CANTUMKAN SUMBERNYA JIKA MENGGUNAKAN GAMBAR ATAU ARTIKEL DARI BLOG INI - HORMATI HAK CIPTA ORANG LAIN.

Rabu, 10 Januari 2018

Kuntau Sammaniyah


Pencak Silat / Kuntau Palembang yang di dirikan oleh Ustad Kemas Andi Syarifudin yang sekaligus merupakan pengasuh majelis ratib samman yang rutin di laksanakan pada setiap malam Rabu di masjid Agung SMB II Palembang.

Ustad Kemas Andi Syarifudin sudah di kenal memiliki kemampuan ilmu agama dan pencak silat di mana pada postingan sebelumnya beliau memaparkan tentang sanad pencak silat yang beliau pelajari ( baca : Sanad Pencak Palembang ), dan dari akun FB beliau pula banyak admin banyak mendapatkan informasi seputar sejarah pencak, senjata dan lain sebagainya.

Adapun tempat latihan di halaman masjid Agung SMB II Palembang


==================================================================

Pencak Kraton Palembang: Alat Perjuangan Melawan Belanda, Redup dan Bangkit Akibat Politik Etis


Palembang, BP–SENI beladiri Pencak Kraton Palembang memiliki sejarah dan perkembangan yang panjang. Dalam perjalanannya Pencak Keraton Palembang menjadi alat perjuangan untuk melawan kolonial Belanda oleh para penjuang dari Kesultanan Palembang Darussalam. Namun setelah Kesultanan Palembang dihapuskan oleh pemerintah Kolonial Belanda.

Setelah itu kejayaan Pencak Kraton Palembang menjadi redup dan sempat dilarang diperagakan di muka umum oleh pemerintah Kolonial Belanda yang saat itu menguasai Palembang. Kejayaan Pencak Kraton Palembang kembali bangkit setelah Belanda menerapkan politik etis atau politik balas budi. Sayang hingga kini perkembangan Pencak Kraton belum signifikan dan hanya sebagai simbol budaya di kota Palembang yang dimunculkan di acara-acara tertentu saja.

Dalam catatan sejarah Politik etis atau politik balas budi adalah suatu pemikiran yang menyatakan bahwa pemerintah kolonial memegang tanggung jawab moral bagi kesejahteraan pribumi. Pemikiran ini merupakan kritik terhadap politik tanam paksa.

Kegiatan di Masjid Ki Merogan
Kraton Palembang tempo dulu

Munculnya kaum etis yang dipelopori oleh Pieter Brooshooft (wartawan Koran De Locomotief) dan C.Th. van Deventer (politikus) ternyata membuka mata pemerintah kolonial untuk lebih memperhatikan nasib para pribumi Dalam yang terbelakang.
Pada 17 September 1901, Ratu Wilhelmina yang baru naik tahta menegaskan dalam pidato pembukaan Parlemen Belanda, bahwa pemerintah Belanda mempunyai panggilan moral dan hutang budi (een eerschuld) terhadap bangsa pribumi di Hindia Belanda. Ratu Wilhelmina menuangkan panggilan moral tersebut ke dalam kebijakan politik etis, yang terangkum dalam program Trias Van deventer yang meliputi:

1. Irigasi (pengairan), membangun dan memperbaiki pengairan-pengairan dan bendungan untuk keperluan pertanian.
2. Emigrasi yakni mengajak penduduk untuk bertransmigrasi.
3. Edukasi yakni memperluas dalam bidang pengajaran dan pendidikan.

Banyak pihak menghubungkan kebijakan baru politik Belanda ini dengan pemikiran dan tulisan-tulisan Van Deventer yang diterbitkan beberapa waktu sebelumnya, sehingga Van Deventer kemudian dikenal sebagai pencetus politik etis ini.

Kebijakan pertama dan kedua disalahgunakan oleh Pemerintah Belanda dengan membangun irigasi untuk perkebunan-perkebunan Belanda dan emigrasi dilakukan dengan memindahkan penduduk ke daerah perkebunan Belanda untuk dijadikan pekerja rodi. Hanya pendidikan yang berarti bagi bangsa Indonesia.

Pengaruh politik etis dalam bidang pengajaran dan pendidikan sangat berperan dalam pengembangan dan perluasan dunia pendidikan dan pengajaran di Hindia Belanda. Salah seorang dari kelompok etis yang sangat berjasa dalam bidang ini adalah Mr. J.H. Abendanon (1852-1925), seorang Menteri Kebudayaan, Agama, dan Kerajinan selama lima tahun (1900-1905). Sejak tahun 1900 inilah berdiri sekolah-sekolah, baik untuk kaum priyayi maupun rakyat biasa yang hampir merata di daerah-daerah.

Sementara itu, dalam masyarakat telah terjadi semacam pertukaran mental antara orang-orang Belanda dan orang-orang pribumi. Kalangan pendukung politik etis merasa prihatin terhadap pribumi yang mendapatkan diskriminasi sosial-budaya.

Untuk mencapai tujuan tersebut, mereka berusaha menyadarkan kaum pribumi agar melepaskan diri dari belenggu feodal dan mengembangkan diri menurut model Barat, yang mencakup proses emansipasi dan menuntut pendidikan ke arah swadaya termasuk kebebasan untuk menampilkan seni bela diri Pencak Kraton Palembang dimuka umum.
Pencak Silat merupakan salah satu warisan budaya asli dari nenek moyang kita, setiap daerah di tanah air sudah barang tentu memiliki beragam seni beladiri tradisional ini. Termasuk di Palembang, baik sejak zaman Kedatuan Sriwijaya hingga Kesultanan Palembang Darussalam.

Secara umum pencak silat sendiri merupakan sejumlah gerak gerik dan langkah budaya dengan gaya yang indah dan harmonis yang bertujuan sebagai pembelaan diri dan disertai dengan penyerangan pada lawan.

Sifatnya adalah secara ksatria menjaga kehormatan diri, keadilan dan kebenaran, sebagaimana yang dianjurkan oleh Rasul Saw. Sejatinya ilmu pencak silat ini perlu sekali dipelajari oleh kaum wanita dan pria. Pada intinya, pencak silat ini didalamnya mencakup 4 aspek, yaitu: olahraga, seni, beladiri, dan kerohanian atau pembinaan mental spiritual.

Di Palembang terdapat dua aliran besar pencak silat, yaitu Pencak Keraton dan Kuntau. Pencak Keraton adalah pencak asli Keraton Kesultanan Palembang Darussalam yang hanya khusus dapat dipelajari oleh kalangan bangsawan Palembang.

Sedangkan Kuntau boleh untuk umum, dipelajari oleh siapa saja, yg merupakan seni beladiri warisan masa lampau.


Ustad Kemas Andi Syarifudin dan para Murid
Dalam perkembangannya Kuntau mendapat pula pengaruh dari asing, terutama dari Cina (Kuntau = ilmu pukulan) malahan Kuntau sudah ada sejak zaman Kerajaan Sriwijaya.
Pada zaman Kesultanan Palembang Darussalam, Sultan Mahmud Badaruddin mempunyai satu kebiasaan, yaitu menyelenggarakan perlombaan antar pemuda pemudi dari anggota keluarga beliau maupun kalangan masyarakat umum dalam berbagai bidang ketangkasan dan kecakapan.

Diantaranya adalah perlombaan ketangkasan dalam cabang-cabang kesenian, termasuk pencak silat, seni ukir, bidar, dan ketangkasan senjata lainnya. Sultan sangatlah kagum didalam kompetisi tersebut, karena itu Sultan berkenan memberikan hadiah kepada sang jawara yang berhasil dalam perlombaan tersebut gelar menurut kedudukan mereka dalam masyarakat, seperti gelar Tumenggung dan seterusnya sampai Pangeran, disertai bingkisan-bingkisan yg menarik.

Adapun para Guru Besar Pencak Silat di zaman Kesultanan Palembang adalah antara lain Pangeran Ratu Purbaya Abubakar bin Sultan Muhammad Mansur, Pangeran Mangkubumi Nembing Kapal, Puteri Ratu Emas Tumenggung Bagus Kuning Pangluku, Ki Demang Kecek, Syekh Abdus Somad al-Palembani, Panglima Laskar Jihad dengan Zikir Ratib Sammannya.

Dimasa kolonial, Pencak Keraton Palembang bernaung dalam wadah organisasi “Priyai Fonds” dan “Persatuan Priayi Palembang” dengan guru besarnya R. Abdul Hamid Ternate (w.1969).

Untuk senjata, masih mempergunakan peralatan senjata asli tradisional perguruan silat pd masa silam, yaitu Keris, Pedang, Piso Duo, Besi Cabang, Tombak berambu, Cangka Unak, Tombak Cagak, Tembung berantai, Tongkat, Kundur, Tameng, Kepalan Cengkeh, Tembung, Sampang basah, TAT 16 dan Lading.

Menurut salah satu guru Pencak Kraton, Kms H Andi Syarifuddin mengatakan, Pencak Kraton Palembang memang budaya asli dari Palembang sejak zaman Kesultanan Palembang Darussalam, maka Pencak Kraton Palembang ada ciri khas berbeda dengan pencak silat biasa dan kuntaw.

“Sebelum zaman Pangeran Purbawa sudah ada Pencak Kraton Palembang tersebut tapi Pencak Kraton Palembang berkembang pesat zaman Purbawa,Sampai sekarang tari, gerakannya masih asli dan dipertahankan hingga sekarang dan tidak ditambah-tambah , tidak di modifikasi,” kata Andi, Minggu (27/8).

Untuk Pencak Kraton Palembang gerakannya menurut pengamat sejarah kota Palembang ini, memiliki 9 gerakan tangan kosong dan ditambah senjata-sejata seperti pisau dua, pedang , besi cabang, tombak, pisau ada 16 jenis senjata tradisional .
“Pencak Kraton Palembang ini sempat dilarang pemerintah kolonial Palembang dimana jika berkumpul lima orang saja maka Belanda akan langsung tangkap, kebijakan itu terjadi saat keruntuhan Kesultanan Palembang Darussalam,” katanya.

Walaupun demikian, Pencak Kraton tetap di mainakn dan dilestarikan namun tidak secara terang-terangan .

“Setelah awal abad 21 ada gerakan sumpah pemuda dan sebagainya dan Belanda mengubah taktik untuk merangkul kaum pribumi dengan melakukan politik balas budi dimana diberikan kesempatan salah satunya Pencak Keraton Palembang bisa dimainkan di tempat umum,” katanya.

Selain itu Pencak Kraton masuk dalam Priyayi Pond (1929) setelah Sumpah Pemuda tahun 1928. Diakuinya, kalau Pencak Kraton Palembang zaman kesultanan Palembang Darussakan menjadi alat perlawanan kepada pemerintah Belanda termasuk dalam perang Palembang atau perang Menteng itu yang dimotori para suhada yang ahli bela diri terutama Pencak Kraton Palembang.

Kegiatan di BKB

“ Jadi kalau bukan Palembang asli, tidak bisa mempelajari Pencak Kraton Palembang ini, beda dengan Kuntau kalau Kuntau memang untuk seluruh kalangan, kalau Pencak Kraton Palembang harus orang Palembang asli, paling tidak yang bergelar, Raden, Masagus, Kemas, Kiagus yang bisa mempelajarinya, “ ujarnya.
Dia mengakui, kalau perkembangan Pencak Kraton Palembang tidak berkembang pesat karena yang mempelajarinya harus orang Palembang asli.
“Karena seni bela diri Pencak Kraton Palembang ini membawa nama Kraton jadi tidak bisa sembarang orang kecuali dia pencak silat sudah di modifikasi dan di campur boleh diajarkan orang lain dan siapa saja, “ ujarnya.
Karena itu menurutnya, Pencak Kraton Palembang ini itidak diperlombakan walaupun tergabung dalam Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI) tidak di lombakan di IPSI karena untuk menjaga tradisi yaitu budaya Palembang.
“ Pencak Kraton Palembang muncul saat pertunjukan-pertunjukkan saja seperti menyambut tamu agung,” katanya.# Dudy Oskandar  - http://beritapagi.co.id/

Foto : FB Andi Syarifuddin Kemas

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...