain. “Sejatinya mereka harus berjuang mencari jalan di tengah rimba bukit sebelum menemukan satu sama lain. Dan… mereka seperti melakukan semuanya dengan mata terbuka. Walaupun…,” Tuan Guru melirik Abdullah Kasip dan Nur Sembilah.
Kedua pendekar itu menunduk.
“… Ya, walaupun Nur dan Abdullah tidak berhasil saling menemukan….”
“Ampun Tuan Guru,” Nur Sembilah buka suara. Abdullah Kasip menoleh ke arahnya, “Sejatinya hati saya tertawan pada Tuan Guru seorang dan Zikri Muslim, tapi… seganlah saya mencari Tuan Guru sementara Zikri sudah bertemu Alum Merah.”
Tuan Guru Muhammad Amja mengangguk-angguk, “Aku serahkan keputusan pada pemimpin kumpulan ini.” Ia menoleh ke arah Tanjung Hitam, “Nah kau… Abdullah Kasip?”
Abdullah Kasip menunduk.
“Jangan mentang-mentang Tanjung Hitam memberimu perhatian lebih kau menjauh dari keakraban kumpulan ini.”
Tanjung Hitam meneguk liur. Sungguh ia tak enak hati mendengar kata-kata tuan gurunya.
“Pula…,” lanjut Tuan Guru, “Kau tampaknya lebih banyak merenung beberapa hari ini.”
Abdullah Kasip makin menunduk. “Kita bertarung dengan jurus, bukan tenaga dalam. Paham kau?”
Abdullah Kasip mengangguk tanpa berani mendongak. 
“Sebagai hukumannya, hingga menjelang hari pertandingan nanti kau harus mengikuti latihan keras dengan Tanjung Hitam.”
Tanjung Hitam ingin mengatakan sesuatu tapi tertahan.
“Tanjung, aku akan meninggalkan perkumpulan ini beberapa hari.”
Ada senyum yang mekar serta-merta dari bibir dua orang pendekar itu. Sebuah siasat memalukan sudah berputar-putar di kepala. 
***
HARI pertarungan pun tiba. Tanjung Hitam tampil prima sebagai pendekar pertama dari lima partai digelar. Sementara Abdullah Kasip dan Nur Semilah bersetia duduk di bangku pengganti. Dan… setelah menumbangkan Perguruan Tepak Sireh dari Selangt, Karasidenan Palembang-Rawas pun akan betemu dengan Perguruan Harimau Kumbang di pertarungan puncak.
Sebuah kecelakaan kecil sempat menguncang Karasidenan Palembang-Rawas ketika kaki kanan Ismail Lebut terkilir. Namun, perkara itu tidak sampai tersiar ke perkumpulan Muara Kelingi ketika Tanjung Hitam menggantinya dengan Nur Sembilah. Tapi, tidak itu saja guncangannya. Secara mengejutkan Tuan Guru Muhammad Amja mengganti Tanjung Hitam dengan dirinya.
“Ampun Tuan Guru,” Tanjung Hitam angkat suara. “Saya tahu kalau di partai puncak, setiap guru besar akan mengambil satu partai, tapi mengapa tak disilakan saya membalaskan dendam mendiang ayah?”
Tuan guru Muhammad Amja tersenyum dan menepuk pundak Tanjung Hitam, “Kau akan mengerti, Pendekar Hebat!”
Dan, sejarah pun tercipta. Untuk pertama kalinya dalam lima tahun terakhir, Tuan Guru Amir Dinajad membawa pulang para pendekarnya dengan muka tertunduk.
Keesokan harinya, bakda subuh, para pendekar dari Palembang sudah dijemput rombongan kerajaan untuk kembali.
“Tak bisakah biarkan kami bersama dalam beberapa hari atau sepekan ini, Tuan Guru?” pinta Tanjung Hitam, “Saya pikir para pendekar lain pun sepakat dengan apa yang saya utarakan.”
“Kenapa?” suara Tuan Guru terdengar dingin.
“Adalah tak mudah meleburkan dua belas pendekar dengan kepongahan masing-masing hingga akhirnya kami sedekat ini, Tuan Guru.”
Tuan Guru Muhammad Amja mengangguk-angguk. “Bagaimana?” tanyanya pada Tuan Guru Sultan Pucuk yang baru tiba dari Palembang.
“Kami ke sini tentu saja untuk menjemput mereka sebagaimana titah Sultan, tapi… kami percayakan semuanya pada kau Muhammad Amja,” ujarnya dengan wajah semringah, “Kalau kau menerima usulan Tanjung Hitam, aku akan memberi pengertian pada kerajaan. Hitung-hitung sebagai hadiah kemenangan mereka.”
Kedua belas pendekar memasan wajah bahagia. Sungguh, mereka tak ingin dipisahkan dengan begitu segera setelah sebulan kebersamaan yang hangat. 
“Kompeni sedang gencar-gencarnya menyerang,” lanjut Tuan Guru Muhammad Amja, “Apa kata Tuhan dan malaikat-Nya kalau kita merayakan kemenangan di tengah gemuruh perang yang berkecamuk.”
Hening.
“Saya harap tak ada lagi yang membantah!” suara Tuan Guru Muhammad Amja terdengar menggelegar, “Semua pendekar dari Palembang lekas ke stasiun dan semua pendekar dari Lubuklinggau kusilakan mengantar dengan kuda, kecuali Tanjung Hitam!”
***
TUAN Guru Muhammad Amja membuat Tanjung Hitam berlutut dan menangis sejadi-jadinya.
“Aku masih bisa memaafkan kau yang terlalu menjaga Abdullah Kasip agar ia tak cedera sebab ia mengingatkanmu pada mendiang ayahmu. tapi, aku tak bisa memaafkan percintaan kalian di pondokan ketika aku pura-pura pamit meninggalkan latihan. Seorang yang tak lagi lurus macam kau takkan mampu membalaskan dendammu pada Amir Dinajad selama wajah Abdullah Kasip masih berkelebatan di dalam kepalamu. Kusarankan, tinggalkanlah kuntau ini. Dan enyahlah dari hadapan kami sebelum Idul Adha tiba. Ke mana saja kau akan mengembara, aku tak peduli. Dan kau… tak perlu menceritakan hukuman ini pada siapa pun. Karena bukan iba yang akan kau dapat. Paham kau?” ***

Lubuklinggau, September 2015

Benny Arnas tinggal di Lubuklinggau. Tengah mempersiapkan kelahiran dua buku barunya akhir tahun ini: Tanjung Luka (novel, GPU) dan Eric Stockholm & Perselingkuhan-Perselingkuhan yang Lain (kumpulan cerita, Mizan).
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Benny Arnas
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Jawa Pos” Minggu 25 Oktober 2015

Sumber : https://klipingsastra.wordpress.com/

Senin, 29 Januari 2018

Persaudaraan Pencak Silat "SIALANG AGUNG" Aliran Kuntau Si Usin

Seni Beladiri diri pencak silat ini pertama kali di  perkenalkan Oleh Bapak Husin Ahmad di Desa Kayu Are Kabupaten Musi Banyuasin

Provinsi Sumatera Selatan pada tahun 1954 sampai tahun 1974 yang dikenal dengan nama PALKAR (Palembang Kayu Are). Kemudian Bapak Husin Ahmad pada tahun 1966 pindah ke Palembang maka kegiatan Pencak Silat di Desa Kayu Are terhenti.

https://senisilatkuntausialangagung.blogspot.co.id/

Aliran Pencak Silat (kuntau) yang saat ini berkembang merupakan ciptaan dari Bapak Husin Ahmad sendiri, yang mana telah beliau ramu sedimikian rupa dari 7 (tujuh) orang Guru beliau yang bernama : Zainuri, Cemong, Asla,Ate,Muin,Tjik Usin dan Sastro sehingga lahirlah Aliran Pencak Silat ini,dengan nama Aliran Si Usin.

Inti dari gerakan Aliran Si Usin adalah 12 pola langkah (jurus gerakan)  yang terdiri dari :

4 (Empat) Kuda-kuda Atas
2 (Dua) Kuda-kuda dua jari dari atas tanah 
2 (Dua) Kuda-kuda merapat ke tanah   
4 (Empat) Senjata yang terdiri dari : Pisau, cabang , tembung , tad dan gundun. Dll
        
Dalam perkembangan Aliran Si usin di Palembang pada tahun 1984 terbentuklah "Persaudaraan Pencak Silat Lebah Sakti atas prakarsa dan mufakat Zawawi Cik Molek, Sultoni, Mahadhy, Azhari, M.Yamin dan Romli Usman Dan pada tahun 1989 dimasukkan jurus tenaga dalam oleh M.Yamin  Abdullah Dan Djufri Amajid.

Guna mengembangkan Aliran Si Usin, Pada tanggal 1 januari 2017 Pukul 00.00 wib Atas kesepakatan ahli waris Bapak Husin Ahmad yaitu Irwansyah Husin Dan Faiza. menindaklanjuti dari pertemuan ahli ahli waris maka diadakan pertemuan di Jalan Pembangunan RT.02 Rw.09 Nomor 2094/05 kelurahan Siring Agung Kecamatan Ilir Barat I Kota Palembang yang Di Hadiri Para Murid yaitu Anda Kurnia, Anda Hidayat, M.Iqbal Rosidi Zain, Ahmad Roni , Kunaidi , Fauzi, M. Haris, Farid Wajdy, Ali Nurdin, Alfariza, Khairul Akrobi, Dedi Hendra Dan Ali Rahman maka dibentuklah Persaudaraan Pencak Silat "SIALANG AGUNG" Aliran Kuntau Si Usin di singkat (PPSL"SA" AKSI) sebagai pengembangan dari Aliran Kuntau Si Usin.


Dalam ajaran  PPSL"SA"AKSI Mengambil Ciri Khas asli dari peninggalan Bapak Husin Ahmad  baik Kembang, Bunga, Pola Dan Langkah sehingga dari 12 (Dua belas) pola langkah (Jurus Gerakan) akan di kembang menjadi 13( Tiga Belas) Kembang (tari) Dan 7(tujuh Langkah (Gerakan) Yaitu Tendangan , Pukulan, Tangkisan, Elakan/Hindaran,Sapuan, Guntingan, Sambut Buang Makan, Makan Buang Sambut, Kuncian, Bukaan Kunciaan, Bantingan, Begulung di tanah serta Sawai tanggam Ciri Khas Persaudaraan Pencak SIlat Sialang Agung Aliran Kuntau Si Usin Adalah Salam Tanggam.

Persaudaraan Pencak Silat Sialang Agung Aliran Kuntau si Usin dan di kukuhkan oleh IPSI Kota Palembang pada tanggal 21 Agustus 2017 , di mana sebelumnya Persaudaraan Pencak Silat Sialang Agung Aliran Kuntau si Usin merupakan satu akar dengan Pencak Silat Lebah sakti dengan aliran kuntau Palkar si Husin.


Sumber : https://senisilatkuntausialangagung.blogspot.co.id/
                https://www.facebook.com/sayyid.fariz

Jumat, 26 Januari 2018

Perkumpulan Himssi Generasi Penerus (GP)

HIMSSI GP baru diresmikan 21 Agustus 2017, sebagai perguruan baru di Kota Palembang, yang dipelopori oleh Drs H M Akib, MSi, Inspektur Dua (Purna Polri) Helmi Yoga, dan Adi Apriyansyah, SSos melalui deklarasi pada 2 Oktober 2016, di padepokan HIMSSI GP Mato Merah Palembang sekalian pendeklarasian pengurus besar (PB) Himssi GP.


Pengurus Himssi GP dan deklarasi di padepokan serang Mata Merah - http://palembang.tribunnews.com/

Perguruan pencak silat asal Sumsel ini, resmi menerima SK (Surat Keputusan) Kemekumham (Kementrian Hukum dan HAM) sebagai organisasi legal dan berhak mengenakan atribut perguruan.

SK ditandatangani Direktur Jenderal Administrasi Hukum Umum, Dr Freddy Harris SH LLM ACCS tertanggal 11 April, bahwa perkumpulan Himssi Generasi Penerus disingkat Himssi GP berkedudukan di Palembang sesuai akta Nomor 26, 23 Maret 2017 yang dibuat Mulkan Rasuwan SH.

http://palembang.tribunnews.com/

Perguruan yang masih memiliki ikatan satu akar dengan Himssi e-sa ini sudah memiliki 4 pengprov dan juga akan fokus dalam pembentukan 16 komisariat di kota Palembang.

Dirangkum dari berbagai sumber : http://palembang.tribunnews.com/

Rabu, 24 Januari 2018

Kuntau: Seni Bela Diri Khas Sumatera Selatan

Ilustrasi silat kuntau credit foto ; www.kamerabudaya.com

Kuntau merupakan seni bela diri tradisional khas milik daerah Palembang dan Sumatera Selatan. Seni bela diri tradisional ini diperkirakan sudah ada sejak zaman Kesultanan Palembang Darussalam. Pada masa penjajahan, mereka yang memiliki keahlian Kuntau dipersenjatai dengan besi bercabang, pisau bermata dua, dan balok untuk bertempur melawan musuh yang hendak menindas masyarakat dan merebut wilayah yang mereka diami. Dengan menguasai seni bela diri Kuntau ini diharapkan selain dapat meningkatkan perilaku rajin dalam beribadah, juga dapat mengendalikan nafsu serta amarahnya.

Seni bela diri tradisional Kuntau diyakini dapat membentuk kepribadian seseorang untuk selalu rendah hati, tidak sombong, dan mampu meminimalkan keributan. Katanya walau hanya dipelajari dalam beberapa bulan, seni bela diri tradisional Kuntau tidak hanya dikenal dapat menjatuhkan lawan, tetapi juga dapat mematikan lawannya, meskipun penyerangan terhadap lawan dilakukan dalam keadaan gelap tanpa ada bantuan cahaya.

Gerakan-gerakan seni bela diri tradisional Kuntau dianggap unik, tidak sekedar mengedepankan keindahan gerakan-gerakan semata, tetapi disesuaikan dengan jalan alam dan sangat dahsyat serta bertenaga. Dengan adanya kemampuan masyarakat Palembang menguasai seni bela diri tradisional Kuntau, Kesultanan Palembang bersama masyarakat mampu angkat senjata melawan penjajah. Mereka tidak takut walaupun penjajah memiliki senjata yang lebih lengkap dan modern.

Menurut K. Anwar Beck, seniman Palembang, seni bela diri tradisional Kuntau ini dibawa oleh para imigran yang datang dari Cina dan berprofesi di antaranya sebagai pedagang, buruh, dan profesi lainnya. Mereka datang ke Palembang di saat berkuasanya Kesultanan Palembang Darussalam. Ada juga yang berpendapat bahwa seni bela diri tradisional Kuntau awalnya dibawa ke Asia oleh para wali atau ulama besar dari Timur Tengah.

Secara harfiah seni bela diri tradisional Kuntau berasal dari kata kûn-thâu (bahasa Hokkien) yang berarti “jalan kepalan,” atau lebih tepatnya diterjemahkan sebagai “pertempuran seni,” yaitu seni bela diri yang diciptakan oleh komunitas Tionghoa di Asia Tenggara, khususnya di daerah Kepulauan Melayu. Ada juga yang menganggap Kuntau berasal dari perkataan “Kun” yang memiliki arti “Jadi” dan “Tau” yang memiliki arti isyarat. Adapun ciri khas pakaian yang digunakan untuk berlatih seni bela diri tradisional Kuntau adalah dengan memakai pakaian berwarna serba hitam mulai dari baju, celana panjang sampai ikat kepala.

Seni bela diri tradisional Kuntau yang terkenal di wilayah Sumatera Selatan di antaranya Kuntau Sebalik yang berasal dari desa Sebalik, Tanjung Lago, Banyuasin; Kuntau Pisau Due yang berasal dari Suku Semende. Di Empat Lawang, seni bela diri tradisional Kuntau merupakan ilmu bela diri yang menjadikan salah satu kebudayaan dalam mempererat tali persaudaraan, membela dan menjaga diri dari serangan musuh. Selain di Sumatera Selatan, seni bela diri tradisional Kuntau juga ditemukan di tanah Kalimantan (khususnya Kalimantan Selatan) maupun luar negeri seperti negara Filipina, Malaysia, dan Singapura. Di Filipina sendiri, seni bela diri tradisional ini disebut dengan nama Kuntao.

Dalam perkembangannya, seni bela diri tradisional Kuntau disesuaikan dengan budaya lokal yang terdapat di sekitar. Banyak teknik seni bela diri tradisional Kuntau yang memasukan unsur dari teknik seni bela diri silat atau gabungan antara Kuntau dengan silat. Bahkan ada yang menyebut gabungan seni bela diri tersebut dengan istilah Kuntau-Silat. Di daerah lain juga terdapat seni bela diri tradisional yang mirip dengan Kuntau, tetapi memiliki nama yang lain seperti Kun Tao Lo Ban Teng yang dikembangkan oleh Siauw Gok Bu Koan (Betawi).

Saat ini perkembangan seni bela diri tradisional Kuntau sangat memprihatinkan. Seni bela diri Kuntau mulai redup dan rata-rata hanya digemari oleh kalangan orang tua. Tidak banyak daerah di Sumatera Selatan, khususnya Kota Palembang yang masih melestarikan seni bela diri tradisional Kuntau. Salah satu wilayah yang masih rutin mempelajari seni bela diri tradisional Kuntau terdapat di daerah kawasan Kelurahan 22 Ilir dan Kelurahan 19 Ilir Palembang. Kegiatan demonstrasi yang dilakukan untuk mengenalkan seni bela diri tradisional Kuntau sebagai warisan leluhur yang berasal dari daerah Palembang di depan umum maupun pada acara seremonial masyarakat sangat rendah sekali. Kalaupun ada, hanya tampil di saat perayaan kemerdekaan.

Sebuah cerita yang patut direnungkan ketika seorang pemuda dari Jawa Timur yang merantau ke Belitung (OKU Timur) pada tahun 1991 yang tertarik dengan seni bela diri tradisional Kuntau. Dia mencari informasi tentang keberadaan seni bela diri tradisional Kuntau di wilayah tersebut, tetapi yang didapatnya hanya ucapan bahwa belajar seni bela diri tradisional Kuntau dianggap ribet dan tidak sembarangan pula ilmu Kuntau yang diturunkan. Seni bela diri tradisional Kuntau hanya dapat diwariskan kepada para keturunan pilihan.

Selain itu, ada yang mengatakan, “Mereka tidak berminat untuk meneruskan seni bela diri tradisional tersebut yang dikuasai oleh kakeknya.” Pemuda Jawa Timur itu baru terpenuhi keinginannya untuk melihat seni bela diri tradisional Kuntau 10 tahun kemudian dengan melihat gerakan seni bela diri tradisional Kuntau dari seorang pemuda Komering. Jurus atau teknik yang ditampilkan sangat ringkas dan praktis. Terdapat 12 jurus atau teknik yang digabungkan dalam satu “tarian” seni bela diri tradisional Kuntau. Akan tetapi pemuda tersebut tidak dapat mengajarkan seni bela diri tradisional Kuntaunya karena terikat janji dengan guru Kuntaunya.

Seni bela diri tradisional Kuntau sekarang ini hanya sebatas peninggalan leluhur dan mereka tidak pernah tahu jurus atau teknik seni bela diri tradisional Kuntau yang ditinggalkan orangtua maupun kakeknya yang dalam sejarahnya menjadi “jawara” seni bela diri tradisional Kuntau di daerahnya. Sebagai pecinta budaya luhur di negeri ini, sudah selayaknya kita menyelamatkan seni bela diri tradisional Kuntau sebagai peninggalan yang adiluhung dari kepunahan.

Jika masih ditemukan seorang pendekar seni bela diri tradisional Kuntau sudah selayaknya ilmu seni bela diri tradisional yang dikuasai itu diajarkan kepada generasi muda dengan berbagai cara maupun dalam bentuk apapun. Sebagai langkah dalam melestarikan seni bela diri tradisional Kuntau, tidak ada salahnya mempertimbangkan seni bela diri tradisional Kuntau untuk dijadikan sebagai salah satu mata pelajaran muatan lokal di sekolah. Peserta didik sudah seharusnya ikut mengetahui sejarah panjang seni bela diri tradisional Kuntau yang merupakan salah satu warisan leluhur Sumatera Selatan.

Bahan bacaan:


Penulis:
Noperman Subhi, Guru PPKn SMA PGRI 5 Palembang & Dosen luar biasa di Akademi Bina Bahari. Kontak: nopermansubhi(at)gmail(dot)com.

Sabtu, 20 Januari 2018

Info Tempat & Jadwal Latihan Pencak Silat di Palembang dan Sekitarnya Update 2018

 Nama Perguruan

Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT)

 Sekrtariat :

Jl. Purwosari II No. 024-025 RT.049 RW.010 Kel. Bukit Sangkal Kec. Kalidoni Palembang


Tempat Latihan :
SMP 52 Talang Kelapa, SMP 64 Sukarami, Panca usaha dan beberapa tempat lainnya

Jadwal latihan :
pagi Minggu/sore dan pada malam-malam yang telah di tentukan jadwalnya

Contac person :
Daryono/Panca Suoro - 08127101964


Perguruan Seni Bela Diri Tapak Suci Putera Muhammadiyah (TS)

Sekrtariat :

Kampus Universitas Muhammadiyah Palembang Jl. A Yani Plaju Palembang


Tempat Latihan :
Di lembaga pendidikan Muhammadiyah di Palembang, Man 3 & IAIN Raden Fatah Km 3.5, MTS 1 dan beberapa tempat lainnya.

Jadwal latihan :
pagi Minggu/sore dan pada malam-malam yang telah di tentukan jadwalnya.

Website: http://tapaksucipalembang.blogspot.co.id/

Keluarga Silat Nasional Indonesia Perisai Diri (PD)

 Cabang Palembang :

Halaman kantor satpam Pintu Gerbang I PT Pusri, Jl. Mayor Zen, Palembang

Tempat latihan lainnya :
Pertamina UP III, Poltekes Gigi, CV Raihan, Polres Palembang, SMKN 3 , SMP YKPP 1, SMPN 30, SMPN 16 Palembang beberapa tempat lainnya.

Jadwal latihan :

Minggu 07.30 & dan pada hari/-malam yang telah di tentukan jadwalnya

Contac person :

Sugeng Hariadi  - +62 813 73483618


Perguruan Silat Tunas Harapan

 Tempat latihan :
Masjid Baitul Karim Prumnas Tlg Kelapa Blok VII Tlg kelapa, Sekolah Farmasi Sekip Bendung.

Jadwal latihan :
Latihan Minggu Pagi 08:00-10:00

Contac person :
Bpk. Alimuddin -  0852-67922765

Perguruan Pencak Silat Naga Mas

 Sekretariat :
Jl Sayangan Lr Ketandan 17 Ilir Depan Pasar Buah Temenggung Palembang., SMAN 15

Tempat Latihan lainnya :
SMAN 15 dan beberapa tempat lainya

Contac person :
Bapak AK Zailani - 0852-67081869


Perguruan Silat Dikapasita

 Sekretariat & Tempat latihan :
Jl. KH A Wahid Hasyim Lr. Terusan 1 RT:41 RW:11 No.1655/1666 5 Ulu darat Kertapati Palembang 30254

Tempat Latihan lainnya :

SMP NU Plaju

Jadwal latihan :
Malam selasa, malam minggu dan minggu pagi


Contac person : Bpk Slamet - 0813-67618755


Perguruan Silat Lebah Sakti

 Sekretariat :
Jln Sosial KM 5

Tempat latihan lainnya :
Bukit Sangkal depan perumahan PLN, SMPN 22 , Jl Pembangunan Pakjo, KM 8 Samping Trakindo, MTS 2 Pakjo , Univ PGRI Palembang, Bangka dan beberapa tempat lainnya.

Jadwal latihan :
Latihan Minggu Pagi 08:00-10:00


Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...